Serba-serbi kehidupan di mata Malica

MENIKMATI ADIKARYA ARSITEKTUR KOLONIAL LAWANG SEWU SEBAGAI CAGAR BUDAYA INDONESIA

Rabu, 20 November 2019


Mendengar kota Semarang disebut, pertama kali yang terlintas adalah Lawang Sewu. First and foremost. Sebuah bangunan bersejarah bergaya arsitektur kuno yang dibangun oleh kompeni Belanda pada tahun 1904 ini  memikat banyak wisatawan. Bukan hanya arsitektur bangunannya saja yang membuat setiap mata terpaku saat melihatnya, tetapi kisah sejarahnya juga sangat menarik untuk dikulik. Penasaran dengan Lawang Sewu? Ikuti cerita saya, yuk! 

Tepat pukul 08.00 pagi, saya dan seorang teman memutuskan untuk berkunjung ke Lawang Sewu sebelum mengikuti acara famtrip blogger pada tanggal 29 Oktober 2019, di Kendal, Semarang. Perjalanan kami dimulai dari rumah sakit islam Sultan Agung dekat dengan terminal Terboyo. Kami menggunakan transportasi gojek online untuk pergi ke Lawang Sewu tersebut. 

Semilir angin di pagi hari membuat perjalanan kami sangat istimewa. Apalagi saat saya dan abang gojek menelusuri jalanan di kota Semarang, sungguh dibuat takjub dengan kotanya yang bersih dan taat lalu lintas. Saya tidak menjumpai kemacetan. Yang saya lihat justru pengendara yang sangat tertib pada lalu lintas sehingga jalanan cukup lenggang, meski hiruk-pikuk kendaraan beroda dua, roda tiga, maupun roda empat sangatlah banyak. 

Enaknya lagi, sepanjang perjalanan menuju Lawang Sewu si Abang gojek doyan bercerita. Beliau seolah menjadi tour guide saya dengan menunjukkan beberapa gedung-gedung besar dan tinggi. Mulai dari nama gedung, jalan serta sejarahnya. Salah satunya adalah Kota Lama yang termasuk dalam kelompok cagar budaya juga. Mendengar cerita Abang gojek tentang Kota Lama tersebut, saya pun tertarik untuk menjejakkan kaki di sana. Kapan? Nantilah selepas acara Famtrip blogger Kendal, insyaAllah. Hehehe 



Singkat cerita, hampir setengah jam perjalanan, saya pun sampai di obyek wisata Lawang Sewu. Dari depan pintu gerbang, saya sudah terpesona. Selain penasaran kenapa dinamakan Lawang Sewu, ternyata bangunan kuno ini tampak megah dan terawat. Pesona gedung yang terkesan gagah, dengan diapit dua buah menara berbentuk cerutu berada di sisi depan. Dilengkapi dengan tampilan jendela balkon, kemudian desain gedung berwarna putih kombinasi coklat, serta dipermanis dengan kubah berwarna merah bata bak mahkota. Membuat mata ini tidak berhenti menatap dan berkata takjub berkali-kali. 

Selain itu, saya seolah terbawa suasana tempoe doeloe. Membayangkan kehidupan Indonesia di tahun 1900-an. Saking terpesonanya saya dengan bangunan kolonial belanda ini, saya lupa untuk membayar karcis masuk. Padahal pos karcis ini berada tepat di sebelah kiri gerbang, tetapi sangat konyol saya kok bisa melupakan hal sepenting itu. Lucunya, saya kaget ketika seorang satpam berdiri di depan salah satu spot foto yang akan saya bidik. Beliau mengingatkan saya agar membayar karcis masuk terlebih dahulu.Duh, harusnya cerita ini menjadi pengalaman yang mengesankan. Eh, justru memalukan! 



Oh ya, bicara soal karcis masuk, saya katakan tarifnya cukup terjangkau bagi semua kalangan. Tarif dewasa hanya sebesar Rp10.000,00. Sementara usia anak-anak hanya dibanderol Rp5000,00 saja. Setelah menyelesaikan pembayaran karcis masuk, saya pun melanjutkan penjelajahan Lawang Sewu ke bagian dalam. Sebelum masuk ke dalam, ada pemeriksaan karcis oleh dua penjaga. Baru deh saya boleh explore Lawang Sewu yang menjadi ikonik kota Semarang. 

