Stop Pneumonia, Penyakit Mematikan Pada Anak

Senin, 23 November 2020



Pagi itu saya sedang mengobrol dengan salah satu wali murid di sekolah. Sebagai guru PAUD, saya wajib memberikan laporan perkembangan belajar anak di sekolah. Saya menyampaikan pada si Ibu dengan bahasa Ibu. Bahasa curhat antara sesama perempuan. 

"Adik ini sebenarnya cerdas, Bu. Tapi sayang kemampuan berbicaranya terlambat. Selain itu Adik juga sulit berinteraksi dengan teman sebayanya. Apakah ada masalah si Adik, Bu?"

Saya melihat keanehan di sana. Dari segi fisik, dia tumbuh seperti anak normal lainnya. Dia juga sehat. Tetapi entah kenapa dia sulit berkomunikasi. Dia bicaranya agak gagu alias terbata-bata. Ketika ditepuk pundaknya, dia baru bisa berbicara lancar. 

Dan benar, ternyata murid saya tersebut ada sedikit gangguan. Gangguan apa tepatnya, saya pun tidak tahu. Sebab dari orang tuanya sendiri juga tidak paham sebenarnya anaknya kenapa demikian. 

Ibunya hanya bilang ketika berusia 2-3 tahun, murid saya tadi dibiarkan sendiri menonton TV tanpa pendampingan. Ibu sibuk menjemur padi sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya. 

Karena dikira anaknya diam saja dan nggak rewel, Ibu pun  melanjutkan pekerjaannya sampai selesai. Begitu terus sampai murid saya usianya 4 tahun. Dan keterlambatan bicara, lemahnya interaksi serta pandangan mata yang tidak fokus diabaikan begitu saja. Katanya itu hal lumrah. Namun di dunia medis tentu berbeda dong. 

Andai saja si ibu dan ayah paham anaknya bermasalah, pasti kondisi murid saya tidak akan berbeda dari teman-temannya saat ini. Tapi Ah, Nasi rasanya sudah menjadi bubur. Murid saya membutuhkan pertolongan segera. 

Peran Orang Tua pada Tiap Perkembangan si Kecil


Nah, dari cerita di atas, kira-kira adakah pesan yang bisa kita simpulkan? 
Yup. Tugas orang tua yang perlu diingatkan kembali, terutama Ibu. 

Tugas Ibu tidak hanya berhenti setelah selesai menyusui dan memberikan MPASI selama 2 tahun. Lebih dari itu, Ibu adalah tonggak dari perkembangan anak sejak dini. 





Ingin anaknya mengalami proses tumbuh kembang yang baik, maka orang tua harus selalu mendampingi anak-anak di mana pun dan kapan pun. Mungkin dari kasus murid saya di atas, sebagai orang tua kita harus lebih peduli. Dari hal terkecil sekalipun, sebagai orang tua harus teliti. 

Dan sepertinya bisa juga masalah murid saya serta ibunya dikaitkan dengan beberapa kondisi orang tua yang tidak memahami benar ilmu parenting, juga tentang Pneumonia. 

Bagaimana penyakit tersebut menyerang balita, penyebabnya apa, dan bagaimana cara mencegah. Orang tua minim ilmu pengetahuan sekali hingga kepedulian terhadap anak pun kurang. Selama anak tidak ada gejala maupun tanda-tanda serius jadinya akan dibiarkan saja. 

Selain minimnya ilmu parenting, orang tua juga tampak abai dengan kesehatan. Tidak munculnya gejala-gejala aneh dijadikan tolok ukur bahwa anak kita baik-baik saja. Anak tetap sehat. Padahal fakta tidak menunjukan seperti itu, bukan? 

Pneumonia juga begitu. Dikatakan sebagai penyakit yang membunuh anak terbesar dibandingkan penyakit menular lainnya. Bahkan di Indonesia sendiri tercatat lebih dari 19.000 balita meninggal karena Pneumonia di 2018. Dan di seluruh dunia tercatat 800.000 balita. Angka yang cukup fantastis sekaligus mengerikan, bukan? 

Lantas, apakah kita sebagai orang tua akan membiarkan Pneumonia merajalela? 

