Serba-serbi kehidupan di mata Malica

NGABUBURIT ASYIK NGGAK BIKIN DOMPET KOSONG? IKUTI 5 IDE KEREN INI, YUK!

Minggu, 19 Mei 2019


Hola, Sahabat Malica  

Tak terasa kita sudah menjalani puasa selama 15 hari, ya. Padahal baru beberapa hari yang lalu kita ramai menyambut kedatangan bulan Ramadan penuh berkah ini dengan aneka tradisi-tradisi unik dari berbagai kota, bahkan negara. 

Ah, itulah namanya waktu yang terus berjalan. Bukan dia yang menunggu kita, melainkan kitalah yang harus mengimbanginya. Dan supaya kita nggak menyesal kehilangan momen berharga bersama bulan Ramadan kali ini, nggak ada salahnya dong untuk disiplin waktu lagi. Disiplin dengan to do list yang sudah kita buat, dan lebih taat lagi dalam menjalankannya. 

Nah, kalau sudah bicara soal to do list saat Ramadan gini, saya jadi inget zaman muda dulu. Masa lajang di mana saya masih bebas melakukan apa saja, atau bisa juga dibilang bandel sih. hehehe ... soalnya paling suka sama tantangan.  Nggak ada hujan, nggak ada angin tiba-tiba saya suka ngajakin teman-teman pesantren Mahasiswa ngabuburit asyik dengan berburu takjil di beberapa masjid yang agak jauh dari pondok kami. 

Padahal tuh ya, tempat berburu takjilnya jauh. Tapi saya dan teman bela-belain berangkat jam 3 sore saat matahari masih lumayan terang, sambil bersandal jepit ria dan naik sepeda ontel. Nyampek tempat tujuan terkadang 10 menit sebelum adzan atau kurang dari setengah jam. Yah, maklum sih. Surabaya kan suka macet menjelang berbuka. Hehehe

Kok dibela-belain kayak gitu sih? Berburu takjil kan bisa di masjid dan tempat terdekat aja? 

Ya memang sih. Tapi karena kita suka tantangan, jadi sekalian aja cari perjalanan yang cukup menantang. Hehehe ... padahal tujuannya ngabuburit asyik itu, saya dan teman cuma pengen menghemat pengeluaran saat Ramadan menjelang lebaran datang, supaya bisa beli baju baru. Makanya numpang berbuka dengan takjil gratisan. Tapi seru, kan? Hahaha 

Tapi kalau sekarang ada yang ngajakin ngabuburit asyik model begitu, nggak yakin saya bakalan nerima dengan senang hati. Apalagi ada anak-anak yang masih menunggu kejutan ibunya selama 30 hari berpuasa ini dengan menu-menu masakan yang menggelitik perut tak kuat menunggu beduk. Hihi .. 

Jadi, saya lebih memilih ngabuburit asyiknya bersama anak di rumah saja deh. Selain bisa menghemat dan nggak bikin dompet emak jebol, ngabuburitnya bisa bermanfaat. 

Kira  kira apa ya itu? Ikuti dan baca 5 ide keren dari saya, yuk! 

1. Nonton Bareng 

Selepas ba'da asar sambil menunggu waktunya berbuka, saya dan anak-anak menghabiskan waktu dengan nonton bareng. Kebetulan pekerjaan memasak sudah kelar, anak-anak sudah rapi, dan saya pun sudah berhenti dari kesibukan menulis. Tapi tetap disambi dengan kerjaan online yang kadang butuh perhatian. Hanya saja, pusat perhatian saya lebih banyak ke anak dan nonton bareng.

Film favorit kami adalah kartun Dodo dan Syamil. Nobar di Youtube sambil menirukan apa saja yang dilakukan Dodo dan Syamil. Mulai dari menyanyi, baca doa, praktik salat dan banyak tingkah polah Dodo dan Syamil yang bikin sulung dan bungsu gemas. 

Tak jarang, mereka juga melempar beberapa pertanyaan dari apa yang sudah dilihat. Akhirnya, terbukalah diskusi seru antara kami bertiga, seperti :

"Bu, Kenapa kalau mau salat kok harus wudu dulu?"
"Bu, kenapa Dodo dan Syamil tidurnya harus dipisah?"
"Bu, kenapa minum kok nggak boleh sambil berdiri?"

Dan beberapa pertanyaan lain yang sempat bikin kami lupa bahwa waktunya berbuka tinggal sebentar lagi. Receh banget, kan? Tapi Insyaallah hemat banget. Hehehe 

2. Membaca

Kata Ngabuburit yang pertama kali diterbitkan oleh Lembaga Basa dan Sastra Sunda (LBBS), adalah memiliki arti ngalantung ngadagoan burit atau bersantai-santai sambil menunggu waktu sore. Waktu sore (Burit) di sini berkisar antara 15.30 sampai 17. 30. Di selang waktu tersebut, saya biasanya menghabiskan waktu untuk mengajak anak-anak membaca buku. 

Yup. Supaya nggak monoton, selain nobar bareng film Dodo dan Syamil agar ngabuburit asyik dan menyenangkan, saya kerap menyelingi aktivitas sore dengan membaca buku. Biasanya sih saya saya yang baca bukunya sambil sedikit-sedikit mendongeng gitu. Nggak banyak kok. Cukup satu cerita saja, itupun kadang nggak sampai habis dan harus dilanjut di hari berikutnya. 

Jadi selama 15 hari puasa berlangsung, kegiatan di rumah bisa dikatakan sangat padat. Tapi justru di sinilah serunya nanti ketika kegiatan ini bisa diterapkan secara konsisten meski bulan Ramadan telah usai. Sebab anak kecil itu lebih nyantol dengan kebiasaan yang dibiasakan secara rutin. Jika sudah terbiasa, tanpa disuruh pun mereka akan memiliki inisiatif untuk melakukannya sendiri. 

3. Ngabuburit dengan Alam 

Ngabuburit dulu yuk! mungkin itulah pesan singkat para muda dan mudi yang disebar melalui pesan whatsapp yang biasa saya temui di pinggiran jalan sawah saat saya pulang mengajar dari bimbel bulan puasa tahun lalu. 