Namun, berbeda dengan rasa takjub saat pertama kali melihat penampakannya dari luar. Bagian dalam Lawang Sewu ini terkesan suram. Semacam ada aura mistisnya gitu. Lantas, apakah benar jika gedung tua yang menjadi ikonik kota Semarang ini memiliki sejarah menyeramkan?   

LAWANG SEWU RIWAYATMU DULU



Lawang sewu memang menyimpan beragam kisah. Mulai dari sejarah kereta api, hingga menjadi ikonik peninggalan Belanda yang diisukan sebagai gedung berhantu. Tetapi apakah benar, Lawang Sewu atau sering disebut Pintu Seribu ini memiliki kisah yang menyeramkan? 

Mulanya, gedung tua ini hanyalah kantor pusat perusahaan kereta api milik Belanda yang bernama lain Het Hoofdkantoor van de Netherlandsch-Indische Spoorweeg Maatscappij  atau lebih dikenal dengan singkatan NIS. NIS merupakan sebuah perusahaan kereta api Hindia Belanda yang berlokasi di stasiun Semarang. NIS pula yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia, yang menghubungkan kota Semarang dengan Surakarta dan Yogyakarta. 

Seiring dengan kemajuan yang dialami oleh NIS, akhirnya terjadi perubahan. Di antaranya adalah jumlah pegawai membludak dan administrasi kantor semakin sibuk. Sehingga kantor yang terletak di Stasiun Semarang menjadi sempit. 

Selain itu, fasilitas kantor mulai tidak terawatt karena lokasi dekat dengan rawa sehingga berdampak pada masalah kebersihan dan kesehatan. Akibatnya banyak pegawai mengalami sakit. Di sinilah awal kantor NIS dipindahkan ke lokasi terbaru, berada di pinggir kota dekat dengan kediaman Residen Hindia-Belanda. Lebih tepatnya terletak di ujung Bodjongweg Semarang, yang mana saat ini adalah Jalan Pemuda. 

Setelah lokasi terpilih, dimulailah pada tahun 1904 direksi NIS memercayakan pembangunan gedung kepada Prof. Jacob Klinkhamer dan B.J Quendaag. Kedua arsitek berasal dari Amsterdam. Dalam proses perancangan gedung di Belanda, sangat terlihat jelas jika suatu hari nanti akan menjadi sebuah bangunan mewah nan elegan sebab dirancang oleh maestro arsitek. 

Terbukti saat pembangunan gedung baru terselesaikan pada tanggal 1 juli 1907, yang diberi nama Lawang Sewu. Kenapa Lawang Sewu? Karena bangunan memiliki pintu yang sangat banyak. Meski pada kenyataannya sesuai data yang diperoleh, Lawang Sewu memiliki jumlah blok pintu sebanyak 450. Kemudian dihitung dengan menambahkan daun-daun pintu, akhirnya jumlah totalnya 928. Artinya hampir berjumlah seribu.



MENYINGKAP KECERDASAN ARSITEKTUR LAWANG SEWU


Yang menjadikan Lawang Sewu unik adalah tak hanya sekadar bangunan kuno era kolonial yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Melainkan gaya arsitektur yang masih bertahan dan tidak tergerus perkembangan zaman. Bahkan bisa dibilang seni arsitekturnya menarik dengan gaya Eropa. Seperti pada pilar-pilar yang menyangga gedung Lawang Sewu, di bagian sisi dilapisi keramik yang melengkung. Sementara desain atapnya menyerupai perahu terbalik. Jadi tak heran jika proses pembangunan Lawang Sewu ini membutuhkan waktu cukup lama. 

Semakin ke dalam saya menelusuri Lawang Sewu, semakin saya berdecak kagum. Di lantai dua tampak jendela kaca warna-warni. Konon kaca itu disebut kaca patri yang sejatinya bukan sekadar kaca biasa. Konon, kaca tersebut langsung di datangkan dari Belanda menuju Semarang. Kemudian lukisan yang menghiasi kaca tersebut menggambarkan filosofi pembuatan gedung Lawang Sewu sejak awal.

Ada tiga jajar kaca yang menggambarkan kisah cerita berbeda-beda. Entah bagaimana seniman bernama Johannes Louresa membuat pada masa itu. namun bagi saya, ukiran ini lebih dari kata istimewa.  Di bagian sebelah kiri terdapat gambar dedaunan, yang menggambarkan tentang pulau Jawa yang terkenal akan kemakmuran tanahnya serta keindahan alam.

