Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Setiap Porsi Menyelamatkan Kehidupan: Kisah Kevin Gani dan Garda Pangan

Selasa, 18 November 2025

Suatu siang yang terik, di sebuah gang kecil di Joyoboyo, seorang nenek berdiri memandangi kotak makanan yang dibawa relawan Garda Pangan. Tubuhnya ringkih, bajunya lusuh, dan di matanya terpantul kelelahan panjang. Ketika uluran bantuan itu sampai ke tangannya, ia meraih… bukan piring, bukan mangkuk melainkan sebuah gayung plastik bekas.

Warnanya telah memudar, pegangan kecilnya retak di satu sisi. Gayung itu ia angkat dengan dua tangan, seperti memegang benda paling berharga yang dimilikinya.
“Ini yang saya pakai sehari-hari,” ujarnya lirih, seolah meminta maaf atas hidup yang terpaksa dijalani.

Bagi Kevin Gani, pendiri Garda Pangan, pemandangan itu bukan sekadar adegan yang menyentuh hati, akan tetapi itu adalah pukulan. Ia datang membawa makanan layak, hasil surplus dari tempat-tempat yang berkelebihan, tetapi disambut simbol kemiskinan paling telanjang, seseorang yang bahkan tak punya wadah untuk menerima rezeki. 

Di hadapannya, gayung kusam itu menjelma menjadi metafora yang sangat jujur tentang jurang yang memisahkan mereka yang memiliki segalanya dan mereka yang tak punya apa-apa.

Pertemuan-pertemuan seperti inilah yang kemudian mendorong Kevin mendirikan Garda Pangan pada tahun 2017, sebuah organisasi sosial yang berfokus pada penyelamatan makanan berlebih yang masih layak konsumsi untuk disalurkan kepada masyarakat prasejahtera, termasuk para lansia seperti sang nenek.

Kontras itu semakin perih ketika angka-angka mulai bicara. Bappenas mencatat Indonesia menghasilkan 48 juta ton sisa makanan setiap tahun angka yang mencengangkan untuk sebuah negara yang masih berjuang mengatasi kemiskinan. Ketua Umum IGC Ria Musiawan bahkan menegaskan, dalam peringatan Hari Gastronomi Berkelanjutan 2025, bahwa Indonesia kini menjadi penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia.

Di panggung global, FAO menampilkan gambaran tak kalah gelap.Lebih dari 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun, setara sepertiga produksi pangan dunia. Angka-angka itu berubah menjadi bayangan tumpukan pangan membusuk, aroma limbah yang menyesakkan, dan di sisi lain seorang nenek yang menadahkan gayung plastik demi sesuap makan.

Pada persimpangan dua realitas itulah, kita dipaksa menatap diri sendiri. Apa arti kemajuan, jika di balik gedung-gedung megah masih ada manusia yang hidup dari sisa makanan orang lain? Apa arti modernitas, jika kelaparan dan pemborosan berjalan berdampingan?

Kisah nenek di Joyoboyo bukan hanya cerita tentang kemiskinan. Ia adalah pengingat yang menampar bahwa jurang antara yang berlebih dan yang berkekurangan bukan lagi sekadar ketimpangan sosial. Itu sudah menjadi jurang kemanusiaan. Jurang yang hanya bisa kita jembatani bila mulai peduli pada satu hal sederhana: jangan biarkan makanan terbuang, ketika masih ada manusia yang kelaparan.

Negara Penuh Pangan, Namun Rawan Sampah

Di Indonesia, makanan melimpah. Dari sawah ke pasar, dari padi hingga sayuran, meja-meja kita seolah tak pernah kekurangan. Tapi di balik kemewahan itu, ada kenyataan pahit: setiap tahun, 23–48 juta ton makanan dibuang begitu saja. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerita tentang pemborosan, limbah, dan manusia yang masih kelaparan.

Bayangkan sebutir nasi yang membusuk di TPA. Di sana, ia berubah menjadi gas metana, 28 kali lebih kuat dalam memanaskan bumi dibanding karbon dioksida. Gas ini diam-diam menumpuk, menjadi “bom waktu” bagi iklim dan kesehatan manusia. Tragedi Leuwigajah di Cimahi pada 21 Februari 2005 menjadi bukti nyata: longsoran sampah menewaskan 157 orang, menghancurkan dua desa, meninggalkan duka mendalam, dan menjadi pengingat setiap tahun melalui Hari Peduli Sampah Nasional.

Sementara itu, banyak balita Indonesia masih menelan kenyataan pahit lain: kekurangan gizi. Data Riskesdas 2018 mencatat 13,8 persen balita kurang gizi, 3,9 persen menderita gizi buruk, dan lebih dari sepertiga rumah tangga masih mengandalkan bantuan beras miskin untuk bertahan hidup. Kontras ini menegaskan satu hal: pemborosan makanan bukan sekadar masalah lingkungan. Ini masalah kemanusiaan.

Upaya pemerintah ada, peraturan ada, namun implementasinya masih jauh dari kata cukup. Sampah organik dilarang masuk TPA di beberapa daerah, tetapi kenyataannya, kesadaran masyarakat dan pengawasan masih lemah. Masalah ini tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi nyata antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat—dari kota hingga desa—agar sampah makanan bisa dikelola, bukan hanya jadi wacana.