Sehingga dengan kompaknya mereka berbondong-bondong datang ke pinggiran sawah sambil memandangi rawa luas, hamparan padi yang hijau, serta langit biru indah nan cerah. 

Mereka benar-benar memanfaatkan bulan Ramadan ini sebagai momen silaturahmi dengan teman-teman dan sanak kerabat dengan cara yang berbeda, yaitu bersahabat dengan alam yang nampak sangat murah dan menjadikan ngabuburit asyik sekaligus istimewa.  

Dan ketika nanti waktu berbuka sudah tiba, mereka akan kembali ke rumah. Ada juga yang membawa tikar lengkap dengan hidangan buka sederhana untuk dinikmati bersama teman-teman. Seru ya? 

4. Olahraga Ringan 

Siapa bilang puasa nggak bakalan kuat olahraga ringan? 

Guys, mungkin benar jika berpuasa adalah menahan lapar dan haus. Tapi bukan berarti kita nggak boleh bergerak yang katanya justru bikin perut keroncongan, kan? 

Justru dengan berolahraga sambil menunggu waktu berbuka, dijamin deh rasa malas dan perut keroncongan itu nggak bakal lagi terasa. Malahan bikin kita bertambah sehat. Berikut adalah olahraga ringan yang bisa dilakukan, seperti bersepeda, Yoga, dan jalan santai. 
Yuk, dicoba supaya ngabuburitnya asyik dan menyenangkan, ya!


5. Berkebun

Ingin melakukan ngabuburit lain daripada yang lain? Berkebun saja, yuk! 

Aktivitas berkebun jarang dilakukan banyak orang, apalagi saat bulan puasa seperti ini. mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang dewasa rata-rata lebih memilih ngabuburit nongkrong di café, masjid, dan tempat-tempat berburu takjil yang cukup memacu andrenalin. Hehehe

Padahal nih ya, ngabuburit dengan berkebun juga bisa dijadikan cuci mata sekaligus bikin mata sehat, lho. Gimana tidak, dengan melihat tanaman yang tumbuh di depan rumah tampak subur dengan daun-daunnya tampak segar, mata yang melihat pasti sangat terpesona. Ajak si kecil juga boleh kok. Siapa tahu bisa menjadi acara ngabuburit asyik beda dari yang lain.


Bagaimana 5 ide di atas? Sangat patut untuk dicoba, bukan? Walaupun ide yang saya tawarkan sangat sederhana, tapi dijamin ngabuburit asyik, seru dan bisa lebih hemat, lho! Nggak perlu khawatir lagi dompet kosong menjelang lebaran, kan? 


MENAHAN DIRI KETIKA RAMADAN DENGAN GERAKAN PUASA MEDIA SOSIAL YUK!

Sabtu, 18 Mei 2019


Ngomongin tentang media sosial akan selalu menarik, ya? Sebab media sosial adalah salah satu hiburan buat emak-emak macam saya. hahaha 

Biasanya sebelum puasa, saya suka mencari hiburan dengan cara aktif di media sosial, terutama facebook. Selain ada kerjaan dari klien untuk nge-buzzer sebuah produk, di facebook seringnya saya menulis curhatan yang dibumbui dengan storytelling namun terselip hikmah. Kadang juga iseng bikin quote receh  dan posting status murah meriah banget tapi entah kok justru mengundang banyak komentar dan like dari teman-teman media sosial. Hihi

Diam-diam saya juga hobi mencari hiburan dengan membuka akun para motivator di instagram, lho, siapa tahu dari sana ada sebuah pembelajaran. Seringnya sih dapat hikmah, alhamdulilah. Hehehe  

Tapi anehnya, setelah stalking akun motivator, entah kenapa akun para gosip-gosip itu juga begitu menggoda. Hati saya nggak kuat iman untuk tidak mengikuti mereka. Meski cuma bisa tertawa sendiri di rumah macam orang gila bermain HP, rasanya tuh udah bahagia banget. Penat karena aktivitas dunia nyata yang cukup melelahkan hilang seketika. Padahal hiburannya receh, kan? 

Tapi jangan ditanya setrikaan dan cucian baju sudah selesai atau belum ya. Soalnya media sosial tuh bikin candu banget. apalagi kalau sudah stalking sana-sini, duh, hampir dua jam-an melototin HP pun nggak bakalan terasa. Yang ini parah banget! Dilarang ditiru, lho, ya. hihii 

Hiburan saya receh, tapi bahagianya nggak ketulungan, lho, Mom. 

Namun, beberapa bulan ini entah kenapa saya agak malas untuk menyentuh media sosial lagi. Dalam sehari bisa dihitung saya update status di FB dan IG, bahkan bisa dibilang tidak sama sekali kecuali ada kerjaan. Seolah-olah media sosial itu bukan lagi sesuatu yang bikin candu buat saya. 

Apalagi masa-masa menjelang pemilu satu bulan yang lalu, wuah, saya hampir menutup akun facebook pribadi gegara media sosial semakin panas. Di mana-mana saling sindir-menyindir, nyinyir, dan apalah itu. Makanya saya memilih mengasingkan diri dengan tidak membuka media sosial dan mengalihkannya dengan membaca buku di daring Perpusnas. 

Ngomongin soal nyinyir atau julid di media sosial sih sebenarnya bebas. Siapa saja bebas mengutarakan perasaan dan pendapat masing-masing. Hanya saja kalau terus-terusan kan bikin energi negatif muncul. 

Tanpa sadar emosi ikut bergejolak, jari ini pun tak kuasa untuk ikutan berkomentar. Meski faktanya saya mati-matian berusaha menahan jari agar tidak kesleo berbicara yang kurang pantas. Tapi tetap saja, bagi saya tidak ada faedahnya memperdebatkan sesuatu yang kenyataannya kita belum tahu dengan pasti. Jadi, solusi terbaik adalah menjauh. Cari aman kerennya. Eh, nggak tahunya keterusan di zona aman. Hihihi

Alhasil, bulan Ramadan ini mentargetkan diri update status berhubungan dengan blog saja.  Kebetulan saya juga ikut #Challengemenulis bersama Indscript ini. Setidaknya postingan saya bisa memberi manfaat. Mengingat bulan ini juga merupakan bulan ramadan penuh berkah dan hikmah, rasanya tidak pantas juga memberi tulisan yang memunculkan aura negatif, bukan?

