METAMORFOSA GADIS DESA

By Malica.com - November 29, 2017


Muda dan Berbakat. Itulah dua kata yang tepat disandang oleh ibu rumah tangga, penulis, juga blogger, Dian Restu Agustina. Lahir pada 17 Agustus 1976 di Kediri, Jawa Timur. Sejak kecil, wanita yang lebih akrab dipanggil dengan Dian ini sudah hobi membaca, berhitung, dan menulis. Jadi tak heran jika hobi yang digemarinya dari kecil telah mengantarkan Dian menjadi seorang penulis yang ramah dan baik hati seperti sekarang ini. Walaupun terkadang sifat keras kepala dan ingin dimengerti mendadak dominan, Dian tetaplah sosok wanita yang sederhana dan inspiratif.

Dian terlahir dari sebuah keluarga yang cukup sederhana. Dia juga berasal dari desa. Akan tetapi semangatnya untuk maju mewujudkan impian sangatlah tinggi. Terbukti pada tahun 1994, Dian resmi diterima sebagai mahasiswi di sebuah perguruan tinggi tertua dan bergengsi di Provinsi Bali, Universitas Udayana. Saat itu Dian mengambil jurusan pariwisata. Dan dari sinilah babak baru kehidupan Dian dimulai. Dia bercita-cita ingin menjadi wanita karier dan berniat menunda pernikahan hingga batas usia yang ditentukan.

Keinginan Dian menjadi wanita karier pun dibuktikan. Setelah lulus kuliah, Dian pun langsung bekerja. Adapun pengalaman bekerja Dian adalah sebagai berikut:
1. On The Job Training, Suntec Singapore International Convention & Exhibition Centre, selama  6 bulan.
2. Reception Staff, PT Indosat Bali, selama 1 tahun.
3. Marketing Staff, McDonald's New Dewata Ayu Bal, selama 1 tahun.
4. Manager McDonald's Indonesia ( McD Legian, McD Drive Thru Sanur, McD Bandara Ngurah Rai Bali), selama 3 tahun.

Prestasi yang sangat mengaggumkan di usia Dian yang relatif sangat muda. Namun takdir berkata lain. Dian yang bercita-cita menjadi wanita karier, ternyata Tuhan mendatangkan jodohnya lebih cepat. Tidak jauh. Justru lelaki yang menjadi suaminya sekarang adalah kakak dari teman sebangkunya saat SMA. Unik, bukan?

Perjalanan hidup Dian terus berlanjut. Setelah menikah, Dian berpikir bisa tetap bekerja. Tetapi faktanya, permohonan pindah kerja ke Medan yang diajukan oleh Dian karena mau mengikuti suaminya, ditolak oleh perusahaan. Alasannya tidak ada posisi yang sesuai untuk Dian di sana. Jadi, Dian harus menunggu sementara waktu. Berhubung tugas utama istri salihah adalah taat suami, dengan berat hati dan deraian air mata, Dian memutuskan resign dan menjadi Ibu rumah tangga. Drama rumah tangga pun baru dimulai.

Resmi menjadi seorang ibu rumah tangga, tak lama kemudian Tuhan menitipkan janin dalam kandungan Dian. Tentu suatu kabar yang menggembirakan sekaligus harapan semua wanita. Ya, menjadi ibu adalah keinginan semua wanita seusai menikah. Namun, Tuhan sangat menyayangi Dian dan suami. Janin yang dijaganya dengan sangat hati-hati selama sembilan bulan memiliki fisik yang kurang sempurna di mata manusia tetapi menurut sang Maha Pencipta, dia adalah bayi mungil yang sangat sempurna. Hanya 13 hari bayi mungil itu bercumbu dengan dunia. Kemudian Tuhan mengambilnya untuk memuliakan kedua orang tuanya kelak di surga.

Siapa sangka Dian yang begitu tegar berubah menjadi sosok yang begitu rapuh. Bahkan dia sempat kesal pada Tuhan sang pencabut nyawa, kenapa harus dia yang mengalami kejadian pahit seperti ini? Padahal seharusnya dia dan suami merasakan kebahagiaan sebagai orang tua baru. Kecewa, sedih, dan marah berkumpul menjadi satu menolak takdir Rabb-nya. Hingga membuat dirinya lemah lunglai tak berdaya. Kehilangan putra pertamanya membuat Dian harus melakukan beberapa sesi terapi untuk menyembuhkan traumanya.

