Serba-serbi kehidupan di mata Malica

GURU BESAR DENGAN 1000 PELAJARAN

Selasa, 30 April 2019
Rick, jadi jelema ulah sarakah. Nu sarakah moal berkah (Jadi orang jangan serakah, kalau serakah tidak akan berkah)




Judul buku         : Yorick
Penulis                : Kirana Kejora
Penerbit              : PT. Nevsky Prospekt Indonesia
Tahun terbit       : 2018
Jumlah Halaman : 336 Halaman 
Nomor Edisi       : ISBN 978-602-528-830-2
Harga                  : 89.000 (P. Jawa) 


Setiap anak adalah istimewa. Terlepas kelahirannya diharapkan maupun tidak, anak tetaplah sebuah anugerah sekaligus amanah yang wajib dijaga kesuciannya. 

Ia terlahir fitrah. Hatinya masih suci dan bersih. Ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Maka, sudah selayaknya anak tersebut mendapatkan ganjaran dari julukan fitrah tersebut, termasuk orang tua yang mengasuhnya. 

Orang bijak berkata, akan menjadi apa anak kita di masa depan, itu tergantung pada pola asuh orang tua. Dan itu sangat dibenarkan bahwa kepribadian dan perilaku anak terbentuk sesuai dengan apa yang dilihat dari orang terdekatnya, yaitu orang tua. Tak jarang, lingkungan juga ikut andil dalam memengaruhi proses tumbuh anak. 

Anak yang memiliki karir bagus dan memiliki sikap yang santun, pertama kali orang yang mendapat ucapan bangga dan kagum adalah orang tua. Sebaliknya, jika anak tersebut memiliki kepribadian yang kurang terpuji, yang mendapat celaan dan hinaan pertama kali adalah orang tua. 

Mungkin dari sinilah Novel Yorick terlahir. Novel bertema keluarga tentang seorang nenek dengan cucunya dan sedikit berbumbu romansa ini ditulis berdasarkan kisah nyata oleh novelis ternama, yaitu Kirana Kejora. 

Sebuah kisah tentang perjalanan seorang anak laki-laki berasal dari desa kecil kecamatan Panjalu, Ciamis. Yorick namanya.  Bocah yang hidup dalam kubangan derita ini, sejak kecil hanya tinggal bersama nenek yang serba kekurangan. 

Berada dalam asuhan seorang single grandmother, Yorick kecil tumbuh menjadi anak yang mandiri, jujur, optimis, konsisten dan pantang menyerah. Walau sejatinya sang nenek sendiri memiliki fisik tidak sempurna, yaitu buta huruf, tetapi beliau mengajarkan pada cucunya untuk terus berilmu supaya mampu mengubah dunia dan selamat dunia akhirat. 

Hirup kudu nungtut elmu, keur kasalametan dunya aherat.
Hidup harus menuntut ilmu untuk keselamatan dunia akhirat. (Hal. 66)

Begitulah kebiasaan perempuan tua renta yang lebih akrab dipanggil Mak encum ini. Di tengah keterbatasannya, ia berusaha membangun dinding kokoh yang berupa kepercayaan untuk Yorick, dengan petuah-petuahnya yang terus saja diulang-ulang.

Selalu menyemangati untuk terus menuntut ilmu di sekolah dan mengaji sore hari di musala. Semua itu ia lakukan semata-mata untuk masa depan Yorick yang lebih baik. Walaupun nenek sangat tahu berapa kilo jarak yang harus Yorick tempuh dari rumah ke sekolah, betapa takutnya sang cucu saat berangkat ke Musala harus melewati kuburan dulu.

Baginya, orang miskin berilmu ilmu lebih terhormat daripada orang berharta tapi bodoh. 

Lagipula apa yang bisa dilakukan orang tak punya seperti dirinya, sekadar mewujudkan keinginan kecil sang cucu untuk mempunyai layang-layang saja, ia harus mengulang kata 'sabar' berkali-kali. Ia hanya bisa berharap dan berdoa agar apa yang diimpikan sang cucu tidak kandas begitu saja. 

Mungkin di masa lalu, saat melihat Yorick protes tentang keadaan mereka, ia hanya bisa berkata sabar. Tapi Mak Encum begitu yakin, bahwa ketika sang cucu dewasa kelak. Apa yang menjadi mimpinya, pasti akan bisa terwujud.