Sedangkan bagian tengah kaca patri sebagai gambaran tentang keadaan kota Semarang dan Batavia pada masa itu. di mana kedua kota tersebut merupakan pelabuhan terbesar yang kerap dijadikan urusan maritime bagi kepentingan Belanda.

Nah, belum juga puas memandangi 2 bentuk lukisan yang menakjubkan. Saya pun dibuat kagum oleh lukisan dua perempuan di kaca patri. Konon, dua perempuan yang dimaksud adalah Dewi fortuna yang terkenal sebagai Dewi keberuntungan. Sedangkan lukisan berbaju biru dengan membawa gentong di tangan adalah Dewi Venus atau dewi kecantikan atau cinta kasih. Dimana kedua lukisan tersebut diyakini memiliki makna tentang Belanda yang seharusnya mendapatkan kejayaan selama berada di Nusantara. 

KENAPA LAWANG SEWU COCOK SEBAGAI CAGAR BUDAYA? 

Ketika saya masuk di salah satu ruangan yang jendelanya menjulang tinggi layaknya sebuah pintu. Di situ saya dimanjakan oleh museum Lawang Sewu yang menyajikan bermacam-macam foto bersejarah. Di tempat tersebut kalian bisa menemukan sejarah tentang Lawang Sewu, Semarang Station, sejarah kereta api Indonesia, serta miniature kereta hingga video tempoe doloe. 






Kemudian saya mencoba berjalan lagi menuju gedung lainnya, di mana gedung tersebut tampak kosong. Saya bilang kosong karena saya tidak menemukan sesuatu yang unik atau gambar-gambar yang mampu menceritakan kisah di masa silam. Padahal jika dilihat dari penampakan gedung yang berdiri kokoh perkasa, seharusnya gedung tersebut memiliki nilai lebih dari gedung lainnya.


Namun ternyata persepsi saya salah. Gedung kosong tersebut justru tampak menyeramkan. Meski temboknya di cat warna putih. Aura mistis sangat kentara. Padahal di luar saat saya melakukan swafoto tampak baik-baik saja. tetapi setelah memasuki gedung mendadak bulu kuduk berdiri. Terlebih saat saya mendapati sebuah lorong bawah tanah yang gelap yang bertuliskan "Dilarang Turun."



Usut punya usut setelah saya mencari tahu lewat internet, ternyata pada saat kekuasaan diambil oleh Jepang, salah satu gedung digunakan sebagai penjara dan ruang penyiksaan tahanan. Tak hanya itu saja, Jepang juga menjadikan ruang bawah tanah di sekitar gedung tersebut sebagai tempat pembuangan jenazah. Pantas saja sangat menyeramkan ya!

Lebih menyeramkan lagi saat saya mengetahui bahwa Lawang Sewu ini menjadi saksi bisu pertempuran lima hari di Semarang pada tanggal 14 Oktober 1945. Penyebab dari pertempuran tersebut antara lain:

  • Ketertarikan dengan perintah sekutu
  • Adanya rumor Jepang memberikan racun pada sumber air yang ada di Candilama
  • Adanya pemindahan tawanan Jepang dari Cepiring menuju ke Bulu yang mengakibatkan pemuda Indonesia marah
  • Jepang mendaratkan pasukannya di Pulau Jawa dengan tujuan ingin menjajah Indonesia kembali
  • Pemberontakan yang dilakukan oleh 400 tentara jepang 
  • Penangkapan tokoh-tokoh penting Indonesia yang dijadikan tawanan seperti Mr. Wongsonegoro dan Dr.Sukaryo. 
Dari 6 penyebab tersebut membuat pemuda Indonesia geram hingga terjadilah pertumpahan darah yang menjadi sejarah. Di mana pemuda-pemuda tersebut rela kehilangan nyawa demi mempejuangkan keutuhan NKRI kembali. Itulah yang menjadi alasan kuat kenapa Lawang Sewu patut dijadikan cagar budaya di kota Semarang.

Lawang Sewu selain termasuk dalam jajaran satu dari ribuan bangunan yang kaya akan sejarah Indonesia. Gedung tua peninggalan kolonial belanda ini juga menjadi saksi mata sedih dan peliknya pemuda kebanggaan bangsa tewas di medan pertempuran dengan Jepang yang selalu dikenang sampai sekarang.