Jadi, biar terasa bedanya antara bulan suci dengan bulan-bulan sebelumnya, alangkah baiknya kita bersama-sama saling menahan diri ketika Ramadan berlangsung selama 30 hari ke depan dengan melakukan gerakan puasa media sosial.

Puasa media sosial? Apaan tuh? 

Apakah kita harus nonaktif semua media sosial selama sebulan? Nggak posting curhatan di FB? Nggak nulis cuitan di twitter? Nggak ngegosip di Instagram?

Tenang. Bukan itu kok maksud saya mengajak teman-teman semua untuk puasa media sosial. Tetapi lebih pada menahan jari agar kita sedikit menyaring tulisan mana yang pantas untuk dipublish dan tidak di media sosial selama Ramadan. 

Karena sejatinya, pembaca zaman sekarang cerdas. Sedikit saja ada kesalahan dalam menulis sesuatu, sering kali akan mendulang beberapa komentar, baik komentar negatif maupun positif. Meskipun di awal, tak ada niat buruk sekalipun. 

Kesimpulannya, saya hanya ingin mengajak gerakan puasa media sosial yang bertujuan agar kita lebih ektrem lagi dalam menjaga hati selama 30 hari di bulan Ramadan. Kita lebih banyak fokus pada kebaikan, bukan sebaliknya. 

Lantas, bagaimana caranya puasa media sosial untuk menahan diri ketika Ramadan ini?

Adakah tip atau trik jitu yang mampu mengerem jari kita supaya tidak keseleo lagi?

Ada banyak cara kok. Bahkan sangat mudah dipraktikkan. Mau tahu? Kurang lebih begini pengalaman saya saat di zona nyaman beberapa bulan lalu. 

1. Klik tombol rem pada Jempolmu dari Godaan Nyinyir 

Jika kita diminta untuk menahan ucapan, tak jarang beberapa orang akan menasihati dengan istilah "Mulutmu adalah Harimaumu." Begitu juga dengan media sosial yang isinya beragam orang. Sebuah ranah publik yang bisa dilihat siapa saja, dibaca siapa saja, dan ditanggapi siapa saja. 

Untuk itu, agar terhindar dari godaan "Jempolmu adalah harimaumu" sebaiknya sebelum mengunggah tulisan di laman media sosial, kita teliti terlebih dahulu. Apakah tulisan tersebut layak untuk dinikmati banyak orang? Apakah bisa memberi manfaat? Atau justru mengundang komentar julid unfaedah?

Nah, penting sekali memikirkan hal tersebut. Itulah kenapa kita harus memiliki tombol REM pada jempol kita. Sebagaimana fungsi dari rem itu sendiri, yaitu berarti menghentikan, menahan, dan memperlambat sesuatu. 

2. Hindari Perasaan Baper Saat Bercengkrama di Media Sosial

Wajar sekali jika manusia itu baper. Sebab Allah menciptakan hati adalah agar kita terlatih untuk peka dengan sesama. Tapi, memiliki perasaan berlebihan tentang sesuatu apalagi di media sosial, itu juga tidak baik. 

Demi terjaganya hati tetap bersih, menahan diri ketika Ramadan dengan tidak selalu mengandalkan hati dalam menanggapi postingan status teman di media sosial juga sangatlah penting. 

Media sosial adalah sebuah ruang publik. Jelas saja kita akan menemui bermacam-macam orang. Mulai yang kalem, cuek bebek, suka nyinyir, motivator dan lain-lain. Jika zona friendlist kita banyak yang suka nyinyir, kita nggak boleh gampang baper.  Parahnya, gara-gara baper kita membalas dengan cuitan atau status yang mengundang nyinyir juga. Alhasil, jadilah perang komentar maupun status di media sosial. 

Pernahkah berpikir apa manfaat kita baper berlebihan seperti di atas? Rasanya tidak ada manfaat justru mengurangi pahala kita saat bulan puasa.

3. Puasa Menyebar Berita yang Belum Pasti Kebenarannya

Era digital memang banyak bermunculan merek smartphone pintar. Sayangnya, kepintaran smartphone berbanding terbalik dengan penggunanya. Netizen zaman now memang kritis tapi kadang ada juga yang kurang realistis. Tak banyak dari mereka suka menyebar berita dengan membagikan tulisan yang belum teruji kebenarannya. 

Nah, di bulan yang penuh ampunan ini, baiknya kita bisa menahan diri ketika Ramadan dengan lebih bijak menanggapi sebuah berita. Bila perlu ketika berita tersebut hendak dibagikan, kita mencari tahu detil kebenarannya. 

Inilah esensi dari puasa media sosial itu sendiri. Sebab, dengan kita membagikan tulisan positif,  amal jariyah yang kita dapat. Sementara membagikan berita yang belum tentu benar alias hoax melainkan dosa jariyah kelak karena akan dimintai pertanggungjawaban. 

4. Tak Perlu Semua Orang Tahu Siapa Dirimu

Puasa yang diambil dari kata 'Shaum' dari Bahasa Arab bermakna menahan diri, mencegah diri, atau menjauhkan diri dari sesuatu. 

Nah, bulan suci penuh hikmah kali ini, tidaklah pantas jika media sosial hanya diisi dengan postingan curhatan yang lebih terkesan ke arah pamer ataupun riya. Contoh : dikit-dikit posting soal berapa surat dalam Al-Quran yang sudah dibaca, pamer sedekah, atau bahkan membagikan berita yang sejatinya tidak penting untuk dikonsumsi publik. 

Sebaiknya, belajarlah menahan diri ketika Ramadan dengan tidak perlu menunjukkan pada semua orang siapa kita, juga bisa dijadikan ajang berpuasa media sosial agar tidak mengundang prasangka bagi banyak orang. Tahan baik-baik jarinya, ya! 

Nah, empat hal di atas adalah poin penting yang harus digaris bawahi saat  bulan Ramadan ini. kita tidak hanya menahan diri ketika Ramadan dari rasa haus dan lapar saja. Menahan lisan dari ucapan yang tidak patut, menahan pikiran dari prasangka buruk, tidak pula menahan jari dari fenomena media sosial yang menggelitik emosi jiwa, tetapi juga menahan hati  agar lebih legowo dan bijak dalam menyikapi sesuatu. 