Solusinya ada di tangan kita semua. Edukasi tentang dampak limbah makanan, inovasi pengolahan sampah organik, hingga penegakan hukum yang konsisten bisa menjadi awal perubahan. Setiap tindakan kecil, dari memilah sisa makanan di rumah hingga mendukung program pengelolaan sampah, dapat mengubah pola konsumsi. Lebih dari itu, bisa menyelamatkan sumber daya, lingkungan, dan yang terpenting nyawa manusia.

Karena di negeri yang kaya akan pangan ini, tidak ada satu butir nasi pun yang seharusnya sia-sia. 

Garda Pangan Hadir Menjadi Oase di Tengah Banyaknya Makanan Terbuang

Potret limbah makanan di Indonesia juga terlihat di Surabaya, di mana banyak makanan tersisa berakhir di tempat sampah. Namun, bagi sebagian orang, satu porsi makanan bisa menyelamatkan hari mereka. Kevin Gani menyadari hal ini setelah bertemu seorang nenek prasejahtera di Joyoboyo yang tidak memiliki piring dan harus berbagi makanan dengan kucingnya. Pemandangan itu meninggalkan kesan mendalam: di balik limbah makanan, ada kehidupan yang bergantung pada sisa makanan.

Kejadian itu membuat Kevin memandang isu sampah makanan lebih luas. Membuang makanan bukan sekadar kehilangan bahan pangan, tetapi juga menyia-nyiakan air, energi, dan tenaga petani yang menanamnya. Bagi Kevin, menyia-nyiakan makanan berarti menyia-nyiakan kehidupan itu sendiri.

Dari kesadaran tersebut, Garda Pangan lahir pada Juni 2017. Sebagai social enterprise dan food bank perintis, Garda Pangan menjadi pusat koordinasi makanan surplus dan berpotensi terbuang. 

Dan hingga saat ini, Garda Pangan telah menyelamatkan lebih dari 600 ribu porsi makanan untuk sekitar 28 ribu penerima manfaat. Setiap porsi yang terselamatkan bukan sekadar angka, tetapi cerita kehidupan yang terselamatkan, tenaga yang dihargai, dan sumber daya alam yang dilindungi. 

Tiga Pilar Garda Pangan, Ciptakan Solusi Berdampak Nyata

Kevin selalu merasa bahwa masalah sampah makanan bukanlah hal sederhana. Setiap hari, jutaan ton makanan layak konsumsi justru terbuang sia-sia di Indonesia, sementara masih banyak keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dasar mereka. Baginya, permasalahan ini kompleks dan tidak bisa diselesaikan dengan satu solusi tunggal. Dari kesadaran itulah lahirlah Garda Pangan, food bank pionir di Jawa Timur yang mencoba menghadirkan solusi holistik, menggabungkan kepedulian sosial, lingkungan, dan ekonomi dalam satu misi yang terpadu.

Kevin percaya bahwa makanan bukan sekadar kebutuhan dasar, tapi juga simbol kepedulian. Dengan pendekatan yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat, Garda Pangan berusaha memastikan bahwa setiap makanan yang masih layak pakai tidak hanya terselamatkan, tapi juga membawa manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan bumi.

Food Rescue: (Penyelamatan Makanan Surplus)

Di Garda Pangan, salah satu gerakan paling menonjol adalah Food Rescue. Di sini, makanan berlebih bukanlah sampah. Setiap hari, tim relawan yang disebut “Food Heroes” bergerak dengan semangat untuk menyelamatkan makanan yang masih layak dikonsumsi. Mereka menjalin kerja sama dengan hotel, restoran, katering, hingga penyelenggara acara pernikahan, membangun jaringan kebaikan yang tersebar di seluruh kota.

Gerakan ini bukan sekadar menjemput makanan; setiap langkah dirancang untuk memberikan dampak nyata. Makanan yang dikumpulkan disortir, diperiksa kualitasnya, dan dikemas ulang dengan standar higienis sebelum didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan: keluarga prasejahtera, lansia, anak-anak di panti asuhan, dan komunitas rentan.

Dampak nyata dari gerakan ini terlihat jelas. Misalnya, setiap hari ratusan porsi makanan tersalurkan ke tangan mereka yang membutuhkan. Bukan hanya mengurangi kelaparan, tetapi juga mencegah jutaan kilogram makanan layak konsumsi terbuang sia-sia. Lebih dari itu, gerakan Food Rescue juga membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya mengurangi sampah makanan. Kevin selalu menekankan bahwa Food Rescue bukan hanya soal memberi makanan, tetapi juga soal membangun budaya kepedulian: satu aksi kecil bisa menghasilkan perubahan besar dalam kehidupan banyak orang.

Gleaning (Mengumpulkan Sisa Panenan)

Selain Food Rescue, Garda Pangan juga menurunkan perhatian ke hulu rantai pangan, yaitu di lahan pertanian. Melalui program Gleaning, relawan turun langsung ke kebun dan ladang untuk menyelamatkan hasil panen yang berisiko terbuang.

Gleaning memanfaatkan sisa panen yang biasanya ditinggalkan oleh petani karena alasan produksi atau harga yang anjlok. Dengan membeli atau mengambil panen berlebih ini, Garda Pangan tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memberikan dukungan ekonomi langsung kepada petani. Program ini membantu petani mendapatkan penghasilan tambahan dan mendorong keberlanjutan usaha mereka, sekaligus mengajarkan bahwa setiap buah dan sayur memiliki nilai, bukan sekadar angka di pasar.

