Ketika Kamu Merasa Lelah dan Berpikir Untuk Menyerah

Jumat, 18 September 2020


Ketika-kamu-merasa-lelah

“Apakah saya hanya cocok sebagai teman di saat butuh saja? Atau saya ini memang teman yang bisa diajak berbagi? Atau sepenting apa sih diri saya ini?”


Pernah berpikir demikian?

Saya pernah. Dan rasanya sakit sekali saat memikirkan itu Bahkan saking sakitnya, saya tidak mampu menahan air mata lagi. 


Memang Sesakit apa sih? Hah? Pertanyaan konyol banget. Sudah jelas sangat sakit. Coba deh kamu bayangkan, misal memiliki teman dekat. Setiap hari saling bertegur sapa. Tetapi suatu waktu, dia melupakanmu hanya karena ada orang lain yang lebih penting menurutnya.


Lalu ketika kamu mencoba bertanya, "Kamu kok gitu sih! Aku kan temenmu yang udah lama banget. Jauh sebelum kenal sama dia, kamu tuh udah kenal aku dulu. Terus, kenapa kamu gampang banget nglupain aku hanya karena orang baru?"


Dan si dia pun menganggap kita tukang ngeluh. Dia menganggap marahnya kita terlalu lebay. Dia bilang, kita nih baperan. Duh, menjengkelkan banget!


Padahal tahu nggak, kita sebenarnya ingin menyadarkan dia.

"Ini loh Aku. Temen yang selalu ada buat kamu. Nggak peduli kamu susah atau senang. Kita selalu ada. Cukup. Maka, coba tengok sedikit saja. Pasti kamu bakal menemukan kebaikan itu."


Ketika-merasa-lelah


Nah, rasa kecewa tersebut hanya bisa saya lampiaskan pada cermin. Karena saya tipe perempuan yang suka memendam masalah dibanding menceritakan kepada orangnya langsung. 


Tetapi ketika nanti mood sudah membaik serta suasana tegang dari diri sendiri sudah terlewati. Maka, saya pun tak segan membuka obrolan dengan teman untuk sekadar saling berdiskusi atas kekesalan yang sudah berlalu. Basi banget sih! 


Sebenarnya nggak basi kok. Nggak rugi juga ngomel sendiri di depan cermin. Sudah menjadi kebiasaan saya ketika saya marah, kesal, atau kecewa. Di depan cermin, saya bakal ngoceh-ngoceh sendiri sampai lega. 


Terkadang cermin itu sebagai teman paling baik. Karena dia bakal menerima luapan emosi kita apa adanya. Cermin juga kerap mengingatkan siapa diri kita agar tersadar tidak semua orang yang dekat dengan kita. Mereka bakal suka. Dengan mengaca di cermin juga, kita senantiasa memperbaiki diri. Siapa tahu kita yang salah, kan? 


Dan ketika sudah lega melampiaskan pada cermin. Tetapi saya masih merasa putus asa dan ingin menyerah, terbesit keinginan untuk berlari ke suatu tempat yang sangat sepi. Lalu berteriak sekencang-kencangnya. Dan saya akan bilang pada langit, 


"Saya ingin menyerah. Saya tidak ingin berteman dengan rasa sakit lagi."


Ah, sungguh terapi hati yang sangat ampuh. Kamu pernah begini? Semoga jangan!  


Sebuah Pesan Datang di Waktu yang Tepat


Saat merasa putus asa karena tidak dianggap ada. Tiba-tiba, seorang teman blogger mengirim pesan ke saya. Dia menunjukkan hasil gambar editannya di canva sembari mengirimkan link blogpost yang baru saja dia unggah di blog pribadinya beberapa jam yang lalu. 


Entah kenapa, pada saat saya melihat caption di gambar yang dia bikin,  saya langsung tertarik untuk membaca tulisannya "Ketika Kamu merasa lelah." Dan tahu apa yang terjadi setelah saya membaca tulisan teman saya tadi?