"Mak, kapan saya punya layang-layang?"
"Satu saat pasti punya."
"Ya, tapi kapan?"
"Ya, nanti."
"Nanti itu kapan Mak?"
"Sabar atuh."
"Sudah banyak sabarnya Mak."
"Kurang sabar namanya, kalau ngeluh terus begitu. Suatu saat kamu pasti bisa punya layang-layang."
"Pasti?"
"In sha Allah."
"Kok In sha Allah Mak?"
"Yah, kan memang kalau Allah mengizinkan, pasti kamu punya."
"Yang penting banyak minta ke Allah."
"Kan sudah Mak."
"Sudah, jangan protes terus."
"Jangankan layang-layang. Pabriknya pun, kamu bisa punya." (Hal.31) 

Sejatinya, Mak Encum memberi nasihat pada Yorick tentang keyakinan dan penuh semangat seperti di atas, bukan berarti mendahului kehendak Allah. Akan tetapi sebagai seorang hamba yang memiliki banyak kekurangan, terlebih bicara tentang finansial. Ia sangat sadar diri, dan satu-satunya cara agar tetap optimis melangkah ke masa depan adalah bermodal harapan, selalu berpikir positif, serta diperkuat dengan doa, insyaAllah nggak ada yang mustahil, bukan?

Seperti rumput yang tidak bisa memilih di mana harus tumbuh, tapi tetap bertahan di mana saja dia tertanam. 

Keluarga kecil mereka memang sangatlah sederhana, bahkan bisa dibilang begitu kekurangan. Namun Mak encum sama sekali tak ingin membatasi cucunya memiliki mimpi. Oleh karena itu, agar si Yorick berani melangkah ke depan, sang nenek selalu menutupi kekurangan tersebut dengan cara menghidupi cucunya dengan lautan kata semangat dan teladan agar senantiasa  bersyukur. Karena sekecil apa pun, syukur kata pertama yang harus diucapkan (Hal.69) 

Dan biarlah Yorick kecil mengkaji setiap kalimat nenek itu sebagai modalnya saat tumbuh dewasa kelak. 

Meski di balik ketegasan sang nenek dalam mendidiknya, ternyata ada rahasia besar yang ia sembunyikan. Sebuah rahasia yang mungkin sangat menyakitkan bagi Yorick. Tentang keluarga besar yang tidak pernah menginginkan kelahirannya ke dunia, termasuk kedua orang tuanya. 

Tak heran jika sejak kecil Yorick diabaikan, hanya neneklah satu-satunya orang yang peduli sekaligus menyayanginya. Namun, bagi nenek itu bukan hal penting. Selama ia masih bernapas, Yorick adalah tanggung jawabnya. Terlepas orang tuanya sendiri menginginkan atau tidak, ia nggak peduli. 

Hingga ujian kehidupan yang misterius itu datang tiba-tiba. Nenek harus rela melepas cucunya untuk mandiri sebab saat Yorick berusia 11 tahun, perempuan tua itu mulai sakitsakitan. Tanggung jawab pada sang cucu tidak bisa ia lakukan lagi. 

Waktu berlalu tanpa bisa terhenti , sebab waktu tak akan bisa terkejar, dan ia akan bisa mengubah sesuatu menjadi sesuatu dengan nada penuh kejutan dan lirik tanpa kendali. (Hal.83).

Saat waktu sudah berjalan dengan semestinya, rasanya kita mustahil mengejarnya. Hal yang sama dirasakan Mak Encum pada sang cucu. Rasa penyesalan begitu dalam karena sudah meninggalkan cucu semata wayangnya sendiri di Panjalu. Bukan berarti tak ada sayang, kasih, dan cinta. Nenek hanya ingin menunjukkan ketegasannya pada Yorick bahwa tak selamanya ia akan menemani sang cucu. Suatu saat jika ajal menjemput, mau tidak mau Yorick harus berjalan sendiri mencari jati diri. Di lain sisi, ia juga ingin melihat cucunya tidak menjadi sosok yang cengeng dan meratapi keadaan. Meski di tempat nun jauh di sana, hatinya retak. Separuh jiwanya hilang namun tetap ia tahan. 

Hingga waktu pun membuktikan. Lama berpisah dengan cucunya, tak disangka alam telah membentuk Yorick menjadi sosok yang tangguh. Dalam kejauhan sang nenek melihatnya bangga. Meski jauh dilubuk hatinya ada sedikit penyesalan, bahkan juga rasa rindu yang tak tersampaikan. Bahkan saat malaikat maut menjemputnya, keinginan Mak Encum bertemu dengan Yorick tak juga dikabulkan oleh kerabat dekatnya.

Miris, tapi inilah fakta dinamika kehidupan yang harus dilalui Yorick beserta neneknya. Menyakitkan dan penuh penderitaan. Meskipun demikian, apa saja yang sudah dilakukan sang nenek di masa kecilnya, telah mengantarkan Yorick dewasa menjadi sosok sukses, tangguh, dan bersahaja. 

Mak Encum adalah guru besar yang mengajarkan seribu pelajaran, malaikat tak bersayap, juga raja tanpa mahkota bagi Yorick yang tak mungkin tergantikan. 

"Aku bangga, walaupun aku tidak punya apa-apa, tidak punya keluarga seperti yang lain, tidak diajari dan dimentori, tapi aku punya Nenek yang tidak dimiliki orang lain. Nenek, adalah "Maha guru" dengan seribu pelajaran." 

Yang penting aku pernah memiliki Nenek, pemilik cinta tanpa batas dan tepi (Hal. 301)

Bagi saya, novel ini sangat inspiratif. Cocok untuk dibaca siapa saja terutama bagi Anda yang sedang mengalami keterpurukan di masa lalu, ujian hidup yang menggunung, serta hati yang dilanda keputusasaan. 

Dari kisah Yorick dan nenek mengajarkan kepada kita bahwa di balik kekurangan seseorang, tentu ada sebuah kelebihan yang bisa ditonjolkan, meskipun harus melalui perjuangan panjang. Asal ada niat dan tekad, pasti ada jalan untuk mencapainya.

Dan yang paling saya suka sekaligus membuat merenung beberapa jam setelah membuka lembar demi lembar cerita yang ditulis oleh Kirana Kejora adalah tentang filosofi peniti :

Peniti akan menusuk bila tertekan, ia pemersatu yang terputus, perekat yang terpisah. Lalu ia akan menutup, tak menampakkan diri setelah bisa menyambungkan sesuatu. (Hal.41)

Kesimpulan dari saya, peniti memang bentuknya kecil. Tapi dia memiliki banyak manfaat. Sebagai penyambung benda yang terpisah. Seperti hubungan Yorick dan nenek, raga memang terpisah tapi hati masih saling bertaut satu sama lain. 

Walaupun rindu tak bertepi, segala kata yang pernah Mak Encum ucapkan saat mendidik cucunya itu akan selalu menjadi sahabat  Yorick dan mimpinya. Ke mana pun ia melangkah. 


Overall, I love this novel so much ^_^ 


YORICK, ANAK TAK BERTUAN PANTANG DIPATAHKAN

Minggu, 28 April 2019

Judul buku  : Yorick
Penulis         : Kirana Kejora
Penerbit       : PT. Nevsky Prospekt Indonesia
Tahun terbit : 2018
Jumlah Halaman : 336 Halaman 
Nomor Edisi : ISBN 978-602-528-830-2
Harga : 89.000 (P. Jawa) 


Tak ada kisah yang sempurna. 

Sejak lahir, kita sudah menanggung nasib yang tidak bisa dihindari. Terlempar ke dunia tanpa ada pilihan, tanpa tahu dari mana dan mau ke mana. Jangankan ingin protes kenapa hidup ini tidak adil, dilahirkan dari rahim siapa, kita saja tidak bisa memilihnya.  

Inilah hidup, tak ada yang namanya tawar menawar. Juga tidak ada kisah yang sempurna. Ada bahagia yang disegerakan untuk menguji seberapa iman kita bertahan. Ada kesedihan dan penderitaan yang nyaris membuat kita ringkih, dan merasa tak pantas ada di dunia, hanya untuk menguji seberapa kuat mengasah rasa syukur pada-Nya.

Adalah Kirana Kejora, seorang penulis yang ingin berbagi cerita melalui novel Yorick. Novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata perjuangan seorang anak laki-laki dari desa kecil di kecamatan Panjalu, Ciamis, bernama Yorick. 

Novel unik dengan kisah menarik. Penulis sangat apik menyampaikan cerita yang berhasil mengaduk-aduk perasaan pembaca. Menyisipkan motivasi juga filosofi dalam setiap cerita, tanpa sedikitpun menggurui.  

Melalui Yorick, Kirana berbicara bahwa setiap anak yang lahir adalah seorang pemenang. Biar saja tertindas, tapi tak boleh menyerah. Biar saja kalah, tapi tak boleh patah. Sejatinya, banyak cara yang bisa dilakukan petarung tangguh untuk mengubah, bahkan melipat dunia. 

Keterbatasan fisik serta materi sama sekali tak menyurutkan semangat perempuan tua yang akrab dipanggil 'Nenek Encum' untuk tetap merawat Yorick. Sejak kecil, ia merawat cucunya dengan penuh kasih, cinta, dan perhatian layaknya anak sendiri. Tak jarang Yorick kecil mengeluh akan keadaan mereka, tapi nenek hanya bisa membalasnya dengan petuah. 

Yorick memang acapkali mendapat cacian, hinaan, serta perudungan dari teman sebayanya hanya lantaran baju seragam kekecilan, sepatu kebesaran yang tersumpal koran, serta kaus kaki bolong yang dipakainya saat ke  sekolah. 

Tetapi karena merasa berbeda dan rendah diri, Yorick tidak pernah tersulut amarah apalagi melawan. Ia memilih diam dan mengalah, membiarkan mereka bahagia dengan terus mengejeknya.  

Sekilas Yorick bertanya, kapan ia akan dibelikan mobil-mobilan seperti milik si Yayan?

Kapan ia akan memiliki layang-layang yang bisa diterbangkan? 

Tak ada jawaban pasti dari Mak Encum, hanya kata 'sabar' yang diucap berkali-kali dengan penuh semangat dan keyakinan. Ia tahu, menjawab kegelisahan sang cucu yang mulai protes memang tak mudah, tapi ia juga tak mau menyerah mengajarkan pada Yorick, bahwa setiap orang mampu mengubah hidupnya. 

"Jangankan layang-layang. Pabrik pun, kamu bisa punya. (Hal.30)

Kemenangan akan berpihak pada mereka yang membuang rasa keputusasaan

Jejak hidup Yorick memang cukup menyakitkan. Herannya, tak sekalipun ia merepotkan. Kalimat sang nenek selalu menancap dalam ingatan. Selama kita bisa, jangan sampai merepotkan orang. (Hal.51)

Bahkan saking melekatnya petuah nenek tersebut, saat usia 11 tahun, Yorick merawat neneknya yang mulai sakit-sakitan dengan penuh ketelatenan. Berusaha gahar dan mandiri walau dalam hati ia begitu lara dan cemas melihat perempuan tua yang sudah menjadi ayah sekaligus ibu baginya, terbaring lemah tak berdaya. Yorick tetap tidak mau merepotkan tetangga maupun orang lain di sekitarnya.

Tak banyak yang bisa Yorick lakukan, kecuali terus meminta pada sang pemberi kehidupan setiap kali mengerjakan salat. Ia berdoa dengan khusyu' sambil berderai air mata agar sang nenek segera disehatkan. Mak Encum yang lemah, hatinya pun retak. Ia tak bisa menahan air matanya menetes ketika melihat cucu satu-satunya, panik dan khawatir dengan kesehatannya yang semakin hari tampak  memburuk.

Alam memang sudah membenturnya dengan derita bertahun-tahun. Tapi ia tetap kokoh berdiri bak pohon yang tak mudah tertiup angin sebab ada sang nenek di sisinya menjaga. Namun berpisah dengan nenek, benar-benar membuat Yorick kecil ini rapuh  dan sebatang kara, seolah-olah membenarkan bahwa ia memang anak yang tak diharapkan kelahirannya. 

"Neneknya adalah napasnya."(Hal. 100)

Tak peduli berapa lama ia harus menunggu dan menanti. Wajah putihnya yang tampak mulai kelabu dan diselimuti keputusasaan, terus melangitkan doa supaya neneknya kembali. 
Hingga nasib baik pun berpihak padanya. Sang nenek datang menjemput, namun bukan kebahagiaan yang ia beri. 

Nenek Encum memang membawanya bersama ke Bandung. Sayang, ia tidak bisa tinggal serumah dengan Yorick.  Ini semata-mata ia lakukan demi masa depan Yorick. Ia cukup tahu, bahwa ia tidak sendiri. Ada kerabat yang masih bisa disinggahi. 

Membayangkan tinggal bersama paman-pamannya seperti nasihat nenek, hidup Yorick akan berubah. Namun justru penderitaan baru hadir bertubi-tubi. Diremehkan, dianggap benalu, bahkan dibilang biang kekacauan sudah kenyang ia dengar. Saat itu, Yorick hanyalah anak SMP yang dituntut manut dan nurut. Menerima, menjalani, melaksanai apa yang telah menjadi garis hidup sunyinya.(Hal. 127) 

Namun, ada masa di mana ia harus menjadi Elang. Terbang mencari jati diri walaupun keterbatasan ada dalam diri. Untuk pertama kali, Yorick kecil mengambil keputusan setelah hampir 3 tahun berpisah dengan Nenek, napas hidupnya. 

Berpayung langit, beralas kaki, Yorick terus mengikuti ke mana arah angin membawanya melangkah. Mencoba menghibur diri dengan berkata lantang, bahwa semua ini adalah takdirnya sebagai anak berumah alam berkeluarga dengan jalan. (Hal. 174) 

Tak masalah harus bekerja serabutan, asalkan bisa bertahan hidup. Nenek selalu mengajarkannya jujur, konsisten, mandiri dan pantang menyerah, maka menjadi buruh cuci piring, kuli angkut, tukang servis computer hingga programmer IT pun tak masalah. Yang penting  apa yang ia dapat itu halal, bisa hidup nyaman, dan tenang layaknya manusia normal yang ingin menata masa depan. 

Hingga tanpa disadari, kesetiaannya menjadi anak alam membawanya bertemu dengan saudara tak sedarah yang mampu menaikkan derajat hidupnya.  Adalah Rotten, Tejo, dan Iyan. Sahabat yang menjadi pijakannya saat menggelandang. Mereka juga orang-orang terdekat yang menjadi saksi jatuh bangunnya kerajaan kecil Yorick. 

Bermodal sebuah keyakinan yang bersinergi dengan kekuatan pikiran, akan bisa membawa diri ke puncak keberhasilan. (Hal. 250) 

Petuah nenek di masa lalu, lagi dan lagi menjadi pengantar langkah Yorick untuk menggapai mimpi-mimpinya. Akan tetapi, perjalanan hidup tetap misteri. Bisnis yang Yorick bangun tak selamanya berjalan dengan mulus. Ada masa di mana ia berada di atas, lalu tiba-tiba terjatuh  pada kondisi paling bawah hanya lantaran pengelolaan keuangan tak terarah. 

Kerikil-kerikil tajam menjadi sahabat perjalanan, Yorick tak pernah terpatahkan. 

Ujian kehidupan dimulai kembali. Yorick bangkrut dan meninggalkan utang milyaran rupiah. Setiap hari, debt collector bergantian datang ke rumah menagih utang yang harus segera dibayar. Bukan Yorick, sang petarung tangguh jika tak mampu melibas badai yang menjadi penghalang langkahnya. 

Tak pernah patah, tak akan menyerah, terus melangkah. Yorick, penyelam ulung muncul ke permukaan setelah mutiara laut berada dalam genggaman.(Hal.290)

Terlilit utang, tak lantas membuat Yorick berpangku tangan. Dengan mengandalkan seluruh kemampuannya, ia gigih berjuang menerima pekerjaan perusahan besar di Rusia. Walaupun sebenarnya, ia belum yakin bisa menyelesaikannya. 

Cukup dengan pembuktian sekaligus membenarkan  atas ucapan bijak Thomas Alfa Edison yang sukses melakukan penemuan  lampu bohlam sebanyak 999 kali. Artinya gagal 352 kali, ia masih memiliki kesempatan mencoba sebanyak 647 kali percobaan lagi. Setelah itu, ia baru berpikir ini mungkin gagal. (Hal. 285)

Perjuangannya membuahkan hasil. Proyek besar dari perusahaan Rusia telah dalam genggaman.  Utang pun terbayar lunas. Dan kini, Yorick kembali membangun perahunya yang sempat karam.

Yorick menjadi orang sukses dengan jaringan bisnis yang tersebar luas di beberapa negara, Nevsky Prospekt Indonesia. Pak Kin dipercayai sebagai leader yang mumpuni untuk mengatur perusahaan. Juga ketiga sahabatnya, membantunya untuk memperkokoh kerajaan Yorick lagi. Tapi sayang, bergelimang harta tetap membuat hatinya dirudung sepi.

Kebahagiaannya tak pernah utuh. Sebab Yorick belum bisa membahagiakan neneknya sampai ia berpulang. Padahal seharusnya, kesuksesan yang ia raih saat ini patut dipersembahkan pada Mak Encum, malaikat tanpa sayap sekaligus guru besar dengan 1000 pelajaran yang akan selalu ia rindukan. 

Kehampaan semakin menusuk relung kalbu seiring dengan rindu tak bertepi pada sang nenek, juga tentang jodoh yang tak kunjung datang. 

Menurut Yorick, hubungan cinta itu lebih rumit dibanding deritanya saat kecil dulu. Gagal menikah dengan gadis Borneo bernama Tia, Ia tak lagi mengejar apalagi mencari pengganti yang baru. 

Tapi takdir berkata lain. Tepatnya di Sungai Neva, Rusia, Yorick dipertemukan kembali dengan perempuan kedua di masa lalunya. Adalah Nevia, gadis pintar berparas cantik, juga kaya. Hatinya pernah terusik dengan sosok Nevia ini. Tetapi karena merasa tidak pantas, Yorick memilih pergi.  

Bukan peminta cinta, atau pengemis kasih. Baginya, cinta adalah ke sekian yang ia butuhkan, namun tak akan ia paksakan kepemilikannya. (Hal.274) 

Akankah hati Yorick berlabuh pada Nevia? Atau

Justru ia memilih bukan menjadi pemuja cinta?


Cukup musim saja yang dingin, bukan dirimu. Cukup musim saja yang panas, jangan hatiku. Cukup musim saja yang gugur, tidak cintaku. Bodohkah aku masih mencintainya Tuhan? (Hal. 44)



OPINI

Penulis yang ramah dan tetap membumi meski beberapa penghargaan sudah diraihnya. Adalah Kirana Kejora, penulis yang identic menyajikan kearifan lokal pada setiap novelnya. Salah satunya termasuk novel Yorick, yang alur ceritanya dibuka dengan penjelasan  mengenai latar, suasana, sejarah serta kebudayaan yang ada di Saint Petersburg, Rusia. Hal yang sangat berbeda dengan penulis lainnya. Meskipun demikian, lantas tidak membuat novel ini seperti karya nonfiksi sejenis artikel travelling. Sama sekali tidak.

Justru penuturan kearifan lokal yang begitu halus sehingga tanpa sadar pembaca diajak berkeliling menikmati indahnya negeri yang dikenal dengan sebutan negeri Beruang Merah. 

Walaupun di awal sempat agak bingung dengan alur maju dan mundur, beruntungnya penulis menyajikan dengan bahasa ringan yang mudah sekali dipahami. 

Hal menarik yang membuat saya semakin kagum, novel ini diselipi dengan diksi berima. 

Sore yang mendung, senja berjelaga, murung.

Malam yang temaram,semakin membuatnya muram. 

Setiap kejadian beruntun seringkali menjadi penuntun.

Dalam novel ini juga pembaca diajak mengenal sekilas bahasa sunda. Sempat bertanya-tanya, apa maksudnya? 

Walau tak ada catatan kaki di bagian bawah cerita, Kirana mengartikan maksud bahasa sunda masuk dalam barisan cerita. 

Tak hanya itu,  selain keunikan dari segi judul 'YORICK' saat kesan pertama sudah membuat penasaran untuk dibaca. