Serba-serbi kehidupan di mata Malica

JEMBATAN MERAH: RIWAYATMU DULU, KINI, DAN NANTI

Kamis, 12 September 2019


Dari zaman dulu hingga sekarang, Surabaya tetap identik dengan sebutan kota Pahlawan. Ini sebagai bukti mengenang perjuangan arek-arek Suroboyo atau pemuda-pemuda Surabaya yang gagah berani melawan musuhnya di masa penjajahan.

Bukti lain kenapa Surabaya disebut sebagai kota pahlawan adalah rentetan  pertempuran serta peristiwa-peristiwa heroik untuk mempertahankan Indonesia. Tak heran jika di Surabaya ini telah dibangun sebuah bukti monumental bersejarah yang dinamakan tugu pahlawan. 

Tetapi tahukah, selain kental dengan jiwa kepahlawanannya, dulunya Surabaya merupakan salah satu pintu gerbang perdagangan utama di wilayah Indonesia Timur. Ini dikarenakan Surabaya memiliki potensi ekonomi yang sangat besar jika dilihat dari letak geografis dan fasilitas yang dimiliki cukup unggul. 

Sebut saja Kembang Jepun, salah satu tempat di Surabaya yang menjadi sentra bisnis dari dulu hingga sekarang. Menurut sejarahnya, Kembang Jepun ini telah dijadikan tempat mendaratnya kapal-kapal pedagang asing. 

Selain Kembang Jepun, tak kalah pesonanya dengan Kalimas. Berdasarkan penelitian, Kalimas merupakan  sungai di zaman Belanda yang dijadikan sebagai jalur transportasi untuk mendistribusikan barang yang masuk melalui pelabuhan. Hilir mudik sampan perahu kecil mengangkut barang komoditi berupa rempah dan ikan. Sehingga tak heran jika kawasan ini menjadi transaksi jual-beli serta pertemuan para multi-etnis.

Menilik sejarah di atas, saya sempat berpikir kenapa orang zaman dulu sebelum merdeka suka sekali menggunakan jalur laut sebagai  transportasi. Apakah itu lebih efisien? 

Dulu sekali sebelum mengenal alat transportasi, orang-orang mengawali perjalanan jarak jauh dengan berjalan kaki pada zaman Paleolithic. Selain berjalan kaki, berdasarkan beberapa artikel yang saya baca juga menjelaskan bahwa, hewan zaman dulu kerap menjadi alat untuk mengangkut barang yang tidak mampu dilakukan oleh manusia.  Kemudian sedikit berkembang, akhirnya manusia mulai belajar merakit. Mereka menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai-sungai. 

Lalu, seiring dengan perkembangan zaman ke zaman, manusia mulai dengan pergerakan yang sedikit maju, yaitu menggunakan suatu bentuk transportasi maritim dengan yang lebih canggih, seperti kapal. Dan kapal pertama kali yang digunakan di Indonesia adalah kapal kayu Pinisi. 

Dari sini saya simpulkan bahwa, transportasi laut memang sangat efisien untuk segala hal pada zaman itu. Mulai dari dijadikan sebagai moda transportasi manusia, juga sebagai pengangkutan barang berlebih. Oleh karenanya, sejarah mencetak jika perdagangan zaman dahulu sangat mudah disebarkan melalui jalur laut dibanding darat.  

Makanya, Surabaya yang memiliki Kalimas, sungai yang bisa terhubung ke Sungai Brantas ini mampu menjadi pusat perdagangan vital. Dan jembatan merah yang ada di sekitar Kalimas ini dijadikan tempat pemberhentian. Surabaya memang pantas mendapat julukan sentra bisnis sejati kala itu, sebab Surabaya merupakan salah satu kota yang terhubung oleh selat Madura dan serta laut Jawa. Yang mana jalur laut sangat efisien untuk perkembangan dagang dulu. 


Tentang Sejarah Jembatan Merah Sebelum Merdeka 


Sumber : lifeatsurabaya.id

Sebelum tahun 1890, jembatan ini masih terbuat dari kayu. Kemudian tak lama, jembatan kayu ini di bagian pembatas diganti besi. Inipun berdasarkan kesepakatan Pakubuwono II dengan VOC yang menyepakati beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, akan dikendalikan di bawah kolonial Belanda.

Lantas apakah besinya merah, sehingga disebut Jembatan Merah?

Konon katanya, sebelum jembatan ini dihias lebih elegan menggunakan cat merah. Warna merah adalah simbol jati dirinya. Di mana jembatan merah merupakan saksi bisu pahlawan-pahlawan Surabaya telah berjuang demi Indonesia merdeka. Merah adalah darah. Setiap tetes darah yang mengalir dikenang pada Jembatan Merah.  