Pipi saya basah. Jujur saya tidak bisa menahan air mata tersebut untuk berhenti mengalir. Dan saya mulai berusaha berpikir jernih.  


"Astagfirullah. Maafkan saya yang sudah khilaf. Untuk ke sekian kali, rasa sakit itu hadir dalam kehidupan saya. Bahkan saya sudah akrab dengan rasa sakit itu. Tetapi kenapa saya tidak pernah menyadari. Jika dari rasa sakit yang berkali-kali itu, saya seolah di kode oleh Allah untuk tidak bergantung berlebihan dengan makhluk-Nya. Allah seolah ingin menyadarkan saya bahwa jangan terlalu berharap lebih kepada ciptaan-Nya yang ada di dunia. 


Di sini saya menyimpulkan, saat yang lain tidak memedulikan kita atau bahkan menganggap kita tidak ada sekalipun dekat. Allah pasti memberikan solusi agar hati tetap terisi dengan hal-hal positif. Hati lebih sehat tanpa prasangka negatif. Adalah teman yang datang di waktu yang tepat. Tulisannya mengubah cara berpikir saya. 


Penting Baca Ini:

 

Sebelum Berpikir untuk Menyerah, Maka Ingatlah 6  Hal ini! 


Kamu mungkin pernah merasa lelah dan ingin menyerah saja. Lalu, kamu akan memilih untuk menjadi orang yang paling "ngenes" karena di mana pun berada tidak pernah dianggap dan dihargai. 


Apa yang sudah kamu lakukan dan perjuangkan ternyata justru menjadi boomerang untuk diri sendiri. Dan berlari dari masalah, lalu menjauh dan pergi seolah menjadi solusi. 


Tetapi apakah benar, menjauh dan pergi menjadi solusi lelah akan hilang?


Ah, kamu salah. Boleh-boleh saja kamu merasa lelah dan ingin menyerah. Tetapi cobalah angkat kepalamu dan luruskan pandanganmu kembali. Lalu bertanyalah pada diri sendiri sekali lagi.


"Apakah benar kamu sendirian yang merasakan kegagalan hidup karena tak dianggap? Apakah benar kamu orang yang paling sakit karena pengorbananmu tak pernah dianggap? Apakah benar hidupmu paling menderita ketika orang yang kamu anggap penting, ternyata tidak pernah menganggapmu penting?"


Kamu jelas salah. Jauh di sana masih banyak orang yang paling menderita. Cobaan hidup mereka lebih berat dibanding kamu yang merasa tak dianggap. Kalau kamu merasa putus asa, kamu merasa lelah dan ingin menyerah. Maka, ingatlah selalu 6 hal ini! 


1. Percayalah, Allah tidak Akan Memberikan Cobaan di luar Batas Kemampuanmu


Saat ingin menyerah, saya dan kamu harus diingatkan kembali dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 286, artinya: 


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."


Dari penggalan arti ayat tersebut, kamu bisa memahami bahwa batas kemampuan setiap orang berbeda-beda dalam menghadapi ujian Allah. 


Ayat di atas juga bisa menjadi pengingat bagimu dan saya yang sedang terpuruk dan banyak beban hidup. Namun di ayat tersebut juga memberikan penegasan bagi siapa pun yang mau berserah diri kepada-Nya. Meminta ampunan-Nya serta senantiasa beriman bahwa di balik ujian ada sebuah hikmah. 


Hal ini pun ditegaskan kembali di surat Al-Insyirah ayat 5-6:


Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6)


Penting baca ini:


2. Ada Saat Di mana Usahamu Akan Berbuah Manis  


Ketika-kamu-merasa-lelah

Mungkin selama ini kamu berusaha menjadi sosok terdepan buatnya. Kamu berusaha selalu ada untuk dia. Namun, ketika tiba-tiba dia melupakan karena ada yang lain dalam pertemanan, tak dimungkiri ada hati yang teriris. 