Dampak nyata dari program ini juga terasa. Petani yang sebelumnya khawatir dengan panen berlebih kini memiliki kesempatan untuk menjual hasilnya, sementara masyarakat yang kekurangan pangan mendapatkan sayur dan buah segar. Dari kebun ke meja makan, setiap langkah Gleaning mengurangi sampah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Food Drive (Penggalangan Makanan Berlebih)

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya, tradisi, dan keyakinan. Beragam perayaan dan hari besar di tanah air hampir selalu menghadirkan makanan dalam jumlah melimpah. Namun, di balik sukacita perayaan tersebut, sering kali muncul masalah yang kurang terlihat: makanan yang berlebihan berisiko menjadi sampah jika tidak dikelola dengan baik.

Menanggapi hal ini, Garda Pangan hadir dengan inisiatif food drive, yaitu program pengumpulan donasi makanan surplus pada momen-momen tertentu. Program ini tidak hanya membantu memanfaatkan makanan yang masih layak konsumsi, tetapi juga meringankan beban mereka yang membutuhkan. Contohnya, pasca perayaan Idul Fitri, banyak kue kering yang tersisa dari rumah-rumah warga, atau saat terjadi bencana alam di mana masyarakat memerlukan bantuan pangan segera.

Pengumpulan donasi ini dilakukan secara fleksibel. Garda Pangan menyiapkan drop point di berbagai lokasi strategis di Surabaya, memudahkan masyarakat untuk menitipkan donasi. Selain itu, relawan juga bersedia menjemput langsung donasi dari pihak yang ingin berpartisipasi, sehingga setiap makanan yang masih layak pakai dapat tersalurkan dengan cepat dan aman.

Melalui inisiatif ini, Garda Pangan tidak hanya mengurangi potensi limbah makanan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial di tengah masyarakat: bahwa berbagi makanan surplus bisa menjadi bentuk kepedulian nyata dan berdampak langsung bagi mereka yang membutuhkan.

Mengubah Kesadaran Menjadi Aksi

Kisah Garda Pangan bukan sekadar tentang menyelamatkan makanan. Ia adalah tentang mengubah kesadaran menjadi aksi nyata, tentang bagaimana satu gerakan bisa memberikan dampak yang terasa luas bagi masyarakat dan lingkungan.

Kevin percaya bahwa solusi masalah pangan harus holistik tidak hanya menyasar mereka yang kelaparan, tetapi juga mendukung petani, mengurangi limbah, dan membangun ekonomi berkelanjutan. Dengan tiga pilar ini, Garda Pangan menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil: satu makanan yang diselamatkan, satu panen yang tidak terbuang, satu inovasi bioekonomi yang ramah lingkungan.

Lebih dari itu, Garda Pangan juga menginspirasi masyarakat untuk ikut peduli. Dari relawan, mitra restoran, hingga masyarakat penerima manfaat, semua menjadi bagian dari ekosistem kebaikan yang saling menguatkan. Kisah ini membuktikan bahwa ketika empati bertemu dengan aksi dan inovasi, dampaknya bisa nyata dan luas.

Kevin sering menutup ceritanya dengan satu pesan sederhana tapi kuat: “Setiap makanan yang kita selamatkan adalah satu kehidupan yang lebih baik, satu bumi yang lebih hijau, dan satu masyarakat yang lebih peduli.”

Bukti Nyata dari Perjuangan Tanpa Henti


Sejak mendirikan Garda Pangan, langkahnya tidak pernah mudah. Food bank adalah konsep yang masih sangat baru di Indonesia. Banyak yang belum mengerti mengapa makanan yang masih layak konsumsi justru dibagikan secara gratis. Kevin harus sabar menjelaskan, meyakinkan, dan membangun kepercayaan dengan petani, toko, restoran, hingga masyarakat luas. Setiap pertemuan adalah perjuangan, tapi juga harapan.

Setiap hari, tantangan datang dalam bentuk waktu dan kondisi makanan. Makanan segar harus diselamatkan dan didistribusikan dengan cepat. Jika terlambat satu jam saja, makanan bisa rusak. Setiap kotak sayuran, setiap buah, adalah perjuangan melawan waktu. Kevin dan timnya bekerja seperti detektif logistik, merencanakan rute, memastikan suhu makanan terjaga, dan memprioritaskan siapa yang harus menerima terlebih dahulu.

Tidak hanya soal distribusi, Kevin juga menghadapi persoalan hasil panen yang dianggap “tidak sempurna.” Banyak petani yang frustasi karena sebagian besar panennya harus dibuang. Di sinilah Kevin melihat peluang. Ia mengajak para petani bekerja sama, mengumpulkan hasil panen yang masih layak makan, dan memastikan semuanya cepat sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Dalam prosesnya, petani merasa dihargai, makanan tidak terbuang, dan masyarakat yang kekurangan mendapatkan bantuan.

Semangat Kevin tidak berhenti pada pengumpulan makanan. Ia juga membangun komunitas. Lebih dari 1.500 relawan muda, yang dikenal sebagai Food Heroes, bergerak bersamanya. Mereka menjadi ujung tombak perubahan, dari kota hingga desa, membawa porsi makanan yang diselamatkan ke keluarga, panti asuhan, hingga lembaga sosial. Kevin tidak hanya menyelamatkan makanan, tapi juga menumbuhkan rasa empati dan kepedulian dalam diri para relawan.