Sudah saatnya Anda memenuhi hak-hak anak, salah satunya adalah dengan mendampinginya. 

Apa Itu Pneumonia? Kenalan, Yuk! 


Berbicara soal Pneumonia memang cukup mengerikan. Penyakit ini bukan penyakit langka. Di Indonesia sendiri cukup sering terjadi. Hanya saja beberapa orang mengenalnya dengan istilah paru-paru basah. Padahal dua penyakit ini berbeda. 

Diketahui Pneumonia menduduki peringkat pertama di dunia, dan Indonesia sendiri berada di peringkat kedua yang masyarakatnya di usia balita mengalami kematian akibat penyakit Pneumonia. 

Menurut beberapa data terkini dari Kemenkes, WHO, UNICEF dan Save the Children, pada tahun 2030 Pneomonia akan membunuh 11 juta anak. Sementara untuk 15% Pneumonia lebih banyak menyerang Balita. Dalam 1 menit akan ditemukan Balita meninggal karena Pneumonia sehingga jika dihitung akan ada 2500 balita setiap harinya dan setiap tahunnya terdata 1,41 juta balita di Seluruh dunia.

Lantas, Pneumonia merupakan jenis penyakit seperti apa?

Pneumonia merupakan infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus, bakteri ataupun jamur. Gejala yang dialami cukup bervariasi, namun seringkali ditandai dengan gejala batuk, demam, sesak napas, napas cepat, menggigil dan kelelahan. 

Dari sini, saya sebagai orang tua semakin sadar untuk lebih menjaga anak-anak lebih intens terkait kesehatan. Tidak untuk menghindari penyakit Pneumonia saja, tetapi juga penyakit lainnya. 

Kenapa Penyakit Pneumonia Harus Diwaspadai? Seberapa Bahayakah Penyakit Ini?


Penyakit Pneumonia menduduki peringkat nomor satu dalam daftar penyakit yang paling banyak membunuh anak yang berusia 5  tahun ke bawah. 

Sementara potensi paling parah adalah bayi dan balita yang berada di bawah usia 2 tahun. Selain bayi dan balita, Pneumonia juga bisa menyerang orang dewasa, terutama manula yang berusia di atas 65 tahun. 

Hal ini dikarenakan Pneumonia sangat erat berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Anak-anak dan manula termasuk dalam golongan orang yang seringkali bermasalah dengan kekebalan tubun yang lemah dibanding yang lain. 

Apa saja Faktor Risiko Balita Terserang Penyakit Mematikan Ini?


Ada beberapa faktor yang memiliki risiko tinggi seorang anak terkena penyakit ini, antara lain: 
  • Bayi berusia 0-2 tahun
  • Bayi dan anak yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah
  • Bayi dan balita yang sering menghirup asap rokok

Nah, berhati-hatilah bagi Anda yang memiliki Balita dan anak yang masih rentan terkena penyakit. Jaga mereka dengan baik. Jangan biarkan penyakit mematikan tersebut mengintai tanpa sepengetahuan orang tua. 



Memperingati Hari Pneumonia Dunia 2020 Bersama Save Children Indonesia


Tepatnya tanggal 12 November 2020, saya merasa beruntung sekali mendapat undangan dari komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis untuk mengikuti acara memperingati hari Pneumonia Dunia Bersama Save Children Indonesia secara daring. 

Acara keren tersebut dipandu oleh Dr. Lula Kamal dengan sangat ramah dan gayanya yang ramai sangat menghibur. Tujuan dari kampanye Pneumonia secara daring ini, tak lain pada tahun 2020 peringatan HPD lebih difokuskan pada pemenuhan hak-hak anak tentang kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak secara normal dan optimal. 

Saya bisa katakan keren karena CEO Save the Children menghadirkan banyak narasumber berpengalaman. Beberapa anggota yang terlihat pun sepertinya bukan orang-orang biasa. Bisa berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang-orang pemerintahan, artis, blogger, juga para orang tua yang sadar sedari dini tentang bahaya Pneumonia. 