Jadikan Ramadan ini sebagai ajang perubahan ke arah yang lebih baik, menjadi manusia yang lebih produktif, dan menjadi orang yang senantiasa berpikir positif. Dengan melakukan sesuatu yang perlu dan meninggalkan sesuatu yang tidak penting. 

Semoga kita dimampukan mendapatkan berkah Ramadan ya, teman-teman😊

AGAR ANAK SEMANGAT BERPUASA? YUK, JALAN-JALAN SAAT PUASA DENGAN BERBURU 6 TAKJIL FENOMENAL INI

Jumat, 17 Mei 2019


Hello, Sahabat Malica. 

Tak terasa sudah 12 hari kita menjalani ibadah puasa, ya?

Bagaimana rasanya? 
Sudah istiqomah melakukan amalan-amalan yang ditargetkan? 
Sudah bisa hijrah menjadi pribadi lebih baik lagi? 

Apapun yang sudah direncanakan di bulan penuh berkah ini, semoga bisa menjadi bekal pahala di akhirat nanti. 

Nah, biar puasa makin seru, gimana kalau kita ngajakin si kecil  jalan-jalan saat puasa dengan berburu takjil fenomenal? Pasti seru, dong. Dan saya yakin, anak-anak tentunya semakin semangat lagi berpuasa. Iya, nggak? 

Benar sekali jika ramadan itu dikatakan sebagai bulan penuh berkah. Sebab, bisa kembali bertemu dengan bulan ramadhan saja sudah menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi umat muslim. Selain itu, bulan Ramadan juga kerap dikatakan sebagai bulan penuh rahmat serta bulan yang  asyik untuk jalan-jalan puasa sambil berburu menu takjil lezat yang menggoyang lidah. Betul? 

Makanya jangan heran, saat sore tiba Anda melihat banyak orang jalan-jalan saat puasa mulai dari anak-anak, remaja, bahkan yang tua sekalipun berbondong-bondong berburu menu takjil menjelang berbuka puasa. Aktivitas tersebut hampir sudah menjadi rutinitas melegenda saat momen ramadan tiba.  

Lantas, menu takjil apakah yang sering diburu dan menjadi favorit? Yuk, simak ulasan berikut!

1. Kolak Pisang 


Cookpad.com

Rasanya tidak afdol jika berbuka puasa tanpa kolak pisang. Menu takjil satu ini memang juara deh. Bukan hanya sebagai santapan lezat yang wajib tersaji di rumah, tetapi juga menjadi menu andalan yang dijual di manapun. 

Kolak pisang ini terbuat dari perpaduan santan, gula merah, potongan pisang dan sedikit ditambahkan daun pandan untuk penyedap rasa. Rasanya tak hanya manis tapi juga gurih, sebab saat dimasak wajib ditambahkan sedikit garam. Sangat pas untuk dinikmati saat berbuka, bukan? Dijamin, anak-anak pasti suka. 

2. Es Blewah


Pinterest.com

Nikmatnya es blewah selalu menggoda mata, terlebih untuk si kecil yang baru saja belajar puasa.  Tampilannya sederhana, namun segarnya sangat pas menjadi pemuas dahaga. 

Maka dari itu, es blewah menjadi salah satu minuman segar yang laris diburu untuk dijadikan menu takjil andalan. Selain rasanya manis dan dibandrol cukup murah, es blewah juga kaya manfaat untuk kesehatan tubuh, lho. 

3. Teh Manis


Cantik.tempo.co

Meski tergolong menu takjil sederhana, teh manis menjadi minuman segar paling popular di bulan ramadan. Bisa disandingkan dengan menu buka puasa jenis apa pun. Baik disajikan saat hangat maupun dingin, teh manis selalu menggoda segarnya. Sangat praktis diminum juga untuk teman si kecil saat jalan-jalan saat puasa bersama Mom dan keluarga. 

4. Es Buah 


Pinterest.com

Siapa sih yang tidak tergoda dengan segarnya es buah?

Bisa dibilang es buah ini menjadi minuman kesukaan sejuta umat, lho. Di luar bulan puasa, es buah ini sudah laris manis terjual. Anehnya, saat bulan puasa justru membludak. Para pemburu takjil seolah tidak mau terlewat dengan pesona es buah yang menggoda tenggorokan.  

Rasa yang manis perpaduan susu kental dan sirup, serta potongan aneka buah-buahan seolah mampu menjadi penghapus dahaga paling maknyus. 

Nah, dijamin jalan-jalan saat puasa dengan es buah ini ada di depan mata si kecil, tentu hari esoknya mereka akan meminta Mom untuk berburu takjil murah meriah ini kembali. Pun, semangat berpuasa akan semakin meningkat. Yah, mesti niat puasa si kecil sedikit banyak karena dia ingin es buah. Hehehe  

5. Kurma 

hwww.winnetnews.com

Perintah tentang makan yang manis-manis saat berbuka sudah begitu melekat di telinga umat muslim. Meski terbilang langka di negara Indonesia, buah kurma tetap menjadi menu takjil yang paling diminati. Tak hanya itu, rasa manis pada buah kurma ternyata mampu mengatasi rasa lemas akibat menahan makan dan minum saat berpuasa, lho! 

Untuk si kecil yang hobi banget makan  menu yang manis-manis, dipastikan pada acara jalan-jalan saat puasa bersama Mom dan keluarga kurma ini dijadikan makanan favoritnya yang harus disantap terlebih dulu. . Apalagi berbuka dengan kurma sudah menjadi budaya di bulan Ramadan. Pasti akan membuat kesan tersendiri untuk si kecil nantinya.

6. Aneka Gorengan

jateng.tribunnews.com

Siapa sih yang nggak suka sama gorengan? Menu takjil ini sudah menjadi primadona, lho. 

Setelah seharian menahan lapar, kebanyakan orang akan mencari camilan ringan untuk mengganjal perut sementara. Dan gorengan menjadi makanan ringan pertama yang siap disantap. Rasanya yang gurih dan bertekstur renyah membuat camilan satu ini sayang untuk dilewatkan. 