Hingga tahun 2025, hasilnya luar biasa. Garda Pangan berhasil menyelamatkan dan mendistribusikan lebih dari 600.000 porsi makanan, menjangkau sekitar 28.000 penerima manfaat di Jawa Timur. Setiap angka bukan sekadar statistik, tapi cerita tentang kehidupan yang tersentuh, perut yang kenyang, dan harapan yang muncul kembali.

Dedikasi Kevin juga mendapat pengakuan nasional. Ia menerima ASTRA SATU Indonesia Awards, apresiasi bagi generasi yang berkontribusi menciptakan kehidupan berkelanjutan. Penghargaan ini bukan hanya tanda prestasi, tapi bukti nyata bahwa empati yang diubah menjadi aksi mampu menggerakkan perubahan besar dalam masyarakat.

Namun, tantangan Kevin tidak berhenti di situ. Ia terus memikirkan cara memperluas jangkauan layanan, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengurangi limbah makanan, dan membangun kemitraan yang berkelanjutan. Kevin tahu, perubahan yang besar lahir dari konsistensi dan kerja sama, bukan hanya dari satu orang atau satu inisiatif.

Meski perjalanan ini penuh rintangan, satu hal pasti: semangat Kevin untuk menyelamatkan makanan dan memberi harapan kepada mereka yang membutuhkan tidak pernah padam. Setiap porsi yang terselamatkan adalah bukti nyata bahwa satu orang, dengan tekad dan hati yang besar, bisa mengubah dunia, sedikit demi sedikit.

Dan di balik semua angka, statistik, dan penghargaan, yang paling penting bagi Kevin adalah melihat senyum seorang anak yang akhirnya mendapat makanan layak, atau seorang petani yang merasa hasil panennya dihargai. Dari situlah, Kevin terus maju, karena ia tahu: setiap makanan yang diselamatkan adalah hidup yang terselamatkan juga.


Coffee Morning Teknologi Pendidikan 2024, Sharing Pengalaman Alumni TP UNNES sebagai Pengembang Media Pembelajaran

Jumat, 30 Agustus 2024


Coffee Morning merupakan agenda memperkenalkan prodi Teknologi Pendidikan baik dari sisi akademik, berupa konsentrasi (Kurikulum dan Pengembang Teknologi Pembelajaran), dan prospek kerja lulusan prodi Teknologi Pendidikan, maupun non akademik. 


Disamping itu, agenda ini juga bertujuan untuk menjalin dan mempererat tali persaudaraan warga prodi Teknologi Pendidikan, dan membantu mahasiswa baru dalam menambah wawasan tentang jurusan yang mereka pilih saat ini.


Kegiatan ini merupakan sarana berkumpul bersama antar mahasiswa terutama mahasiwa baru, dosen Teknologi Pendidikan dan lingkungan sekitar untuk menjalin, mempererat tali persaudaraan, serta meningkatkan rasa cinta terhadap prodi Teknologi Pendidikan, kebersamaan, kepedulian, kasih sayang, dan empati serta rasa syukur. 


Coffee Morning inilah sarana untuk mencari wawasan lebih luas mengenai prodi Teknologi Pendidikan. Acara ini akan dilaksanakan dengan  mengusung tema “A Cup of Coffee Inspiration to Start Success with Educational Technology”.




Achmad Muslichun, alumni Program Studi Teknologi Pendidikan (TP) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang, membagikan kisah suksesnya sebagai pengembang media pembelajaran kepada mahasiswa baru TP UNNES. 


Cerita ini disampaikan pada acara Coffee Morning yang berlangsung di aula dekanat FIPP, lantai 3, pada Senin, 26 Agustus 2024. Ichun, yang juga merupakan Co-Founder e-guru.id, memotivasi para mahasiswa yang memulai kuliah semester gasal 2024/2025 untuk mengejar kesuksesan melalui karya mereka.


Ichun, sapaan akrabnya, mulai aktif dalam bidang ini sejak semester 5 dan memilih fokus pada pengembangan teknologi pendidikan, khususnya media pembelajaran. Ia menekankan bahwa lulusan TP tidak hanya terbatas pada karir sebagai PNS atau posisi lain yang umum, tetapi terdapat banyak peluang di luar sana. 


"Lulusan TP memiliki banyak opsi selain menjadi PNS. Peluang di luar sana sangat luas," ujar Ichun yang juga penerima beasiswa LPDP untuk S2 Teknologi Pendidikan UNS.


Dalam menjalankan perannya sebagai pengembang media pembelajaran, Ichun menyebutkan bahwa ia tidak harus menguasai seluruh materi pembelajaran secara mendalam. Sebaliknya, ia dapat berkolaborasi dengan mahasiswa dari program studi lain yang memiliki keahlian di bidang materi tersebut. 


"Yang penting adalah bagaimana kita menyusun bahan ajar menjadi media pembelajaran yang menarik dan efektif," tambahnya.


Ichun juga membagikan beberapa kiat sukses di usia muda yang telah membantunya mencapai prestasi. Pertama, ia menekankan pentingnya memulai lebih awal dan mengambil inisiatif sejak masa kuliah. 



"Jangan tunggu sampai lulus untuk mulai berkarya. Manfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk mengembangkan keterampilan dan jaringan profesional," ujarnya. 