Masih ingat pertempuran yang terjadi pada 10 November 1945? Pada tanggal, bulan, dan tahun tersebut jembatan merah menjadi saksi bisu pertempuran bangsa Indonesia melawan sekutu. Kemudian disusul kasus tewasnya Brigadir A.W.S Mallaby- petinggi militer pasukan Inggris sebagai pemimpin pasukan NICA pada tanggal 30 Oktober 1945. Puncaknya, jembatan merah menjadi tempat terjadinya peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje, yang saat ini menjadi hotel Majapahit.  

Jembatan Merah pada masa penjajahan merupakan tempat lokasi penting, sebab merupakan satu-satunya akses transportasi perdagangan yang melewati Kalimas dan gedung residensi.

Dampak menjadi lokasi penting di Surabaya pada masa itu, Jembatan Merah terus-menerus mengalami perubahan. Salah satu di antaranya, Jembatan bukan lagi tempat yang sepi, melainkan tempat yang ramai disinggahi oleh kapal-kapal dagang.

Sehingga terjadilah pembagian kawasan, yaitu bagian barat dan timur. Dan Jembatan Merah menjadi penghubung kedua kawasan tersebut.

Bagian barat kebanyakan dihuni oleh pedagang besar dari Eropa. Sedangkan bagian timur merupakan kawasan elit yang dihuni oleh etnis tertentu, seperti Tionghoa, Arab dan Melayu. Kenapa elit? Sebab harapannya Jembatan Merah nanti mampu memberikan keuntungan dalam perdagangan bisnis orang asing yang tinggal di sana, khususnya Tionghoa.

Lalu demi mengontrol keamanan, kebersihan serta ketertiban, di bagian ujung barat Jembatan Merah dibangun gedung Karesidenan nan megah oleh Belanda. Hingga saat ini, gedung peninggalan tersebut tetap berdiri kokoh.

Jembatan Merah Masa Kini 


headliinenews.blogspot.com

Jembatan Merah berlokasi di jalan Kembang Jepun No. 192, desa Pabean Cantian, Kecamatan Krembangan, Surabaya, pada 2019 penampakannya tentu lebih indah. Apalagi setelah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di Surabaya, tentunya banyak orang khususnya yang tinggal di daerah tersebut lebih sadar untuk menjaga.

Memang, sekilas tak ada beda antara Jembatan Merah ini dengan Jembatan-jembatan lain di kota Surabaya. Tapi warna merah menyala serta julukan sebagai ikonik kota Surabaya ini, adalah bentuk sekaligus upaya mengajak generasi muda agar memiliki daya juang seperti pahlawan-pahlawan Surabaya yang mau mengorbankan diri demi tanah air tercintanya.

Selain warna merah yang menjadi sorotan di masa kini, gedung-gedung lama yang dibangun di sekitar Jembatan Merah kini telah beralih fungsi menjadi bank, hotel, pertokoan dan bahkan pabrik rokok pun berubah menjadi museum terkenal, yaitu House of Sampoerna.

Tak hanya itu saja, Kembang Jepun saat ini telah menjadi pusat perdagangan yang semakin maju. Namanya lebih dikenal dengan sebutan Kya-Kya.

Sumber: panduanwisata.id

Sedangkan di bagian wilayah utara yang dulunya disebut kampung Arab, kini menjadi pusat wisata religi umat muslim. Yaitu terdapat makam Mbah Sunan Ampel yang seringkali didatangi banyak orang untuk ziarah.


Sumber : JejakPiknik.com (Makam Sunan Ampel) 



Sumber : JejakPiknik.com


Di depan Jembatan Merah juga terdapat bangunan besar yang tak kalah menarik. Ada Jembatan Merah Plaza yang saat ini menjadi salah satu pusat perbelanjaan atau mall di Surabaya. Terkadang ada juga yang menggunakan JMP ini sebagai gedung pre-wedding bernuansa klasik serta spot berfoto yang instagramable banget.

Kenapa Jembatan Merah Istimewa dan Menjadi The Man From The Past? 