Apalagi jika sudah dicocol dengan saus sambal atau cabai rawit, duh, bikin lidah nggak mau berhenti mengunyah, guys! Si kecil pasti lahap banget makannya deh. 

Nah, itulah beberapa menu takjil paling laris dan sering diburu oleh banyak orang ketika sedang jalan-jalan saat puasa atau ngabuburit bersama orang tercinta. 

Kira-kira, dari keenam menu takjil buka puasa di atas, manakah yang menjadi favorit si kecil, Mom?  

INILAH 6 BERKAH RAMADAN SEBAGAI SARANA MEMPERBAIKI DIRI LEBIH BAIK

Rabu, 15 Mei 2019



Assalamualaikum, Sahabat Malica😊

Apa kabar ramadan tahun ini? Pasti banyak hal baru yang menyenangkan dan bikin nagih ingin berjumpa di bulan ramadan tahun depan, bukan?

Bukan hal baru lagi jika ramadan selalu datang dengan sejuta berkah yang melimpah. Jadi tak heran jika seluruh umat muslim di dunia menyambutnya penuh suka cita, bahkan ada juga beberapa negara menyambut kedatangan ramadan dengan tradisi-tradisi khas yang disajikan secara unik dan megah. Hal tersebut semata-mata dilakukan guna mendapat berkah ramadan yang hanya bisa dijumpai selama satu tahun sekali.


Uniknya, setiap orang memiliki cara berbeda-beda dalam menjemput berkah ramadan tersebut.  

Katakanlah seorang pebisnis atau pengusaha sukses yang ingin mencari berkah Ramadan melalui kegiatan rajin bersedekah ke panti asuhan maupun anak yatim. Ada juga beberapa orang ingin lebih khusyuk dalam beribadah selama satu bulan Ramadan. 

Tak hanya itu, beberapa orang pun merencanakan one day one juz agar rahmat bulan Ramadan tersebut bisa didapatkan dengan mudah.

Lantas, bagaimana dengan saya?

Apakah bulan Ramadan tahun ini membawa perubahan bagi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik?

Kalau boleh jujur, dari bulan-bulan ramadan sebelumnya yang saya lalui, sepertinya tahun ini lebih istimewa dan menantang. Saya banyak mendapatkan berkah ramadan, meskipun baru berlangsung selama 11 hari. Saya menikmatinya dengan ikhlas,  rasa bangga sekaligus syukur berkali-kali. 

Tahun lalu, saya menikmati puasa bersama kedua anak sebagai ibu bekerja. Pagi hari, saya mengajar di sebuah lembaga taman kanak-kanak. Sementara pada waktu siang hari hingga menjelang buka puasa, saya mengajar di sebuah bimbingan belajar swasta. Hampir bisa dihitung berapa kali saya menikmati santap buka puasa bersama anak-anak selama satu bulan. Hehehe

Sedangkan tahun ini, ada sedikit perbedaan yang patut disyukuri. Walaupun tetap bersama dua anak saja menjalani ibadah puasa, tetapi saya bangga sebab puasa tahun ini bisa menjadi full mom menjaga anak-anak di rumah sekaligus memantau bagaimana mereka bisa kuat belajar berpuasa seharian. Inilah salah satu berkah ramadan yang menurut saya sangat istimewa.




Sebenarnya bukan hanya itu saja sih. Ada beberapa kebahagiaan lain yang ingin saya bagikan kepada sahabat Malica yang masih setia membaca tulisan di blog receh ini. Bukan kebahagiaan yang bermakasud riya atau pamer, bukan juga merasa lebih baik dari yang lain, tetapi lebih kepada pengakuan pada diri sendiri "Oh, saya bisa ternyata" dan siapa tahu mungkin ada yang bisa mengambil hikmah berkah ramadan dari pengalaman sederhana saya ini.

Penasaran kan, ya? langsung saja deh!

1. Menjadi Ibu yang Lebih Sabar

Berkah Ramadan pertama yang saya dapat adalah menjadi sosok ibu yang lebih sabar. Dari puasa pertama, Allah sudah memberikan bungkus permen yang insyallah rasa manisnya tak kalah dengan isi permennya.

Si sulung resmi didiagnosa mengidap penyakit Lymphadenitis Granulomatosa Tuberculosa atau lebih dikenal dengan TB kelenjar getah bening. Tak hanya sekali, saya mengecek kesehatan si sulung. Saya harus bolak-balik ke rumah sakit mulai dari puasa pertama sampai puasa hari ketujuh baru jelas tindakan pengobatan apa yang harus saya ambil.

Wuah, sejujurnya bikin sport jantung. Tapi bagaimana lagi, hanya saya yang dimiliki si sulung di rumah. jadi mau tidak mau, sebagai ibunya harus melakukan apa pun untuk kesembuhan dia.

Saya, yang aslinya tipe nggak sabaran, mendadak 180 derajat harus berwajah kalem membujuk si sulung agar mau melakukan tes patologi, tepatnya tes pertama gagal karena si sulung menolak dengan tangisan yang tak kunjung reda. 

Hari selanjutnya, saya kembali ke rumah sakit bersama si sulung setelah semalaman penuh memberikan segala macam afirmasi supaya tes patologi berjalan sesuai rencana.

Suara yang biasanya melengking saat berbicara dengan si sulung, juga mendadak kalem bak putri dari tanah keraton. Tak hanya itu saja, jam makan si sulung yang biasanya lebih dominan jika rasa lapar mulai melambai-lambai, barulah dia beranjak memanggil ibu dan meminta makan, mendadak harus diubah lebih disiplin waktu.

Sekilas dilihat Nampak ribet, ya. hehehe

Namun bagi saya, justru bungkus permen ini menjadi sarana belajar untuk mengubah diri lebih baik lagi.

