Menjaga Kekayaan Laut Indonesia di Tengah Pandemi

Sabtu, 04 Juli 2020


Hamparan pasir terbentang luas. Birunya lautan berhadapan sejajar dengan warna biru langit yang begitu indah dipandang. Ditambah pemandangan gugusan bukit karst berdiri kokoh di tengah-tengah lautan, Seolah menjadikannya primadona di antara kekayaan di Indonesia. Apalagi saat  mata tertuju pada pepohonan yang mengelilingi lautan, tiupan angin yang menerpa wajah begitu menyejukkan. 

Keindahan laut di Indonesia memang tidak diragukan lagi. Saya selalu jatuh hati setiap kali berkunjung ke wisata pantai yang ada di Indonesia. Seperti bulan februari lalu, saya nggak menyangka bisa menjejakkan kaki di pantai Gili Trawangan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dari kota Mataram, saya dan teman-teman berangkat menggunakan sepeda motor. Sementara dari pelabuhan Bangsal menuju ke pulau Gili Trawangan, saya beramai-ramai naik canoe

Seru sekali rasanya. Tak menyangka kekayaan laut Indonesia yang seringkali diunggulkan di layar kaca, atau bahkan menjadi salah satu wisata pantai favorit dan digemari di Lombok, memang keindahannya begitu menakjubkan. 

Sesampainya di Gili Trawangan, pemandangan crowded lalu-lalang para wisatawan asing cukup membludak. Sepertinya saya dan rombongan salah hari. Karena week day, jadi wajar saja jika area pantai dipenuhi oleh para turis. 

Awalnya saya sangat nyaman memandangi keelokan laut lepas, yang di bagian pinggir lautnya di kelilingi oleh perahu maupun speed boat. Ada juga beberapa turis yang berjemur, serta bermain snorkeling dan diving. Namun, di sisi lain beberapa sampah bekas camilan atau snack yang menemani para pengunjung bersantai ria di pinggiran pantai sedikit  berserakan. Sekilas sangat merusak pemandangan. 

HAL-HAL YANG MERUSAK EKOSISTEM LAUT


Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas wilayah perairannya jauh lebih luas dari daratan. Perbandingannya 3,1 juta km2  dibanding daratan yang luasnya hanya 1,9 km2.  Artinya bisa disimpulkan bahwa kehidupan manusia sangat erat hubungannya dengan laut. 

Pernah berpikir nggak ketika harga ikan yang dijual di pasaran harganya menurun?

Biasanya kasus harga turun ini dipengaruhi oleh hasil tangkapan ikan melimpah dan memang pada musimnya. Sebaliknya, ketika harga ikan mulai melonjak naik, maka ikan yang ditangkap oleh nelayan mulai berkurang. 

Nah, inilah yang saya maksud dengan hubungan manusia dan laut itu sangat erat. Bahkan, kalau bisa manusia dan ekosistem laut bisa disebut simbiosis mutualisme. Jadi sudah selayaknya keduanya saling membantu agar kelestarian ekosistem laut terjaga. 

Sayangnya, tidak sedikit orang yang sadar akan hal tersebut. Sebagian dari kita masih sering terlupa, bahkan mungkin tanpa sadar merusak ekosistem laut dengan melakukan kesalahan yang remeh. Berikut  hal-hal yang dapat merusak ekosistem laut yang harus kita ketahui bersama.

  • Membuang Sampah Sembarangan di Pantai
  • Menangkap ikan menggunakan bahan peledak, racun, serta jaring yang menyebabkan kerusakan terumbu karang
  • Membuang limbah ke laut
  • Penambangan pasir pantai yang dilakukan manusia untuk dijadikan bahan bangunan
  • Laju abrasi yang meningkat tinggi
  • Pemanasan global
  • Membuang sampah ke sungai


Akibat kurangnya kesadaran diri dari rakyat setempat maupun wisatawan yang berkunjung. Hal-hal remeh seperti di atas terabaikan. Namun memberi dampak yang cukup besar. Sangat disayangkan bukan? lantas, bagaimana keadaan laut saat ini setelah terserang oleh pagebluk yang bernama Pandemi? 

WABAH PANDEMI CORONA DAN DAMPAK POSITIFNYA PADA LAUT


Pagebluk Pandemi Covid 19 ini memang membawa banyak perubahan. Hampir 3 bulan berjalan, yang namanya virus corona tak kunjung ada solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Justru semakin hari korbannya bertambah. Dilansir dari media pikiranrakyat.com terdapat 64.958 orang yang positif terdampak virus ini. 

Makanya, pantas saja dari pihak pemerintah memberlakukan aturan agar tetap di rumah saja. Alasannya jelas, yaitu virus yang menakutkan ini cara penularannya melalui sentuhan. Sehingga tingkat menularnya lebih tinggi. 