RAWAT ATAU MUSNAH? 

Mungkin dulunya Lawang Sewu hanya terlihat seperti bangunan gedung pada umumnya. Sedikit yang menjadikan peninggalan Belanda tersebut memiliki kelebihan pada bagian arsitektur bergaya unik. Akan tetapi pada kenyataannya, bangunan tua yang memiliki seribu pintu itu juga membutuhkan perawatan lebih dari pemerintah kota Semarang.

Karena dirasa Lawang Sewu memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Maka pemugaran gedung pun dilakukan sebagai bentuk pelestarian peninggalan kuno agar tak terlihat usang dan tergerus zaman.

Akhirnya pada tanggal 5 juli 2011, Lawang Sewu resmi dibuka kembali menjadi destinasi wisata cagar budaya yang wajib dikunjungi. Setelah proses pemugaran tersebut, tidak ada lagi penampakan lantai kumuh, cat dinding terkelupas, serta taman di sekitar yang dipenuhi oleh semak-semak belukar. Lawang sewu menjadi landmark peninggalan Belanda yang menawan dan memesona di pandang mata.

Lantas, menelisik dari sejarah Lawang Sewu yang cukup panjang itu, apa peran yang harus dilakukan masyarakat agar cagar budaya Indonesia ini tetap terjaga dengan baik? Tidak hanya Lawang Sewu saja tetapi cagar budaya lainnya di Indonesia.

  • Mencintai cagar budaya yang ada di Indonesia. Dengan mencintai terlebih dahulu,tentunya kita tidak akan tega untuk merusak, bukan? 
  • Mencari tahu tentang sejarah cagar budaya. Dengan mencari tahu banyak informasi, tidak menutup kemungkinan kita akan tergerak untuk mengedukasi kepada khalayak umum. 
  • Mengajak orang terdekat berkunjung ke tempat bersejarah. Tujuannya adalah mengenalkan pada keluarga jika Indonesia kaya akan peninggalan sejarah yang harus tetap dilestarikan. Ada sebuah kata bijak mengatakan Mulailah sesuatu yang baik dari orang terdekatmu artinya jika orang terdekat mampu kita ajak dan edukasi dengan baik tentang kekayaan Indonesia, rasanya tidak akan mustahil jika kita mempengaruhi orang lain untuk cinta cagar budaya, bukan? 
  • Ikut berkecimpung dalam pelestarian cagar budaya. Hal ini bisa dilakukan oleh generasi milenial saat ini. jadi, ketika edukasi mengenai cagar budaya sudah tersampaikan dengan baik, maka generasi milenial tidak hanya mengabadikan foto sekadar untuk pajangan belaka. Mereka bisa mengkampanyekan cagar budaya melalui laman media sosial masing-masing. Atau bisa juga ikut serta dalam komunitas sejarah atau komunitas bertajuk tempoe doloe guna menyebarluaskan informasi tentang cagar budaya. 
  • Mengadakan gerakan literasi tentang pelestarian cagar budaya. Hal ini generasi milenial bisa memulainya dengan mengadakan seminar-seminar kecil di sekolah. Yang kemudian dibukukan dalam bentuk karya kemudian bisa dijual sebagai bacaan bergizi anak milenial.
  • Dan jangan lupa, ketika semua cara pelestarian di atas sudah dilakukan. Ketika ada penemuan aneh di desa sendiri, kita mampu meneliti lebih dalam. Misal baru-baru ini banyak ditemukan situs lingga yoni yang terpendam. Kemudian turut serta mendaftarkan penemuan baru tersebut kepada bagian ahli cagar budaya.

Nah, menurut kalian nih menjaga keutuhan cagar budaya apakah sulit? Rasanya tidak.

Justru dari 6 cara di atas sangat mudah sekali. Yuk, rame-rame kita jadikan negara Indonesia semakin kaya dengan banyaknya penemuan cagar budaya yang diresmikan secara nasional oleh seorang ahli dibidangnya. Kalian bisa share lomba blog cagar budaya Indonesia yang bertema Rawat atau Musnah! sebanyak-banyaknya.



#CagarbudayaIndonesia
#KemendikbudxIIDN




  • NB : Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog cagar budaya yang diadakan oleh IIDN bekerjasama dengan Kemendikbud. 
Be First to Post Comment !
Posting Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9