Malaikat Kecil Anugerah Ilahi

By Malica.com - October 18, 2017


Nessa meneguk secangkir coffee moment hangat di gazebo belakang rumah. Merasakan perpaduan bahan yang apik antara panax gingseng, epidium, maca, dan tribulus yang mampu menenangkan jiwa. Kau tahu? Takdir sedang bermain-main dengan Nessa saat ini. Ia mempertemukan Nessa pada sebuah keajaiban, seketika ia juga mengambilnya dari Nessa. Ah, sudahlah. Tak perlu dijelaskan lebih dalam lagi. Nessa terlalu kuat menjadi wanita. Kini hanya kenangan indah yang akan tetap dikenang oleh Nessa, yang akan membuatnya terus bertahan hingga maut menjemputnya.

Tepatnya lima tahun silam. 19 September 2012.

Malam itu, Nessa merasakan sakit yang luar biasa. Rasa sakit yang begitu hebat. Punggungnya terasa nyeri, perutnya keram, dan keluar lendir kental bercampur darah. Namun anehnya, dari pihak Dokter tetap kekeh ingin mempertahankan janin yang masih berumur 28 minggu itu.

“Dok, sepertinya istri saya mau melahirkan. Apa masih tetap dipertahankan?” tanya Pras sedikit panik.

“Iya, Mas. Janinnya masih terlalu kecil. Berdasarkan hasil USG berat badannya masih kurang. Jika tetap dilahirkan, ia akan lahir prematur,” jelas Dokter sambil memberikan obat penghambat kontraksi rahim.

Setelah beberapa jam, rasa sakit tidak dirasakan Nessa lagi. Semua anggota keluarga yang tadinya merasakan ketegangan pun kembali tenang. Namun, ketenangan itu kembali riuh saat darah kental keluar dari organ intim Nessa. Akhirnya, perdebatan panjang terjadi dari pihak keluarga Pras dan Nessa. Tanpa pikir panjang, baik keluarga Pras maupun Nessa memutuskan mengambil jalan pintas ‘pulang paksa’.

“Maaf, Dok, sepertinya istri saya mau dibawa pulang saja,” ucap Pras. Sebenarnya ada keraguan dibenak Pras akan keadaan Nessa, tetapi dia lebih memilih Nessa melahirkan sekarang daripada harus ditunda. Jika nanti bayinya memang prematur dan harus dirawat, tak masalah. Aku benar tak tega melihat Nessa kesakitan seperti itu, batin Pras dalam hati.

“Baiklah, Mas. Boleh dibawa pulang, asalkan nanti jika ada sesuatu yang gawat segera hubungi rumah sakit terdekat di desa,” jelas Dokter memberikan pengarahan pada Pras.

Tepat pukul 21.00, Nessa beserta keluarga melakukan perjalanan pulang ke desa. Mobil hitam melaju dengan cepat. Nessa yang ada di dalamnya meraung-raung kesakitan.

“Kau pasti kuat, Sayang. Bertahan demi buah hati kita,” ujar Pras lirih sambil mengelus kening Nessa lembut, menciumnya, dan membisikkan ayat-ayat al-qur’an yang menenangkan.

Satu jam perjalanan dari Surabaya menuju Lamongan yang cukup mencekam. Jeritan Nessa tetap saja terdengar. Namun, bukan rasa sakit lagi yang Nessa rasakan saat ini. Kebahagiaan. Ya, kebahagiaan yang selama ini tidak Nessa dapatkan. Sejak kecil, orang tua Nessa berada di perantauan. Dia tidak pernah merasakan kebersamaan dengan orang tuanya. Tak ada yang namanya momen berharga dalam hidup Nessa. Dan sekarang, saat Nessa sedang berjuang antara hidup dan mati, kasih sayang yang nyata dari kedua orang tuanya kini telah Nessa rasakan. Seolah-olah sakit ini juga dirasakan oleh Mereka. Nessa memang terlihat selalu tegar selama ini, namun tak ada yang tahu dia sebenarnya rapuh. Moment indah bersama keluarga tak pernah Nessa rasakan, sekalipun saat hari lebaran tiba.  Dan menurut Nessa, inilah kenangan yang tidak bisa dia lupakan. Kenangan yang akan terus membekas dalam ingatan.

Lagi pula tidak banyak yang Nessa harapkan dari hidup ini. Sudah terlalu banyak cerita pahit yang dia rasakan sejak kecil. Melihat orang-orang yang disayanginya tetap setia menemaninya dalam susah dan senang, itu rasanya sudah cukup.

******

Anakku…gelar baru kini telah kudapatkan.

Selamat datang di dunia yang indah ini ya, Nak. Ibu berjanji sedetikpun tak akan meninggalkanmu, apalagi berkeinginan jauh darimu.

Engkau anugerah terindah, amanah dariNya yang harus ibu jaga sebaik-baiknya. Semoga kelak engkau dapat menjadi amal jariyahku di surga.

#30DaysWritingChallenge
#InfinityLovInk

  • Share:

You Might Also Like

0 comments