Jangan Pernah Merasa Sendiri, Ada Allah Bersama Kita

Rabu, 22 April 2020

"Sendiri bukan kesalahan. Memilih untuk menjadi single pun sama sekali nggak ada salahnya kok. Lagipula Mbak punya Allah. Dan mbak Malica juga sudah punya pasangan yang setia. Pasangan yang nggak akan pernah melukai, tetapi justru akan memberikan kebahagian setiap hari.Tak lain adalah menulis. Benar, kan, Mbak?”

Sulit dipercaya, ternyata orang yang baru saja saya temui beberapa bulan lalu sebagai partner kerja memberikan petuah yang bikin hati saya adem banget malam itu. Sebelumnya, saya mengalami momen yang awkward banget ketika beberapa orang mulai mempertanyakan status saya saat ini. 

"Kenapa nggak nikah, Mbak? Mantan udah nikah, lho!"

"Kenapa nggak usaha nyari Mbak Malica? Kasihan anak-anak tuh udah pada gede."

Ah, bagaimana saya harus menjelaskan pada mereka? Jika saya diam, takutnya mereka semakin penasaran, kan? 

Saya bukan tidak ingin menikah lagi. Keinginan untuk membina sebuah rumah tangga yang kedua pastinya ada. 

Tetapi kegagalan sebelumnya, cukup membuat saya tersadar bahwa pernikahan tidak hanya menyatukan dua hati saja. Melainkan menyamakan visi dan misi hidup, bisa menerima kekurangan pasangan, saling menghargai dan menghormati, menjaga kepercayaan pasangan, serta mampu menyatukan dua keluarga. 

Jika saja ada salah satunya tidak dipatuhi, maka, tidak menutup kemungkinan tembok rumah tangga yang tadinya kokoh, perlahan-lahan akan roboh. 

Yah, meski saya tahu bahwa hadirnya sebuah masalah dalam rumah tangga sangatlah wajar. Tetapi tetap saja, beberapa pilar yang sudah saya sebutkan di atas, alangkah baiknya tetap dijaga agar tercipta keluarga yang bahagia. 

Itulah yang menjadi alasan kenapa saya harus benar-benar mempertimbangkan dalam hal memilih pasangan. Saya juga bukannya nggak mau mencari pasangan selama 5 tahun ini. 


Sebenarnya ada sih yang klik di hati. Hanya saja, lagi-lagi saya berpikir apakah dia akan menerima keadaan saya? Perempuan yang tak lagi muda dan memiliki dua anak? Apakah dia bisa menganggap anak saya seperti anaknya sendiri?

Sungguh, memikirkan pernikahan kedua itu lebih ribet dibanding pernikahan pertama, apalagi jika ada anak. Sejatinya yang terlintas bukan perkara bagaimana ijab qobul yang akan berlangsung dengan khidmat. Atau apakah si dia lancar mengucapkan kalimat sakral itu ya? 

Namun sebaliknya, kegalauan itu hadir ketika saya harus mengenalkan sosok lelaki yang akan menjadi ayah bagi anak-anak. 

Bahkan sekadar menyebut namanya di depan anak-anak saja, mulut saya seolah terkunci, seperti dihadang oleh tumpukan batu-batu besar sehingga ucapan yang sejatinya ingin sekali saya sampaikan pada anak-anak tertahan di tenggorokan saja. Sementara hati saya menangis bak ditusuk duri yang sakitnya tak terperi.

Meski demikian, sampai saat ini saya tidak pernah memiliki keinginan untuk menutup hati dari lawan jenis.

Sesakit apapun luka di masa lalu, bukan berarti saya harus minder, nggak mau taaruf dengan lawan jenis, atau bahkan mengecilkan kelebihan diri. 

Cukup berpikir sederhana saja. 30 tahun bukanlah usia yang pantas untuk berbasa-basi dalam hubungan. Apalagi harus ngikutin tren menjadi bucin yang suka galau nggak jelas. Dimana kegalauan tersebut tanpa disadari memberikan efek kurang baik secara mental maupun psikis. 

Yang paling menyeramkan, kemungkinan saya pribadi pastinya sedikit banyak lebih suka mengeluh dan mengeluh. Tak jarang saya akan merasakan kesepian dengan tidak adanya pasangan, atau parahnya saya akan menganggap hidup ini nggak adil banget.

Padahal masih ada yang lebih penting untuk dipikirkan daripada sekadar meratapi nasib sebagai jomlo, bukan?