Nah, pada kesempatan ini hadir juga Ibu Wuri Maruf, Istri dari wakil presiden Bapak Maruf Amin yang juga menjelaskan bahaya tentang Pneumonia sekaligus beberapa cara untuk lebih memperhatikan kesehatan anak agar mampu menciptakan generasi yang lebih sehat ke depannya. 

Selain sambutan dari Ibu Wury, ada beberapa sambutan-sambutan keren dari beberapa orang berikut: 

  1. Menteri Kesehatan RI Letjen TNI (Purn) Dr. dr Terawan Agus Putranto Sp.Rad (K)
  2. Menteri KPPPA RI I Gusti Ayu Bintang Darmawati, S.E M.Si
  3. Selina Patta Sumbung, CEO Save the Children Indonesia
  4. Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A (K), M.Si, Dokter Spesialis Anak

Turut hadir juga beberapa artis ternama seperti Atiqah Hasiholan, Cythia Lamusu, juga Surya Saputra yang bercerita bagaimana serunya mendampingi tumbuh kembang anak. Bahkan sebagai seorang ayah, Surya Saputra sedetik pun tidak ingin melewatkan putri kembar mereka. 

Selain menaruh perhatian lebih kepada kedua putrinya, Surya pun mengatakan bahwa menjamin istri memberi ASI Ekslusif pada anak-anak juga salah satu cara bentuk pencegahan Pneumonia. 

Ada juga perwakilan dari TP PKK dari beberapa provinsi, seperti Ibu Cinta Atalia asal Jawa Barat, juga Arumi Bachsin dari Jawa Timur. Mereka ikut memberikan testimoni sekaligus dukungan pada anak berhak mendapatkan standar kesehatan dan perawatan medis terbaik. Bisa dimulai dengan hidup bersih di lingkungan terdekat, air bersih, serta makanan bergizi sebagai pencegahan Pneumonia. 

Apa Itu Kampanye STOP Pneumonia? 


Sejak muncul pada tahun 2014, Yayasan Sayangi Tunas Cilik yang sebagai identitas lokal dari Save The Children di Indonesia telah memikat hati banyak orang dengan ambisi besarnya Bekerja Untuk Semua Anak di Dunia dalam jangka panjang hingga 2030. 

Dengan mengandeng beberapa mitra seperti dari komunitas, LSM, juga pemerintah dengan tujuan menggaungkan kampanye STOP Pneumonia guna menyadarkan dan mengubah perilaku masyarakat. 

Save The Children sendiri telah beroperasi di 12 provinsi, 79 Kabupaten, 701 kecamatan dan 918 desa di Indonesia. Yang mana mencakup beberapa wilayah kerja, seperti Banten, jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. 

Nah, pada tanggal 12 November beberapa hari lalu, disebut sebagai Hari Pneumonia Dunia sekaligus bertepatan dengan hari Kesehatan Nasional, Save Children Indonesia menghidupkan kampanye STOP PNEUMONIA. Di mana tujuannya adalah: 

  1. Memberikan pencerahan dan Inspirasi kepada masyarakat untuk lebih sadar tentang pentingnya kesehatan, yang salah satunya adalah tentang Pneumonia yang harus segera dicegah dan ditangani.
  2. Mengajak keluarga dan semua orang tua untuk memastikan, mencegah serta melindungi anak dari Pneumonia.
  3. Mengajak semua pihak mulai dari kalangan masyarakat, pemerintah dan swasta untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan pneumonia pada balita. 





Yang mana kunci utama dari kata STOP Pneumonia bermakna:

S - adalah untuk pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan merupakan cara ampuh mengobati pneumonia.

T- Tuntaskan Imunisasi untuk anak dengan memberikan vaksin-vaksin yang dibutuhkan oleh anak.

O- Obati anak saat sakit segera. Jangan sampai menunggu kondisi sakit anak semakin parah.

P- pastikan kecukupan gizi, hidup bersih dan sehat pada anak sedini mungkin.


Cara Mencegah Penyakit Pneumonia Pada Anak


Pencegahan penyakit pneumonia pada anak bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu 3M: 

Melindungi

Orang tua memberikan perhatian dan kasih sayang secara intens. Selain itu pemberian ASI Ekslusif selama 6 bulan pertama kehidupan harus diberikan tanpa menunda. Kemudian Pemberian MPASI pada usia yang tepat juga akan sangat membantu.