Kedua, Ichun menyoroti pentingnya berkolaborasi dan membangun hubungan dengan berbagai pihak. 


"Berbagai pandangan dan keahlian dari orang lain dapat memperkaya karya kita. Jangan ragu untuk bekerja sama dengan teman dari disiplin ilmu lain," tambahnya.


Ketiga, Ichun menyarankan untuk tetap konsisten dan tekun dalam mengejar tujuan. 


"Ketekunan dan semangat yang tinggi adalah kunci untuk menghadapi berbagai tantangan. Teruslah belajar dan beradaptasi dengan perubahan," ungkapnya.


Berkat dedikasinya dalam bidang ini, Ichun telah berhasil meraih berbagai prestasi, termasuk menjuarai kompetisi di berbagai kampus di berbagai provinsi, mulai dari Jawa Tengah, Yogyakarta hingga Aceh. Ia menyampaikan pesan kepada mahasiswa TP agar tidak perlu khawatir tentang masa depan setelah lulus. Dengan kompetensi yang diperoleh selama belajar di TP, banyak peluang yang dapat dimanfaatkan.


Ichun juga telah membuktikan kemampuannya melalui pencapaian signifikan, termasuk pengumpulan 7 Hak Kekayaan Intelektual. 5 dibidang media pembelajaran dan 2 di bidang bisnis kewirausahaan / startup. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk memanfaatkan potensi dan peluang yang ada di bidang teknologi pendidikan.

Dari Limbah Tekstil Menjadi Ladang Rezeki: Kisah Inspiratif Rifaul Zamzami

Kamis, 15 Agustus 2024

Di tengah menumpuknya limbah tekstil dari pabrik sarung terkenal di Pekalongan, Rifaul Zamzami melihat peluang emas. Limbah yang sebelumnya dianggap tak berguna, di tangannya disulap menjadi produk bernilai ekonomis tinggi: celana anak-anak.



Inovasi di Tengah Limbah

Berbeda dengan kebanyakan orang yang sekadar mengambil limbah secara gratis, Rifaul memiliki visi lebih jauh. Ia melihat potensi bisnis yang tersembunyi di balik tumpukan kain perca. Dengan ketekunan dan kreativitas, ia berhasil mengubah limbah menjadi produk yang diminati pasar.

Memberdayakan Masyarakat

Tak hanya berhenti pada dirinya sendiri, Rifaul mengajak masyarakat sekitar untuk terlibat dalam produksi. Ia memberikan pelatihan dan membuka lapangan kerja baru bagi warga yang sebelumnya kesulitan mencari nafkah. Dengan begitu, limbah tekstil tidak hanya berkurang, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga.

Tantangan dan Solusi

Perjalanan Rifaul tentu tidak selalu mulus. Pandemi Covid-19 sempat menjadi pukulan berat bagi usahanya. Namun, ia tidak menyerah. Rifaul dengan cepat beradaptasi dengan situasi baru dengan mengoptimalkan penjualan online.

Lebih dari Sekadar Bisnis

Kisah Rifaul Zamzami lebih dari sekadar kisah sukses seorang pengusaha. Ia adalah sosok inspiratif yang menunjukkan bahwa dengan kreativitas, ketekunan, dan semangat gotong royong, kita dapat mengubah masalah menjadi peluang. Melalui usahanya, Rifaul telah memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Dampak Ekonomi dan Sosial Usaha Rifaul terhadap Masyarakat Sekitar

Usaha Rifaul Zamzami dalam mengolah limbah tekstil menjadi produk yang bernilai jual tinggi telah membawa dampak yang sangat signifikan, baik secara ekonomi maupun sosial bagi masyarakat sekitar. Berikut adalah beberapa dampak yang dapat kita lihat:

Dampak Ekonomi

  • Pembukaan Lapangan Kerja: Usaha Rifaul telah menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar, terutama bagi mereka yang sebelumnya kesulitan mencari pekerjaan. Hal ini membantu meningkatkan pendapatan keluarga dan mengurangi tingkat pengangguran.
  • Peningkatan Pendapatan Masyarakat: Dengan terlibat dalam produksi celana dari limbah tekstil, masyarakat sekitar mendapatkan penghasilan tambahan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  • Pengembangan Ekonomi Lokal: Usaha Rifaul telah berkontribusi pada pengembangan ekonomi lokal. Adanya produksi dan penjualan produk-produk dari limbah tekstil dapat meningkatkan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.

Dampak Sosial

  • Peningkatan Kualitas Hidup: Dengan adanya peningkatan pendapatan, masyarakat sekitar dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan pendidikan yang lebih layak.
  • Peningkatan Kesejahteraan: Usaha Rifaul telah memberikan rasa kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Mereka merasa lebih produktif dan memiliki tujuan hidup yang lebih jelas.
  • Peningkatan Solidaritas: Proses produksi yang melibatkan banyak orang telah mempererat hubungan sosial antar anggota masyarakat. Mereka bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, yaitu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
  • Pelestarian Lingkungan: Usaha Rifaul juga memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan. Dengan mengolah limbah tekstil, jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan dapat berkurang. Hal ini sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan yang sedang digalakkan.

Secara keseluruhan, usaha Rifaul Zamzami telah memberikan dampak yang sangat positif bagi masyarakat sekitar. Tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga dari segi sosial dan lingkungan. Kisah sukses Rifaul ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk menciptakan usaha yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Bagaimana Single Mom Menerima Kehadiran Sosok Baru?