2. Mendadak Jadi Chef Andal

Wuah, poin ini sebenarnya membuat saya ragu. Hampir mundur maksimal di hadapan dua bocah di rumah. "Bisa nggak sih saya menyiapkan menu kesukaan yang enak dan lezat untuk mereka?" begitulah gumam kata hati saya. hahaha

Bisa dibilang saya bukan tipe ibu yang ribet. Memberi makanan anak harus disajikan beberapa menu, baru deh mereka mau makan. Bukan tipe saya banget. hehehe 

Saya adalah tipe ibu yang praktis dan sederhana. Saya cukup menyajikan menu satu atau dua jenis lauk pauk, sayuran, buah, dan minuman segar saat puasa.

Yes, sesimpel itu.

Bagi saya, buat apa menu makanan banyak tapi nggak dimakan sama anak. Mending secukupnya tapi sekali habis dilahap. Yang penting sayuran wajib ada. Sehari saja nggak masak sayur, saya bisa diprotes anak-anak. Karena sejak usia 6 bulan saat MPASI diberlakukan, sayur apa pun sudah menjadi sahabat mereka.

Apa berkah Ramadan di sini?

Saya tiba-tiba menjadi ibu yang rajin memasak seolah-olah seperti chef andal. Setiap kali hendak memasak,  saya wajib membuka resep di cookpad guna mendapatkan rasa yang berbeda setiap harinya plus lezat di lidah anak-anak tentunya. Meski fakta berbicara bahwa ikan yang dimasak tetaplah sama. hihi

3. Lebih Istiqamah dalam Beribadah

Karena bisa full di rumah, jadi saya memberlakukan aturan baru pada anak-anak. Kali ini soal ibadah salat dan mengaji. Biasanya memang mereka sudah mengaji di taman bacaan Al-Quran yang ada di desa, tapi untuk bulan puasa kali ini diliburkan. Akhirnya, saya pun mencoba meminta anak-anak mengaji satu halaman setelah salat dan diulang-ulang.

Sayangnya, saya nggak bisa mengajak mereka beribadah ke masjid dekat rumah sebab sepertinya mereka belum siap. Bukannya ikut jamaah bareng, eh, justru lari-larian bareng teman-temannya. jadi, saya pun cari aman agar tidak membuat gaduh di masjid, solusinya ke masjid hanya saat salat tarawih saja. Hehehe

Qodarullah, aturan baru ini bisa istiqamah sampai puasa ke-11 berlangsung. Sungguh berkah yang luar biasa bisa mengajak anak-anak belajar menjadi lebih baik perihal beribadah. 

4. Lebih Rajin Menjalankan Salat Sunnah

Tak dimungkiri, bulan Ramadan adalah bulan suci yang penuh ampunan dan keberkahan. banyak umat muslim berlomba-lomba untuk mendapatkan rahmat di bulan ramadan ini, termasuk saya. 

Biasanya salat sunnah dhuha dan tahajud masih bolong-bolong, Alhamdulilah di bulan berkah Ramadan kali ini saya mulai  belajar kembali memperbaiki diri dengan rutin menjalankan salat sunah tersebut.

Tidak ada maksud untuk pamer ataupun lainnya. Ramadan kali ini saya memang sudah memantapkan hati untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya. Segala amalan yang bisa saya lakukan, tentu dengan usaha keras saya berusaha terus melakukannya secara istiqomah, baik ibadah sunnah maupun wajib. Saya hanya berharap, "Ya Alllah, semoga amalan-amalanku diterima di bulan ramadan kali ini. Ya Allah, semoga apa yang saya lantunkan setiap malam padamu segera datang tepat pada waktunya."

Tentu sudah menjadi keinginan semua orang, bukan? 

Doa doa sederhana yang saya minta kepada Allah. Dan semoga diijabah. Amin

5. Sadar untuk Berbuat Kebaikan

Sambil mengajarkan si kecil bahwa berbuat baik tidak selamanya harus berupa uang. Memberikan sedekah nasi saat acara buka bersama di desa, juga sebuah kebaikan kecil yang wajib disyukuri. 

Kebetulan, hari ini bertepatan dengan acara rutin buka puasa bersama satu minggu sekali di desa, dan saya terlibat di dalamnya untuk menyiapkan beberapa bungkus nasi untuk sore nanti.

Tak disangka, si bontot, anak perempuan saya antusias sekali membantu. Sejak bangun tidur tadi pagi, dia sudah membantu saya mengupas bawang merah dan bumbu masak lainnya untuk persiapan sore nanti.

6. Mengencangkan Planning One Day One Juz

Benar-benar menjadi berkah ramadan yang istimewa. Alhamdulilah, rencana yang menjadi daftar list beberapa bulan yang lalu, ternyata berjalan lancar di bulan ramadan ini. 

Sebenarnya bulan-bulan sebelumnya juga bisa sih menuntaskan planning one day one juz, hanya saja saya banyak alasan dengan kesibukan sendiri. Duh, jadi malu nulisnya. Hihi 

Tak disangka, puasa ke-11 sudah ada 11 juz yang bisa saya khatamkan. Bukan hanya senang bisa menepati janji pada diri sendiri, selain itu ada juga ketenangan dalam hati. Alhamdulilah

Keenam berkah Ramadan ini sungguh di luar nalar diri saya pribadi. Tapi jika hingga saat ini saya mampu melakukannya, itu semuanya karena kehendak Allah. Allah telah menuntut saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.  

Melalui Ramadan tahun ini, Allah memberikan sarana perbaikan diri agar saya menjadi muslimah sebenar-benarnya muslimah sesuai yang diajarkan dalam Al-Quran dan Hadist.

Sebaik-baik penolong saat kita butuh adalah Allah. Jalan terbaik yang bisa kita jadikan panutan adalah jalan baginda Rasullulah yang nantinya akan membimbing kita meraih surganya Allah.

Sebaik-baiknya bekal untuk mencapai surga Allah adalah bertakwa. Dan untuk mencapai semua itu kita harus melakukan sebuah amalan yang dibarengi dengan kesabaran penuh.

Semoga kita semua dimampukan, ya. Semangat! 

Salam sayang dari Malica😊

MENGHAPUS JEJAK MASA LALU BERSAMA BANK MUAMALAT INDONESIA. AYO HIJRAH, YUK!

Kamis, 02 Mei 2019

Dulu, saya pernah berpikir, kenapa hidup ini tidak adil.

"Salah saya di mana?"
"Kenapa Allah menguji hidup saya seberat ini?"