Mencegah


Apabila sebagai orang tua sudah mampu melindungi, maka tahap selanjutnya adalah mencegah. Cara mencegah adalah dengan memberikan imunisasi lengkap, seperti Campak, Rubella (MR), Dhiphtheria Pertussis Tetanus (DPT), dan Haemophilus Influenza tipe B (HIB) dan PCV.

Selain itu membiasakan diri dengan mencuci tangan pakai sabun, sirkulasi udara di rumah yang cukup, lingkungan bersih dan sehat, juga akan sangat membantu proses pencegahan Pneumonia.

Mengobati


Jangan suka menunda mengobati anak saat sakit, apalagi menunggu parah terlebih dahulu. Sebaiknya, segera obati atau bawa ke klinik terdekat jika mendapati anak sakit dan muncul tanda-tanda yang aneh. Lalu berikan gizi cukup agar anak tetap sehat.


Yuk, Lakukan 5 Strategi ini untuk Stop Pneumonia Pada Anak


Pneumonia memang penyakit yang mematikan. Namun bukan berarti Anda tidak bisa mencegah ataupun mengobatinya sejak awal. Itulah kenapa Save Children Indonesia menggaungkan Kampanye Stop Pneumonia pada anak dengan gencar. 

Harapannya, kampanye ini bisa membantu para orang tua agar lebih memahami lebih banyak tentang penyakit Pneumonia pada anak. Berikut 5  strategi STOP Pneumonia pada anak yang wajib didukung keberhasilannya. 

- Sosialisasi secara Intensif di Media Sosial

- Parenting Menghadirkan Peran Ayah


- Pendekatan terpadu kepada keluarga terdekat dan semua  tentang Stop Pneumonia.

- Terapkan Protokol Kesehatan sebagai sarana pencegahan di masa pandemi.

- Ayo, Lengkapi Imunasi. Jangan sampai lupa ataupun terlambat

Mengobati panyakit yang sudah hampir kronis memang tidak mudah. Untuk itu, sangat disarankan untuk melakukan pencegahan Pneumonia lebih awal. Yuk, jadi agen perubahan yang siap mengkampanyekan STOP Pneumonia kapan dan di mana saja! 
23 komentar on "Stop Pneumonia, Penyakit Mematikan Pada Anak"
  1. Informatif sekali, mba. Membuka wawasan utk ibu2 muda.

    BalasHapus
  2. Ngeri juga ya ternyata Mbak penyakit pneumonia. Kayaknya belum pada kenal banget masyarakat kita, padahal ancamannya nyata buat balita, terutama akibat ortu yang merokok. Terima dishare ilmuanya dari webinar ini. Bermanfaat banget.

    BalasHapus
  3. Penyakit pneumonia ini serem banget ya mbak, upaya pencegahan penting banget nih secara kan lebih baik mencegah dari pada mengobati

    BalasHapus
  4. Informatif sekali artikelnya mbak. Emang pneumonia ini gak boleh diremehin ya. Lebih baik mencegah daripada mengobati

    BalasHapus
  5. Jadi teringat saat adik masih kecil dan mengidap Pneumonia, ibu terpaksa harus bolak balik rumah sakit, sedih sekali kalau ingat hal itu

    BalasHapus
  6. Makasih sharing ilmunya tentang pneumonia mbak...sangat bermanfaat kadang kita suka abai pada hal-hal sepele...

    BalasHapus
  7. Orangtua punya andil untuk kesehatan anak. Dulu adik Kay usia 5 bulan suka batuk2 dan itu cukup lama kalau udah batuk. Khawatir ada sesak nafas (karena riwayat suami yang punya asma), dulu itu hampir setiap dua bulan sekali kami bawa adik Kay nebu ke RS.

    BalasHapus
  8. Kampanye STOP Pneumonia ini membuat saya lebih paham tentang penyakit yang menyerang paru-paru ini. Insyaallah siap bantu kampanye ini agar banyak anak dan balita yang terhindar dari penyakit mematikan ini.