Minggu, 31 Desember 2023
Mungkin dulu, saya berpikir menyandang status single mom adalah hal cukup memalukan. Sampai-sampai, selama 2 tahun lamanya saya menenggelamkan diri dari keramaian. Tidak mengizinkan siapapun untuk mengakses hal-hal yang bersifat pribadi. Yang sejatinya ketika diungkit, justru akan membuat hati saya semakin sakit. 



Tapi seiring berjalannya waktu, dan ketika saya sudah bisa berdamai dengan luka. Saya sangat menikmati status single mom tersebut. Bahkan saya sempat berpikir jika status ini akan menjadi jalan ninja yang mengasyikkan.

Bagaimana tidak berpikir demikian. 

Faktanya, setelah menemukan circle pertemanan yang tepat di mana mereka menerima dengan lapang apapun status saya. Tidak sedikitpun mendiskriminasi ataupun menanyakan kenapa saya harus menyandang status single mom tersebut. Kehidupan yang saya jalani justru semakin berwarna. 

Sangat menikmati status lajang sebagai ibu tunggal dengan karir yang alhamdulilah cukup membanggakan buat diri saya sendiri. 

Terlebih, ketika status single mom ini menjadikan saya sebagai perempuan bebas yang memiliki hak penuh dalam mengatur kehidupan sendiri. Sekaligus bisa melakukan apapun sesuai dengan kehendak sendiri tanpa dilarang ini dan itu. Sungguh, what a great my live. 

Hampir 9 tahun sendiri, saya benar-benar bersyukur Allah menguatkan saya untuk berjuang sendirian. Sekalipun sesekali mengeluh, tapi saya tidak pernah menyerah untuk terus berjuang untuk anak-anak. 

Bahkan, saking mandirinya, saya cukup lihai dalam memutuskan beberapa hal sendiri. Nggak perlu diribetkan dengan hubungan yang kadangkala memiliki banyak aturan karena ada dua kepala yang perlu disatukan. 

Lain kenyataan, lain ucapan. 

Mungkin benar jika saat diucapkan saya menikmati kesendirian 9 tahun ini. Tetapi ketika dalam keadaan "Suntuk" karena pekerjaan atau masalah yang datang bertubi-tubi. Tidak munafik, saya membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita. Keluh kesah yang kadang bikin kepala rasanya mau pecah karena disimpan sendiri. 

Tapi coba bayangkan, jika ada sosok di samping kamu, pasti dia akan menenangkanmu, bukan? 

Akhirnya, saya pun menyadari, jika Allah telah menakdirkan setiap manusia berpasangan. Di situlah saya mencoba untuk mengeja makna bahwa kesendirian saya selama 9 tahun lamanya, bisa saja bersifat sementara. 

Selama ini, nampaknya saya merasa cukup mampu menjalankan peran single mom. Mulai dari mengurus anak-anak, mencari nafkah, dan peran-peran lainnya yang butuh tanggung jawab besar. Begitulah setidaknya yang saya coba yakinkan pada diri sendiri. 

Namun pada kenyataannya, sebagai seorang hamba yang lemah, juga sebagai perempuan yang secara genetik tidak bisa berlama-lama sendiri. Saya menyadari bahwa tidak semua apa yang menjadi kehendak saya adalah yang terbaik. 

Sebagaimana Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam AS. Allah pun menghadirkan kembali seseorang dalam kehidupan saya kini, tentu ini adalah sebuah takdir yang tidak bisa saya tolak.  

Lantas, bagaimana saya bisa menerima kehadiran sosok baru tersebut? 

Mulanya, jujur, cukup sulit. Tidak mudah, pastinya. 

Hati yang sudah lama sengaja saya tutup karena takut disakiti, mau tidak mau saya berusaha membukanya kembali.

Memberi kesempatan pada sosok baru tersebut untuk mengisi ruang yang sembilan tahun ini sengaja dikosongkan. 

Banyak pertimbangan yang saya pikirkan, sampai akhirnya saya mengatakan "Iya". 

Jujur, kehadirannya membuat hidup saya berbeda kini. Tetapi saya tidak ingin larut pada euforia layaknya remaja yang sedang jatuh cinta. 

Hubungan kami adalah hubungan dua orang dewasa yang telah dibekali oleh luka sebelumnya. Tentu, kami tidak ingin banyak basa-basi nggak penting. Setiap obrolan selalu tertuju pada rencana ke depan. 

Bagaimana cara membangun hubungan yang bijak versi kami?

Pastinya, kami mencoba untuk mengenal karakter satu sama lain. Tak hanya mengenal, lebih tepatnya adalah mencoba menjadi penyelam ulung yang bisa menggali karakter pasangan lebih dalam lagi. 

Tak hanya karakter, tetapi menggali pola komunikasi yang tepat pun kerap kami lakukan. 

Sesama kaum workholic, tentu waktu berkomunikasi terbatas. Tapi kami mencoba untuk menyempatkan bertanya kabar satu sama lain, walau sekadar "Sapaan sederhana". 

Making relationship for single mom adalah tantangan yang perlu ditaklukan. 

Saya tahu, ini tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak bisa. 

Ibaratnya, hubungan yang sedang saya bangun saat ini seperti kembali ke sebuah sekolah. Sebagai murid, mungkin saya sudah mendapatkan pelajaran tentang pernikahan sebelumnya. 