Teringat sebuah kelas online yang diadakan oleh satu persen dengan mengambil tema "Menyendiri tanpa merasa sendiri."

Wow .... tema yang unik untuk dilirik. Saat membaca info kelas tersebut di instagram satu persen, saya tergiur. Kenapa? 

Generasi sekarang sangat butuh yang namanya ilmu pengembangan diri. Allah menciptakan kita itu sebagai makhluk yang istimewa dibanding makhluk lain ciptaan-NYA.

Oleh karena itu, sebisa mungkin hargailah diri sendiri. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 70:  

Sebagai makhluk yang diistimewakan sekaligus dibekali akal oleh Allah, sehingga sudah sepatutnya sebelum berpikir kita harus mengolahnya terlebih dahulu. 

Sebelum berpikir kita sendirian di dunia ini, maka ingatlah bahwa Allah teramat dekat dengan kita. Itulah kenapa satu persen mengadakan kelas online berbasis self-improvement guna menyadarkan kita agar tidak berpikir negatif, tidak kehilangan jati diri ketika tersudutkan oleh ujian hidup, juga tidak menjadi sosok yang labil hanya karena omongan dari toxic people yang ada di sekitar kita. 

Makanya, perihal jodoh saya lebih memasrahkan pada Allah saja. Sesekali saya menjadi sosok yang cuek bebek ketika ada ucapan yang nggak enak didengar. 

Saya pun sangat yakin jika Allah telah menyiapkan jodoh terbaik buat saya kelak. Seorang imam yang tidak hanya menjaga dan menuntun saya menuju surga-Nya. Tetapi juga dialah yang akan menjadi panutan anak-anak saya. 

Itulah harapan saya. Akan tetapi jika sampai saat ini jodoh dari Allah belum juga tampak hilalnya, ya nggak masalah. Saya harus bersabar untuk menunggu lagi. 

Dan umpama, suatu saat takdir saya memang tidak dipertemukan lagi dengan jodoh yang klik.

Lantas apa yang harus saya lakukan agar terus bertahan dalam kesendirian?

Apakah saya akan bisa bahagia meski tidak ada pasangan untuk berbagi? 

At least untuk saat ini, kegagalan cukup mengajarkan saya untuk menjadi perempuan yang tegar dan mandiri. 

Dalam situasi apapun, saya harus bisa menciptakan sebuah kebahagiaan untuk diri sendiri sekalipun tanpa pasangan. Toh, fokus hidup saya sudah beralih pada mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak-anak bukan? 

Mungkin terdengar sangat egois ya? Tapi inilah pilihan hidup. Karena masa depan saya adalah anak-anak. Merekalah, dua perak yang harus saya ubah menjadi mutiara di masa depan. 

Nah, lantas bagaimana cara saya agar tetap bertahan seorang diri?

Apalagi di tengah wabah coronavirus seperti sekarang, bukan hanya mental yang terkekang, tetapi imbauan untuk bekerja dari rumah juga seringkali membosankan. Tidak ada pasangan untuk berbagi curhat perihal  finansial yang tak lagi stabil. Bisa saja menjadikan diri ini semakin merasa kesepian? 

Well, sepertinya saya harus memiliki cara untuk membahagiakan diri sendiri agar lebih ringan menjalani hidup bersama anak-anak. Tentunya selalu menjadikan Allah sebagai tempat bersandar dalam segala hal. 

Cara Bahagiaku Menikmati Status Single. Simple dan Anti Ribet!


1. Menulis Membuatku Merasa Hidup



Tak dimungkiri, menulis adalah cara saya untuk meraih kebahagiaan yang sebenarnya.

Mulanya, saya menulis hanya sebagai sarana self-healing. Namun, semakin ditekuni, perlahan-lahan menulis mampu mengurangi beban hidup.

Dengan terus menulis, saya merasa lebih hidup. Seperti yang dikatakan Natalie Goldberg, penulis buku berjudul Writing Down The Bones.

Buku tersebut kurang lebihnya berbicara tentang siapapun yang berprofesi sebagai penulis, dia bisa dikatakan seperti hidup dua kali. Di mana hidup pertamanya dihabiskan untuk menghasilkan tulisan awal. Hidup yang kedua lebih difokuskan pada mengoreksi tulisan, dan mengujinya.

Bagaimana maksudnya?

Ilustrasinya, seorang penulis bisa merekayasa sebuah kehidupan. Tentunya dengan imajinasi penulis yang disampaikan dengan bahasa tulisan.