Inilah beberapa alasan yang perlu diketahui oleh para generasi muda masa kini,  bahwa Jembatan Merah yang terlihat biasa ternyata menjadi the man from the past. Antara lain:

  • Berdasarkan buku yang berjudul Travelicious karangan Arianto, Jembatan merah patut menjadi jembatan legendaris untuk mengenang pertempuran arek Suroboyo dengan penjajah. Maka dari itu, salah satu cara menghargai perjuangan arek Suroboyo tersebut Jembatan Merah ini ditetapkan sebagai cagar budaya yang harus dilestarikan. 
  • Berdasarkan buku yang berjudul Soerabaia Tempo Doeloe karangan budayawan Dukut Imam Widodo, bahwasannya di sekitar Jembatan Merah ini terdiri dari beberapa etnis. Di sebelah timur Kalimas banyak dihuni oleh Chinese Camp (Kampung Cina). Beberapa dari mereka ada di Chinesevorstraat (kini menjadi jalan karet), dan Hendelstraat (Kini menjadi Jalan Kembang Jepun). Ada juga Kampung Arab, dan beberapa orang Madura. Perbedaan etnis tersebut justru membuat hubungan baik. Mereka semua bisa membaur rukun dalam hiruk-pikuk zaman. Beragam agama dengan budaya berbeda ternyata mampu memperkokoh nasionalisme. Keistimewaan dari Jembatan Merah yang menjadi penghubung perdagangan vital Surabaya.  
  • Warna merah khas dan mencolok yang tidak dimiliki oleh jembatan lain adalah ditujukan untuk generasi muda masa kini agar memiliki semangat pejuang seperti layaknya pahlawan terdahulu. 
  • Jembatan Merah sebagai bukti bahwa Surabaya adalah kota komersil. Zaman penjajahan dulu, Belanda tertarik menguasai sebagian wilayah Surabaya yang ada di pantai utara. Yaitu pelabuhan Perak yang memiliki potensi besar untuk kemajuan perdagangan kala itu. 
  • Melihat Jembatan Merah berdiri kokoh seperti sekarang, justru mengingatkan kenangan pilu tentang para heroik yang telah gugur. Dan demi mengenang kisah pertempuran 10 November 1945 yang bersejarah itu, terciptalah lagu "Jembatan Merah" karya Gesang. 

Bagaimana, Jembatan Merah sangat menarik dijadikan kilas balik kehidupan untuk perenungan bukan? 

Yuk, kunjungi Jembatan Merah bukan sebagai jembatan biasa yang dijadikan sebuah penghubung jalan. Melainkan sebagai cagar budaya yang patut dilestarikan. 

Salam😊







10 komentar on "JEMBATAN MERAH: RIWAYATMU DULU, KINI, DAN NANTI"
  1. Waaa.... Jadi kangen jalan-jalan ke Surabaya lagi. 🤩🤩🤩
    Makasih ulasannya, Mbak

    BalasHapus
  2. Aduhhhh saya pernah ke JMP tapi lupa nengok jembatannya ������ jembatan merah masuk trayek bis yg tiketnya pake botol bekas nggak mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tahu juga mbak. Aku baru sekali juga naik bus itu. Hehehe

      Hapus
  3. Wah mbak, jadi tahu nih perkembangan sejarah nya jembatan merah ini yaa. Lengkap pula ulasannya. Masalahnya saya belum pernah kesana Surabaya nih. Hiks

    BalasHapus
  4. Baca ini saya langsung ngerasa jleb. Belum pernah ke Jembatan Merah walaupun beberapa kali ke Surabaya. Aih :P
    Pas banget jika JM ini ditetapkan jadi Cagar Budaya. Kalau ke sana pun enak karena dekat tempat2 strategis. Bisa ziarah sekaligus nge-mall, hehe
    Semoga next time beneran bisa mampir ke JM, aamiin

    BalasHapus
  5. Waah komplit banget ulasannya. Saya juga belum berkesempatan nih main ke Surabaya. Dulu taunya jembatan merah ini hanya dari lagu.

    BalasHapus
  6. Aku baca artikel ini jadi tahu cerita lengkapnya Jembatan Merah. Panjang sejarahnya yaa dan sungguh sebagai cagar budaya patut untuk dijaga dan dilestarikan.
    Ah, jadi kangen Surabaya. Pengin ke sana lagi dan menikmati sejarah dan kemegahan Jembatan Merah.
    Terima kasih sudah menceritakan kisah Jembatan Mersh, Mbak Lica

    BalasHapus
  7. dulu deket jembatan merah, ada tk soto surabaya yg enak bingit. Jd klo dinas ke sana, saya selalu menyempatkan diri makan soto tsb..

    BalasHapus
  8. Perjuangan indonesia dulu identik dengan warna merah, lambang darah para pejuang yang dulu sudah berkorban, sekaligus lambang keberanian juga. Ditambah, Surabaya juga dijuluki sebagai kota pahlawan. Belum pernah ke sana, tp sepertinya Jembatan Merah ini ikonik sekali

    BalasHapus

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9