Beruntung sekali Dian mempunyai suami dan keluarga yang selalu mendukung. Meskipun dia sudah berada pada titik nadir kehidupan yang berujung pada rasa keputusasaan, sama sekali tidak membuat Dian harus hara kiri. Justru, inilah yang membuat Dian berhijrah menjadi sosok yang lebih baik lagi. Dian belajar mendalami agama, mengubah cara berpakaian, dan cara bertutur kata. Karena Dian sadar bahwa Allah maha besar. Percaya tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali atas kehendakNya. Dan pastilah ada hikmah dibalik masalah. Kini, dia pun dianugerahi dua putra yang begitu hebat. Bukan hanya hebat tetapi juga pintar dan saleh. Putra pertamanya usia 13 tahun, yang saat ini duduk di kelas 7 SMP. Dan putra kedua usia 8 tahun, kelas 3 Sekolah Dasar.

Kegiatan sehari-hari Dian hanya dihabiskan untuk merawat suami dan anak. Selain itu Dian juga aktif menulis. Walaupun awal mula motivasi Dian menulis adalah untuk penyembuhan diri dan menyalurkan hobi. Tetapi justru membawa kariernya di dunia literasi melambung tinggi.

Dian sudah beberapa kali menjadi pemenang di kompetisi menulis blogger. Tak sedikit juga tulisannya yang sudah dimuat di media online. Di antaranya seperti ummi-online.com, salah satu tulisannya ini http://www.ummi-online.com/wahai-suami-hindari-kata-kata-ini-saat-bercanda-dengan-istri.html). Ada juga di takaitu (http://takaitu.com/kamu-harus-tahu-ternyata-budaya-matrilineal-bukan-hanya-milik-suku-minang-tapi-juga-berlaku-pada-suku-suku-berikut-ini/). Dan juga tulisan cerpennya yang dimuat di tabloid Nova http://www.dianrestuagustina.com/2017/02/cerpen-saya-dimuat-di-tabloid-nova.html.

Betapa menginspirasinya wanita umur 41 tahun ini. Tetap bisa berkarya di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga juga blogger sejati. Sangat sesuai dengan motto hidupnya “Siapa yang Bersungguh-sungguh pasti berhasil”. Dan itu benar, Dian telah membuktikannya. Tentu karena ikhtiar dan doa yang tak henti-hentinya dipanjatkan pada Tuhannya.

Meskipun Dian terbilang sudah punya nama dalam dunia literasi, sama sekali tidak menjadikannya wanita yang sombong. Dia tetap sosok yang rendah hati. Seperti pesannya yang di sampaikan kepada saya sewaktu wawancara semalam yaitu “Pastikan bahwa tujuan kita menulis untuk alasan yang benar dan bukan hanya ingin tenar. Luruskan niat menulis kita karena semata-mata untuk mencari rida Allah SWT. Sedangkan printilan rejeki yang menyertai, anggap itu bonusnya. Dan Ingatlah untuk tetap menuliskan hal yang berfaedah dan bukan artikel sampah. Jika kita tidak memiliki tujuan yang jelas , tentu sia-sia belaka waktu yang telah kita sediakan untuk menjalaninya. Juga pastinya akan merugikan pembaca yang ternyata tak mendapatkan manfaat apa-apa”.

Terima kasih Mbak Dian Dian Restu Agustina sudah mengizinkan saya menuliskan biografi ini. Semoga banyak wanita yang terinspirasi.

Sumber Pic : Www.Dianrestuagustina.com

#InfinityLovink
#30DaysWritingChallengeSesi5
#PenulisTangguh
#NyonyahKetjeh


  • Share:

You Might Also Like

9 comments

  1. Jiah, ada saya rupanya ..Makasih Mbak Malica..Semoga saya tetap ingat kalau semua yang saya dapat adalah Anugerah Allah SWT.
    Sukses untuk Mbak Malica juga ya..:)

    ReplyDelete
  2. Setiap rumah tangga ada permasalahannya masing-masing. Tergantung kita menyikapinya ya.. salut dengan Mbak Dian yang bisa bangkit lagi.

    ReplyDelete
  3. kehilangan itu tidak pernah mudah, apalagi buah hati yg dirindu kehadirannya. salut mbak dian menjadikannya momen untuk bangkit menjadi lebih baik. sangat menginspirasi 👍

    ReplyDelete
  4. Hebat ikh mba bisa nulis biografinya Mba Dian. Saya juga pengen bgt suatu hari nanti bisa menulis biografi saya lewat buku. Baik itu ditulis sendiri maupun ditulis oleh orang laian. Rasanya ingin sekali berbagi tentang perjuangan dan perjalanan hidup saya. Smga suatu hri nanti bisa tercapai ya ��

    ReplyDelete
  5. Saya pun kagum sama mba Dian mba. Padahal perjalanan dunia menulisnya seangkatan dengan saya, namun prestasi mba Dian luar biasa..

    ReplyDelete
  6. Dari hobi menjadi karier ya Mba. Keren dan menginspirasi.

    ReplyDelete