Menulis genre apapun, penulis harus menyisipkan pesan pada pembaca. Memotivasi pembaca agar terpengaruh dengan apa yang sudah ditulis. Inilah yang menjadikan penulis selalu merasa hidup.

Dimana setiap goresan yang pernah dia torehkan, ternyata mampu membentuk napas kehidupan baru. Mereka yang merasa ujian hidup terlalu berat, tanpa sadar mau mengubah cara berpikir karena tulisan.

Jadi, itulah kenapa menulis membuat saya terus bahagia. Menulis selalu menuntun saya untuk menulis hal-hal positif agar tulisan tersebut menginspirasi.

Dan lagi, setiap tulisan adalah tanggungjawab. Kita nggak bisa menulis kalimat tanpa sebab. Apa yang kita tulis akan ada perhitungan di akhirat kelak.

Ada sebuah cerita, dan saya baru mengalaminya tiga hari lalu. Sungguh, kalimat ini sangat sederhana.  Karena saya ingin melampiaskan uneg-uneg dalam pikiran saja.

"Ketika sebuah kebaikan disalahartikan" kalimat ini yang saya tulis di media sosial instagram @malica_ahmad.



Dalam captionnya saya berbicara tentang apabila seseorang berprasangka buruk akan kebaikan yang kita lakukan, tak perlu membalas dengan ucapan. Apalagi harus mencari tahu kenapa mereka bisa berprasangka demikian.

Baiknya, untuk membungkam suara-suara tumbang tersebut adalah dengan prestasi. Biarkan diri kita terbang lebih tinggi, sehingga mereka yang meremehkan tak lagi mampu mengejar.

Ya, inilah yang saya sebut sejatinya menulis itu menguji diri sendiri. Apa yang kita tulis, bisa saja itu yang akan terjadi dalam kehidupan kita. Kemudian kita pun tertantang untuk mencari solusinya.

Jadi, menulislah yang baik hingga dari tulisan kita itu mampu memberi dampak yang baik bagi siapapun.

2. Kopi Selalu Menjadi Teman untuk Belajar Memaknai Hidup



Bukan rahasia umum jika dengan menyeruput segelas kopi di pagi hari akan memberikan energi positif saat beraktivitas seharian.

Kandungan kafein dalam kopi mampu membangkitkan hormon endorphin dalam tubuh sehingga saat kita menghidu aromanya saja, kita akan merasa nyaman dan tenang.

Inilah cara bahagia receh saya yabg kedua.

Saya adalah salah satu perempuan yang seringkali menyebut diri sendiri sebagai coffee lovers. Segala jenis kopi hitam sangat enak untuk dinikmati. Bahkan saya bisa katakan bahwa jenis apapun minuman yang pernah saya konsumsi, sungguh nikmatnya kopi belum terkalahkan.

Kopi selalu menjadi teman setia saya di mana pun dan kapan pun. Saat merasa suntuk, biasanya saya memilih untuk menyedu kopi dibanding menonton TV.

Tak hanya itu, saat saya merasa stuck menulis, saya seringkali menjadikan kopi sebagai pelarian untuk mencari inspirasi baru. Duduk di belakang rumah sembari melihat burung-burung kecil berterbangan, atau sekadar mendengar merdunya embusan angin menyapa pohon bambu yang rimbun.

Pokoknya, bercengkrama dengan kopi hitam selalu membawa akhir yang bahagia.

3. Traveling Membuatku Belajar Makna Syukur



Siapa sih yang nggak suka traveling? Siapa juga yang tidak bahagia saat traveling?

Traveling adalah salah satu alasan saya kenapa tetap bahagia meski berstatus jomlo.

Menurut saya, dengan melakukan traveling ke berbagai daerah, saya akan menemukan hal baru yang belum pernah saya temui sebelumnya.

Bagi perempuan seperti saya yang suka tantangan sekaligus selalu excited saat melihat sesuatu yang baru, traveling menjadi obat paling ampuh untuk melepas semua masalah hidup.

Bahkan saya bisa bilang, traveling memberikan sebuah kebebasan. Alasan ini juga yang menjadikan traveling jauh lebih membahagiakan dibanding harus sibuk memikirkan pasangan baru.

Solo traveling maupun backpacker bersama beberapa teman, sejenak meminta saya untuk mengenal diri sendiri lebih jauh lagi. Nggak masalah meski statusnya saya adalah seorang ibu dengan dua anak yang usianya masih 7 tahun dan 5 tahun.