    BalasHapus
  9. Aku nemu beberapa anak tetangga yang kena Pneumonia. Alhamdulillah dapat pengobatan, tapi memang agak makan beberapa waktu. Kewajiban orangtua gak hanya ngasih makan, tapi juga lihat tumbuh kembangnya. Jangan sampai kecolongan dan berakhir penyesalan

    BalasHapus
  10. Kejadian murib Mbak juga menimpa anak teman saya. Persis. Tapi teman saya segera ambil tindakan dengan keluar kerja dan mendampingi buah hatinya untuk tumbuh kembang.

    BalasHapus
  11. Tugas ibu dalam tumbuh kembang anak besar ya tapi ayah juga harus ikut andil dalam merawat dan mendidiknya. Ternyata kasus pneumonia di Indonesia cukup banyak juga ya, makanya perlu diedukasi supaya bisa mencegah & mengobatinya

    BalasHapus
  12. Serem banget pneumonia ini, dan mirisnya lagi udah terjadi bertahun-tahun. Sedih tiap kali dengar ada anak kena pneumonia lalu berakhir dengan kematian :( Hiks

    BalasHapus
  13. Jadi tahu nih saya, ASI eklusif selama 7 bulan ternyata bisa mencegah penyakit pneumonia. Rasanya kasihan dan nelasa banget ya, kalau masih balita udah terkena penyakit serius.

    Semoga anak-anak kita selalu sehat. 😊😊

    BalasHapus
  14. penyakit Pneumonia yang menyerang anak-anak ini memang harus dicegah, dengan sosialisasi yang rutin seperti ini dilakukan sehingga bisa menurunkan angka kematian

    BalasHapus
  15. pneumonia jadi momok menakutkan untuk banyak orang apalagi ibu yang memiliki anak. Kudu tahu bener apa ciri cirinya dan bagaimana penanganannya dengan cepat. Bagus banget sih infonya, lengkap ini

    BalasHapus
  16. Ya allah, ngeri y Pneumonia pada anak. Dewi kadang masih sebel kalau ada org belum sadar bahwa asap rokok juga berbahaya bagi orang lain apalagi saat ada anak kecil...

    BalasHapus
  17. iya harus peka, harus mengenal
    intinya harus banyak membaca dan belajar. belajar mengenal si anak dan tanda2 yang terjadi

    bahaya juga kalau anak kena pneumonia
    sesuatu yang nggak diharapkan banget
    semoga kita selalu terhindari dari penyakit-penyakit tersebut yaaa

    BalasHapus
  18. Pneumonia ini mirip corona nggak sih mbak?

    Sama-sama menyerang paru-paru kan ya?

    Aku tahunya kalo pneumoni itu nularnya lewat lendir atau ludah penderita

    BalasHapus
  19. waaah aku baru tau looh kak kalau pneumonia dan paru-paru basah adalah dua penyakit yang berbeda.
    btw kak untuk virus, bakteri ataupun jamur penyebab pneumonia ini seperti apa sih kak? apakarena bawaan dari lahir mungkin atau karena lingkungan anak tinggal terlalu lembab?

    BalasHapus
  20. Sedih banget kalau dengar penyakit ini bisa menyerang pada anak, ngga tega banget. ASI memang sangat penting sekali ya agar anak-anak terhindar dari penyakit seperti ini

    BalasHapus
  21. Untungnya suami enggak ngerokok, Say. Cuma Bapak, haduuuuuuh....

    Walau pas anak-anak ke sana biasanya ngejauh sih pas ngerokok, cuma kan asepnya nempel ke mana-mana.

    Tapi, susah juga sih minta Bapak berhenti.

    BalasHapus
  22. Gak bisa lengah sama pneumonia. Jika yang terjadi pada orang dewasa saja sangat memprihatinkan. Apalagi pada anak-anak. Memang kondisi anak harus diawasi semenjak bayi, sebelum benar-benar pada kodisi aman, gangguan sekecil apapun tidak bisa disepelekan.

    BalasHapus
  23. wah ternyata rokok tuh pengaruhnya besar banget untuk pneumonia yaaaa. Bapak bapak.yang perokok mesti ati ati sama anak anaknyaaa.. harus waspada banget sama.penyakit pneumonia ini yaa

    BalasHapus

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9