Tetapi kini saya kembali merecall pelajaran tersebut dengan sosok yang berbeda. Yang tentunya ujiannya pun berbeda. Maka sudah sepatutnya butuh strategi lebih matang agar hubungan baru ini mampu bertahan. 

Tetapi saya percaya dan menyakini, semoga dialah "Nakhoda" yang selama ini saya sebut dalam doa. Jodoh yang sedang saya ikhtiarkan. 

Doanya, menuju tahun 2024, saatnya melukis cerita baru bersama sosok baru yang mau menerima segala kekurangan yang saya miliki.  Dia yang siap bersama-sama mengosongkan gelas ego demi menemukan pola terbaik dalam membina sebuah hubungan. 

Semoga, saya dan dia semakin matang setelah menempuh perjalanan panjang pencarian. 

Bismillah, 2024 tujuan baru, harapan baru dan banyak hal baru yang disegerakan. 

Dear, Single mom... 

Mungkin terlalu lama sendiri, kamu pun memiliki pemikiran bahwa kehadiran laki-laki baru dalam hidupmu bukanlah sebuah prioritas. 

Namun, jangan pula menolak jika memang takdir memberikan kesempatan. 

Cukuplah menerima untuk menjalankan peran kembali. Terima dengan sadar dan yakini setiap yang datang akan membawa kebaikan. 

Kalaupun ada keburukan, anggaplah sebuah proses pematangan diri kembali. Sejatinya kita mampu untuk menghadapi. 

Berapa Biaya Mengurus Perceraian Sendiri?

Selasa, 31 Oktober 2023

 

Free Couple Argument photo and picture


Menemukan pasangan hidup sampai akhir hayat tentu dambaan semua orang, namun jika pernikahan tersebut harus berakhir dengan perceraian, tidak ada yang bisa menghindari. 

Untuk mengurus perceraian bisa sendiri atau dengan menggunakan jasa pengacara. Namun dulu saya memilih untuk mengurusnya sendiri ditemani sama bapak. 

Sebenarnya ada sedikit ketakutan sih waktu itu. Selain belum punya pengalaman, juga agak berat buat saya untuk mengajukan gugatan cerai. Tapi karena memang harus dilakukan, mau nggak mau harus menguatkan diri. 

Nah, sedikit pesan buat kamu yang mungkin memiliki permasalahan yang sama seperti saya dulu. Yaitu ketakutan untuk memutuskan antara bercerai dan tidak. Percayalah, kamu tidak salah kok kalau memang mengajukan gugatan dari pihak istri. 

Sekalipun semua orang bilang “Perempuan kok gugat cerai duluan sih. Kayak ngebet banget cerai, ya.” Sejatinya, kamu lah yang merasakan apakah pernikahanmu memang layak dipertahankan atau tidak?

Sementara orang-orang yang berkomentar, mereka hanya mengetahui dari tampilan luarnya saja. So, woles aja ya. 

Oh ya, perlu diketahui juga, bahwasannya biaya mengurus perceraian sendiri untuk masing-masing daerah berbeda. Ada yang lebih murah, ada juga harganya lumayan. 

Pengajuan perceraian bisa dari pihak suami maupun istri. Proses perceraian sendiri dapat berlangsung cepat maupun lama tergantung kasus yang terjadi pada pasangan tersebut. Biaya perceraian tersebut akan menjadi beban penggugat. 

Apa Saja Syarat Gugat Cerai?

Rumah tangga yang tidak ada keharmonisan lagi, seperti selalu terjadi selisih paham, percekcokan, kekerasan baik fisik maupun psikis dan perselingkuhan sangat rawan mengalami perceraian. Pengajuan proses perceraian bisa dilakukan oleh pihak istri maupun suami.

Jika pihak yang mengajukan perceraian dari pihak istri, disebut dengan gugat cerai. Sedangkan apabila pihak yang menghendaki proses perceraian dari pihak suami, disebut dengan talak. Pengajuan gugatan perceraian dapat diproses oleh Pengadilan Agama atau PA apabila penggugat melengkapi berkas yang terdiri dari: 

1. Surat nikah asli

Surat nikah asli merupakan dokumen penting dalam proses perceraian. Dengan dasar buku nikah ini pengadilan agama bisa memproses pengajuan cerai karena merupakan bukti bahwa sudah ada pernikahan sebelumnya. 

2. Fotokopi surat nikah

Sebagai berkas pendukung, penguggat perlu melampirkan fotokopi buku nikah. Berkas ini harus jelas karena nanti akan dicocokkan dengan buku nikah yang asli.

3. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dari penggugat

Dokumen selanjutnya yang perlu disiapkan adalah fotokopi KTP yang menunjukkan alamat atau tempat tinggal pihak penggugat atau yang mengajukan talak.  

4. Surat keterangan dari kelurahan

Dalam proses pengajuan perceraian harus melampirkan surat dari pihak kelurahan yang berisi status pernikahan suami istri yang akan mengajukan perceraian. Dalam surat tersebut juga dicantumkan jumlah dan nama anak hasil pernikahan tersebut.

5. Fotokopi Kartu Keluarga (KK)

Dokumen berikutnya yang harus disiapkan adalah fotokopi kartu keluarga atau KK yang memuat nama yang mengajukan perceraian dan anggota dalam keluarga pasangan tersebut. 