Maka di situlah kamu harus belajar menerima dan berhenti berputus asa hanya masalah tak dianggap ada. Percayalah, mungkin bukan sekarang kamu bakal merasakan manisnya perbuatanmu untuk dia. Ada saat di mana usaha terbaikmu akan diganjar dengan manis. bersabarlah. 


3. Ketika Orang Lain Tak Memberi Perhatian Apa yang Sudah Kamu Lakukan, Istirahatlah. Saatnya Kamu Mencari Kenyamanan Untuk Diri Sendiri

Ketika-kamu-berputus-asa

Berhenti berharap perhatian mereka yang enggan membersamai langkahmu. Itu hanya akan membuat hatimu semakin terluka.  Kini saatnya untuk bangkit menyembuhkan luka itu. Dan belajarlah untuk mencari kenyamanan diri sendiri. Semangat! 


4. Pertahankan Jika Masih Pantas Untuk Dipertahankan. Tapi Lepaskan Jika Kuatmu Telah Berkurang


Jangan-berputus-asa

Jangan memaksakan diri untuk bertahan. Karena jika sudah terlanjur sakit, maka luka itu butuh waktu untuk menyembuhkan. Biar kamu nggak tambah sakit, dan rasa lelahmu berkurang. Berusahalah untuk melepaskan. Karena kamu harus tahu, ada masa di mana kita harus memberi dan kapan kita harus menerima.


5. Kamu tidak Bisa Mengukur Kesetiaan Seseorang. Bisa Saja Mereka Setia pada Kebutuhanmu, Bukan Dirimu. 


Marah, kecewa dan sedih pastilah ada saat kamu tahu dia setia padamu hanya saat butuh. Tetapi janganlah bersedih. 


Justru disitulah sebuah ketulusan dan kesetiaan dalam hubungan sedang diperlihatkan. Artinya. Kamu memiliki kelebihan. Kamu memiliki keistimewaan yang tidak dimilikinya.Maka, ubahlah sedihnmu menjadi rasa syukur. 


6. Ingatlah, Saat Dia Mengabaikanmu. Maka Kamu sedang Diajarkan Untuk Menjadi Pribadi yang Kuat   


Ketika-merasa-lelah

Bisa jadi kamu tetap bertahan dengannya karena kamu belum siap untuk sendiri. Kamu takut tanpanya, hidupmu terasa sepi. Padahal tidak demikian. Yang sebenarnya adalah ketika kamu memilih tetap tinggal dalam situasi yang tidak dihargai, perlahan tanpa disadari kamu telah menghancurkan hatimu sendiri. 


Jadi akan lebih baik kamu belajar hidup tanpanya. Yakinlah, kamu kuat. kamu akan baik-baik saja. Karena orang seperti dia itu hanya diizinkan lewat sementara dalam hidupmu, bukan untuk menetap. Maka, kuatkan hati dan bahagiakan diri. 


Kesimpulan


Sakit hati wajar ketika tak dianggap. Tapi percayalah, masalah seperti itu terkadang mampu mendewasakan pikiran kita. Setidaknya kita tersadar jika dekat dengan seseorang belum tentu dia menjadikan kita sebagai teman istimewa. 

Dan ketika kamu baru menyadari itu, pasti tak hanya sakit. Kamu pasti merasakan lelah dan ingin menyerah. Tetapi sebelum itu, kamu harus pahami 6 hal penting yang bisa dijadikan renungan. 


2 komentar on "Ketika Kamu Merasa Lelah dan Berpikir Untuk Menyerah"
  1. Mba malica..kenapa aku melow banget baca artikel ini ya. Abis itu malah jadi terbayang wajah mungilmu. Keep strong dear. Kamu wanita hebat.. wanita kuat.. ������

    BalasHapus
  2. Nangis bacanya mbak.. Sebagai mental illness survivor, hampir tiap hari kami harus menghadapi yg semacam ini. Ada tips-tips ttg mental health juga yg kutulis di blogku.

    Makasih udah nulis ini mbak..

    BalasHapus

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9