Namun, kalian juga harus tahu bahwa ibu rumah tangga juga mendapatkan hak untuk melepas statusnya sementara dan memberikan kesempatan me time untuk dirinya.

Oh ya, traveling nggak harus mengeluarkan banyak modal kok. Dengan budget yang sangat minim pun, tentu saja kita sudah bisa berlibur ke tempat yang diinginkan.

Kuncinya, kalian harus mengatur keuangan rumah tangga dengan baik.

4. Berimajinasi Gratis dan Membuka Wawasan dengan Membaca



Siapa bilang membaca itu kegiatan yang membosankan?

Saya meletakkan membaca menjadi aktivitas keempat yang mampu menciptakan kebahagiaan.

Saya selalu menjadwalkan membaca buku setiap dua hari sekali. baik buku-buku tersebut berupa buku fisik maupun buku digital. Selain itu, saya juga acapkali membaca beberapa artikel dengan tema-tema yang disukai. Pokoknya, membaca harus menjadi kebiasaan.

Kenapa membaca membuat saya bahagia?

Sebab di sana saya mendapat ilmu gratis. Saya bisa mengambil hikmah dalam setiap tulisan di dalam buku, artikel, ataupun tulisan lainnya. Yang mana membaca secara tidak langsung mengajak otak saya untuk berjalan-jalan mencari kebenaran kalimat yang tertulis di sana.

5. Berdandan Meningkatkan Mood Secara Instan



Pernah mendengar jika perempuan akan selalu feel good jika dirinya berpenampilan look good. Nah, untuk menjaga penampilan nggak harus dengan berpakaian bagus. Cukup dengan bersolek atau menghias diri dengan lipstik saja, suasana hati perempuan tentu akan senang dan bahagia. 

Saya memang nggak bisa dandan. Tetapi saat suasana hati badmood, seringkali saya menghabiskan waktu untuk melukis wajah dan bibir. Meski setelah puas saya pun akan menghapus ukiran make up. Hahaha

Dan jangan lupa, berdandan bukan hanya boleh dilakukan untuk perempuan bersuami saja kok. Jomlo juga punya hak untuk bersolek demi membahagikan diri sendiri. Bukan untuk orang lain, ya. 

Teman, lima hal di atas memang terkesan sesuatu yang remeh, bahkan receh sekali. Sebenarnya tidak hanya saya yang bisa melakukan, tetapi semua orang mampu untuk mempraktikannya.

Hanya saja, nggak semua orang dapat mengambil bagian-bagian penting yang bisa membuat bahagia.

Padahal apapun aktivitasnya, jika hati kita merasa senang melakukannya, dengan pikiran yang fresh tanpa beban, serta bisa mengambil setiap pelajaran. Kebahagiaan itu pun tercipta dengan sendirinya tanpa perlu dicari ke tempat yang sangat jauh sekalipun. 

Yang namanya bahagia, itu sangat dekat dengan diri kita kok. Cuma ya gitu, tak banyak dari kita yang menyadari.

Anehnya, sebagian dari kita mempercayai bahwa cara menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri itu susah. Sehingga mereka seolah-olah hidupnya tidak bahagia.

Akhirnya, kita pun mengeluhkannya ke sana-sini, kemudian merasa sendiri dan tidak punya teman dekat yang bisa mengerti. Padahal kalau kita mau, bahagia cukup dilakukan dengan bersyukur dan janganlah merasa sendiri. 

Ingat, Allah selalu dekat. Allah menemani setiap langkah dan keringat yang kita teteskan untuk berjuang di dunia.

Jomlo? Nggak ada pasangan?

Ya woles aja. Punya pasangan pun belum menjamin hidup kita sempurna kok. Percaya deh.

Jadi, bahagialah dengan caramu, bukan cara tetangga di sebelahmu. Ciptakan, bukan mencari. Itulah yang disebut kebahagiaan hakiki.   
4 komentar on "Jangan Pernah Merasa Sendiri, Ada Allah Bersama Kita "
  1. Kamu tuh, wanita kuat! Suka semangatnya. Semoga Allah selalu menjagamu dan memudahkan jalanmu.

    BalasHapus
  2. Keren mbak , salut sama prinsip nya..tetap smangat kak malica 🙏😊 salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kak Fatimah. Makasih ya udah mampir. Hehehe

      Hapus
  3. Hebat mbk icha, saya bangga menjadi muridmu. Peluk erat mbk cik😘😘

    BalasHapus

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9