2014 adalah tahun bersejarah dalam kehidupan saya. Seberapa kuat berusaha untuk menghapus kelamnya jejak masa lalu, yang saya dapat hanyalah sakit hati dan menyalahkan orang lain saja. Saya seringkali mengeluh dan mengeluh hingga tanpa sadar justru membuat diri ini semakin jatuh dalam lubang keterpurukan.

Meruginya, karena terlalu fokus dengan ujian hidup yang sedang saya hadapi, saya lupa memahami hakikat dari ujian tersebut.

"Kenapa harus saya yang mengalaminya kala itu?"
"Ada apa dengan  pernikahan saya?"
"Kenapa saya harus jatuh pada lubang hitam yang bernama perpisahan?"

Hingga suatu hari, saya pun disadarkan oleh seorang teman agar memperbanyak intropeksi diri. Sebab, Allah menguji seorang hamba pasti ada alasan di baliknya. Mengoreksi diri pun tak perlu bingung harus dimulai dari mana, bisa dari perkara remeh yang sudah saya lakukan sehari-hari.

Misal, kita mengaku beriman dan bertaqwa tapi kenyataannya menjalankan ibadah salat subuh saja sering sekali kesiangan. Saat adzan berkumandang, dan kita sedang sibuk melakukan sesuatu. Bukannya menghentikan pekerjaan tersebut, justru kita lebih memilih menomor duakan panggilan Allah tersebut. Dan lagi, bagaimana hubungan baik kita dengan manusia? Sudahkah sesuai dengan yang diajarkan Allah dalam Al-Qur'an?

Astagfirullah ...

Saya benar-benar tertampar. Semua perkara kecil di atas hampir sering saya remehkan. Saya mengira hidup yang saya jalani saat itu baik-baik saja. Nyatanya, tidak!

Lalu, pantaskah untuk mengeluh?

Pantaskah berprasangka buruk?

Sejak saat itu saya mulai pelan-pelan mengubah diri, memperbaiki waktu salat, memperbaiki hubungan baik dengan orang tua, kerabat, dan teman-teman yang bersinggungan dengan kehidupan pribadi.

Yah, meski sudah sangat terlambat karena pernikahan sudah kandas.

Tapi bagi saya, tidak ada salahnya memperbaiki diri meski terlambat. Daripada kita sama sekali tidak mau mencobanya. Walaupun saat proses perbaikan diri tersebut kita telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup. Yakin, Allah tahu semua yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.

TITIK BALIK 

Dijelaskan dalam Al-Qur'an dalam surat Al-Baqarah ayat 286, yaitu:

"Allah tidak akan memberikan beban (Taklif) kepada seseorang di luar batas kemampuannya."

Di awal perpisahan itu terjadi, memang saya merasa sangat berat untuk melanjutkan hidup. Lebih banyak menghabiskan waktu sendiri di kamar tanpa mau berinteraksi dengan siapa pun, termasuk anak-anak.

Apakah saya mampu membesarkan dua amanah itu sendiri?

Keraguan dan ketakutan akan ketidakmampuan dalam diri selalu bergejolak dalam pikiran tanpa henti.

Namun, setelah saya berniat untuk mengubah diri, dalam arti hijrah secara kaffah atau menyeluruh. Bukan hanya perilaku dan penampilan yang mulai pelan-pelan saya perbaiki, tetapi juga hijrah hati dan pikiran supaya terus berpikir positif.

Bagaimana ayat tersebut di atas diturunkan oleh Allah?

Karena Allah yakin pada setiap hamba pasti mampu melaluinya dengan sabar. Ujian didatangkan bukan untuk menjadikan keadaan seseorang lebih buruk, melainkan Allah ingin menguji seberapa kuat iman tersebut bertahan agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Kemudian saya diingatkan kembali pada hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu tentang mencintai sesuatu sewajarnya saja.

"Cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi seorang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saja karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu."

Dari sinilah saya semakin mantap untuk berhijrah. Memulai kembali kehidupan baru dan berdamai dengan keadaan di masa lalu.

Saya pun mencoba mengambil peluang dengan berbisnis online. Mulai dari jualan baju dan berbisnis produk kecantikan dan kesehatan.

Awalnya sih, bisnis yang saya jalankan berjalan sangat baik, bahkan bisa dikatakan sangat lancar. Tapi entah apalagi salah saya dalam bisnis tersebut. Uang dari hasil berbisnis produk kecantikan dan kesehatan tersebut, raib ditipu teman. Uang hasil jerih payah saya selama beberapa bulan tak bersisa sama sekali. Padahal uang bisnis tersebut rencananya untuk tabungan anak saat mulai sekolah nanti.

Saya kembali didera musibah yang cukup pelik perihal keuangan. Tapi bedanya, kali ini saya tidak marah apalagi menyalahkan keadaan. Karena sudah memantapkan hati untuk Ayo Berhijrah, saya pun berusaha mencari akar masalah dan terus berpikir positif.

Dan benar, secara tidak sadar ada unsur riba pada bisnis yang saya jalankan. Makanya harta yang saya kumpulkan belum berkah. Akhirnya, tak mau berlama-lama terpuruk dalam masalah finansial, saya bangkit mencari peluang kembali serta lebih memantapkan lagi dengan keinginan berhijrah.



Berhijrah memang memiliki arti "Perubahan lebih baik" tapi bukan berarti saat ini saya sudah baik. Justru karena terus belajar, makanya saya ingin berhijrah terus menerus. Sebab hijrah itu berproses. Seperti halnya seorang preman kampung yang tadinya banyak melakukan kesalahan, kemudian memutuskan untuk bertobat. Tentu, keputusan tersebut butuh perjuangan keras, bukan?

Saya berhijrah karena ingin merasakan sebuah kebahagiaan atas keputusan saya sendiri. Sekaligus sebuah kedamaian hidup yang tidak saya dapatkan di masa lalu.

Beruntung, saya menemukan informasi tentang program AYO HIJRAH dari Bank Mualamat Indonesia. Yang memang sangat saya butuhkan sekali.