Sekilas virus ini memberikan banyak dampak negatif pada masyarakat, karena ruang gerak mereka seolah terbatas. Transportasi di daerah mulai sepi. Dan tidak disangka ternyata dampaknya pada perekonomian sangat signifikan. 

Tak heran jika beberapa perusahaan gulung tikar. Tak hanya itu saja, dari beberapa berita di televisi serta artikel-artikel yang tersebar di media online, beberapa daerah yang mata pencahariannya 100%  mengandalkan hasil dari sektor wisata juga mengalami penurunan. Bahkan dikatakan nggak turun lagi melainkan banyak tempat wisata yang ditutup. 

Tentu saja dari proses penutupan tempat wisata ini, khususnya wisata pantai ternyata banyak memberikan dampak positif. Penjelasan dampak positif ini diperkuat oleh dua narasumber di bidangnya saat acara talkshow online Ruang Publik Serial Perubahan Iklim "Menjaga Laut di Tengah Pandemi" oleh Prof. Muhammad Zainuri, Guru Besar Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang. Ada juga Githa Anathasia, Pengelola Kampung Wisata Arborek dan CEO Arborek Dive Shop Raja Ampat. 

Menurut Profesor Zainuri, tragedi pandemi yang sebenarnya sudah ada sejak bulan Januari akhir di tahun 2020 telah memberikan kesempatan untuk laut beristirahat. Sehingga tak heran jika saat ini Anda berkunjung ke laut, Anda akan mendapati jumlah ikan lebih banyak dan beraneka ragam jenisnya. Selain itu, ikan dan biota-biota laut lainnya mengalami proses tumbuh dengan cepat. 

Pasalnya, dampak positif tersebut dikarenakan tidak adanya aksi manusia yang merusak ekosistem laut seperti biasanya. Diperkuat lagi dari pernyataan Ghita Anatashia yang bercerita tentang keadaan laut di Raja Ampat. Di mana pagebluk Pandemi telah memberikan kesempatan pada terumbu karang dan fauna di laut untuk beristirahat selama covid-19. 

Mereka bisa berkembang biak secara optimal karena tidak ada wisatawan yang melakukan aktivitas diving dan snorkeling. Laut pun menjadi bersih sehingga beberapa Hiu mulai bermain-main ke daratan. 

Tidak hanya itu, dampak positif lainnya juga dijelaskan bahwa masyarakat mulai belajar menghidupi dirinya sendiri dari hari ke hari. Mereka yang biasanya mengandalkan penghasilan dari homestay, kini mulai mengubah haluan menjadi nelayan kembali. Ada juga yang mulai berkebun, memancing ikan untuk dijual kembali, serta keakraban  masyarakat lebih kental dibanding sebelumnya. Bahkan yang paling menarik, Pandemi memaksa masyarakat di daerah Ghita Anastasia untuk lebih kreatif lagi, misalnya membuat ketrampilan untuk dijual.

LAUT HARUS MENDAPATKAN PERHATIAN YANG LAYAK 


Menurut peneliti dari Universitas Washington dalam tulisannya jurnal science menyatakan laut merupakan obyek yang terdampak oleh perubahan iklim. Oleh karenanya, laut patut memdapatkan perhatian yang layak. Sebagaimana laut banyak menyimpan kekayaan sumber daya alam, maka sudah sepantasnya laut diperhatikan. 

Kenapa demikian? 

Mungkin selama ini beberapa dari kita memandang laut hanya bisa menjadi pendukung perekonomian. Tetapi faktanya, laut bisa menjadi tempat mencari inspirasi, tempat untuk melepas masalah, mendapat kesenangan, serta tempat budaya. Maka dari itu, upaya menjaga laut harus digalakkan. 

Dalam hal ini, kita bisa mencontoh beberapa tindakan yang dilakukan di Kampung wisata Arborek, yaitu dengan cara sebagai berikut: 

  1. Menciptakan peluang usaha pada masyarakat yang tinggal di sekitar pantai tanpa harus merusak ekosistem laut
  2. Membatasi keluar masuknya kapal 
  3. Melakukan kontrol pada pembatasan kendaraan dan wisatawan yang masuk demi menjaga laut agar tidak mengalami kerusakan
  4. Penanaman mangrove di sekitar pesisir pantai
  5. Pelatihan edukasi tentang diving dan snorkeling
  6. Antara pemerintah dan masyarakat harus memiliki visi dan misi yang sama agar lebih mudah bekerjasama


Tentunya bukan rahasia lagi jika sebuah tujuan akan tercapai apabila antara satu orang dengan orang lainnya bisa bekerjasama. 

Nah, hal ini juga berlaku pada kita, khususnya masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai. Yang mana pantai tersebut ternyata menjadi sumber mata pencaharian. Untuk itu, baik masyarakatnya maupun pihak pemerintah daerah setempat harus saling bekerjasama dan memiliki kesadaran diri demi terciptanya lingkungan laut yang asri. 

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Be First to Post Comment !
Posting Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9