6. Fotokopi akta kelahiran anak (jika memiliki anak)

Apabila pasangan mempunyai anak, pihak yang mengajukan perceraian perlu melampirkan fotokopi akta kelahiran anak tersebut. 

7. Surat izin atasan untuk ASN

Bagi ASN yang mengajukan perceraian prosesnya biasanya lebih panjang sebab harus mendapat izin dari atasan di tempat kerja. 

8. Bukti kepemilikan harta untuk mengurus harta gono gini

Harga hasil pernikahan atau gono gini merupakan aset yang kepemilikan setelah pasangan berpisah akan ditentukan oleh Pengadilan Agama, karena itu pada saat pengajuan perceraian perlu melampirkan bukti kepemilikannya seperti sertifikat tanah dan rumah serta BPKB kendaraan bermotor jika ada.  

Apa Saja Syarat Mengurus Perceraian? 

Mengurus perceraian melalui advokat atau pengacara memang lebih cepat dan praktis karena semua sudah ditangani oleh pihak pengacara tersebut, namun perlu menyiapkan dana lebih banyak. 

Karena mengurus gugatan perceraian sendiri cukup mudah, banyak yang memilih untuk menjalankan proses tersebut tanpa bantuan pengacara. Syarat mengurus perceraian yang harus dipenuhi agar dapat diproses adalah

1. Menyiapkan dokumen

Pertama, pihak yang mengajukan perceraian harus menyiapkan dokumen. Apabila ada dokumen yang belum lengkap, maka PA akan menunda pemrosesan sampai semua berkas lengkap.

2. Mendaftarkan gugatan perceraian

Penggugat harus mendaftarkan pengajuan perceraian ke PA di wilayah tempat tinggal pihak tergugat. Apabila selama proses gugatan pasangan masih tinggal dalam satu rumah, maka pengajuan gugatan ke PA dimana keduanya tinggal. 

3. Membuat surat gugatan

Pada saat mendaftarkan gugatan, pihak PA akan meminta penggugat untuk membuat surat gugatan yang berisi permohonan kepada PA untuk memutus ikatan pernikahan tersebut. 

4. Menyiapkan biaya administrasi

Dalam proses perceraian ada biaya administrasi yang harus dibayar oleh pihak yang mendaftarkan. Besarnya biaya untuk masing-masing wilayah kerja PA berbeda-beda. 

5. Siapkan saksi

Penggugat harus menyiapkan saksi untuk memperkuat gugatan dan memastikan bahwa isi surat gugatan sehingga penggugat mengajukan perceraian benar terjadi.

6. Siapkan alasan gugatan

Proses pengajuan perceraian hanya akan diproses oleh PA apabila ada alasan yang bisa diterima. Karena itu penggugat harus menjelaskan alasan mengajukan cerai dan menguatkannya dengan saksi atau barang bukti. 

Berapa Sih Biaya Perceraian?

Biaya perceraian terdiri dari beberapa bagian. Rincian dan biaya tersebut antara mengurus sendiri dan melalui pengacara berbeda cukup banyak.

Besar biaya proses cerai antara gugatan yang diajukan oleh pihak istri dan talak yang dijatuhkan oleh pihak suami berbeda. Selain itu, besarnya biaya mengurus perceraian sendiri juga dipengaruhi oleh jarak antara tempat tinggal penggugat dan tergugat dengan lokasi Pengadilan Agama.

1. Biaya gugat cerai

Apabila istri mengajukan gugatan, ada beberapa jenis biaya yang harus dibayar oleh penggugat. Besarnya biaya dipengaruhi oleh jarak tempat tinggal penggugat dan tergugat ke PA. Sebagai contoh apabila penggugat dan tergugat sama-sama tinggal di desa Candi, Kecamatan Candisari, Semarang Jawa Tengah, biaya yang harus dikeluarkan: 

  • Pendaftaran/ PNBP Rp30.000

  • Biaya proses Rp50.000

  • Biaya panggilan penggugat (3x) @Rp100.000 Rp300.000

  • Biaya panggilan tergugat (4X) @ Rp. 100.000 Rp400.000

  • Pendaftaran panggilan pertama tergugat dan penggugat Rp20.000

  • Redaksi Rp10.000

  • Materai Rp10.000

  • Pendaftaran pemberitahuan Rp10.000

  • Total Rp830.000


2. Biaya talak

Apabila pihak yang menghendaki perceraian dari suami, maka yang bersangkutan harus mengajukan proses talak ke Pengadilan Agama. Biaya yang dibutuhkan untuk proses tersebut adalah: 
  • Pendaftaran/ PNBP Rp30.000

  • Biaya proses Rp75.000

  • Biaya panggilan penggugat (3x) @Rp100.000 Rp300.000

  • Biaya panggilan tergugat (4X) @ Rp100.000 Rp400.000

  • Pendaftaran panggilan pertama tergugat dan penggugat Rp20.000

  • Redaksi Rp10.000

  • Materai Rp10.000

  • Pendaftaran pemberitahuan Rp10.000

  • Total Rp 855.000


Biaya mengurus perceraian sendiri
tersebut bisa bertambah atau berkurang tergantung lokasi tempat tinggal, jumlah panggilan yang dilakukan hingga pihak yang dipanggil datang ke Pengadilan Agama. Data tersebut merupakan perkiraan berdasarkan sumber dari situs Pengadilan Agama Kelas IA.