Apa itu AYO HIJRAH dan Latar Belakangnya

Menilik kembali arti hijrah, yaitu "lebih baik" maka #AyoHijrah adalah program yang didirikan oleh Bank Muamalat bertujuan untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk meningkatkan diri ke arah yang lebih baik dalam segala hal.

Dalam hal ini, islam bukan sekadar berbicara tentang hubungan makhluk dengan Sang Pencipta, tetapi juga terkait jalan hidup (Way of life). Sehingga dengan adanya program Ayo Hijrah ini banyak orang paham bagaimana menjalani hidup sesuai tuntunan islam yang baik dan berkah.

Sementara bank Muamalat Indonesia sebagai bank yang pertama kali murni mengusung perbankan syariah ini ingin mencoba menjadi agen penggerak semangat umat untuk terus-menerus meningkatkan diri ke arah ajaran islam lebih baik, sempurna, dan menyeluruh (Kaffah). Sehingga umat tidak hanya berhijrah dalam hal ibadah tetapi juga soal keuangan.

Apa Tujuan Gerakan AYO HIJRAH? 

Ayo Hijrah dibentuk dengan niat mulia oleh Bank Muamalat Indonesia, yaitu peningkatan kualitas hidup, baik secara individu maupun organisasi, agar semakin kaffah menjalankan syariat islam, khususnya dalam layanan perbankan syariah. Sebab, Bank Muamalat sendiri bercita-cita menyetarakan pertumbuhan nasabah bank syariah agar setara dengan kondisi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim.

Kenapa Memilih Bank Muamalat Indonesia?

Bank Muamalat Indonesia adalah Bank Syariah pertama di Indonesia yang resmi berdiri pada 1 November 1991.

Pendiri bank ini digagas oleh majelis ulama Indonesia atau lebih dikenal dengan MUI. MUI juga bersama-sama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan pengusaha muslim untuk membesarkan bank Muamalat Indonesia hingga akhirnya mendapat dukungan dari pemerintah Republik Indonesia. Maka, resmi pada tanggal 1 Mei 1992 Bank Muamalat beroperasi untuk memunculkan inovassi-inovasi baru demi kemajuan keuangan syariah kala itu.

Adapun beberapa inovasi yang sudah dilakukan sejak berdiri hingga saat ini antara lain:


  • Asuransi Syariah (Asuransi Tafakul)
  • Dana Pensiun Lembaga Keuangan  Muamalat (DPLK Muamalat)
  • Multifinance syariah (Al-Ijarah Indonesia Finance)
  • Share  e Gold Debit Visa 
  • Layanan E-channel seperti: M-Banking, ATM, cash management




Salah satu Bank baru dengan beberapa pencapaian seperti di atas, serta memiliki visi "The best Islamic bank and TOP bank in Indonesia with strong Regional Presence" tak heran jika Bank Muamalat Indonesia didaulat sebagai satu-satunya bank syariah pertama yang berprestasi.

Selain itu, cara kerja dalam hal pelayanan, bank muamalat juga patut diacungi jempol. Bagaimana cara mereka melayani para nasabahnya bisa dijadikan tolak ukur kenapa Anda harus menjatuhkan hati pada Bank Muamalat tersebut. Yaitu:


  • Pengelolaan dana di Bank Muamalat didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi syariah yang dikawal dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah
  • Bank Muamalat memiliki layanan yang memudahkan para nasabahnya, antara lain seperti Mobile Banking, internet banking, jaringan ATM, dan kantor cabang yang tersebar luas hingga luar negeri.
  • Bank Muamalat tidak menginduk pada bank lain, sehingga esensi syariah tetap terjaga. 

Dan kini, Anda pun akan dimanjakan oleh program baru dari Bank Muamalat Indonesia yang diberi nama gerakan AYO BERHIJRAH. Yang mana bentuk dari gerakan ini adalah berupa kegiatan-kegiatan yang mengajak masyarakat untuk meningkatkan kualitas diri dalam segala bidang agar hidup lebih baik dan berkah.

Kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam program AYO BERHIJRAH antara lain:


  • Seminar atau edukasi tentang perbankan syariah
  • Open booth di pusat kegiatan masyarakat
  • Kajian islami dengan narasumber dari kalangan ulama
  • Pemberdayaan masjid sebagai salah satu agen perbankan syariah

Dan Anda perlu tahu, sejalan dengan launching program baru AYO HIJRAH ini, ternyata produk Bank Muamalat juga berganti nama, yaitu:

  • Tabungan iB Hijrah
  • Tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah
  • Tabungan iB Hijrah Rencana
  • Tabungan iB Hijrah Prima
  • Tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah
  • Deposito iB Hijrah
  • Giro Ib Hijrah
  • Pembiayaan rumah iB Hijrah Angsuran super ringan dan Fix and Fix (Masih dalam proses pengajuan kepada Regulator/OJK)

Bagaimana? Sangat menarik, bukan?

Bahkan bisa dikatakan begitu menggiurkan program-program dari Bank Muamalat ini. Bagi siapa saja yang membaca pemaparan visi, misi, serta program dari Bank Muamalat tersebut, tak dimungkiri pasti akan tertarik untuk mengikuti apalagi jarang jenis bank di Indonesia yang mengusung konteks syariah, bukan? Sehingga manfaatnya sangat jelas bisa dinikmati oleh para nasabah.

Apalagi baru-baru ini, tepatnya tahun 2019 pencapaian gemilang kembali diraih dari Marketing Research Indonesia (MRI) dan infobank,  yaitu mendapat peringkat 1 dalam ajang "Satisfaction, Loyalty, and Engagement Award 2019 dan Golden Award Corsec & Corcomm Terbaik kategori Bank Publik."


Serta masih banyak lagi penghargaan atas prestasi Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2018 sebagai berikut :



Wah, saya jadi semangat dan mantap banget untuk berhijrah bersama Bank Muamalat Indonesia secara kaffah (Menyeluruh). Prestasi bejibun dengan layanan ramah dan menyenangkan. Sukses terus untuk Bank Muamalat Indonesia, ya.

Dan bagi Anda yang ingin tahu lebih banyak tentang Bank Muamalat Indonesia atau gerakan baru AYO HIJRAH, silakan cari tahu melalui link berikut:

https://www.bankmuamalat.co.id/

Semoga bermanfaat😊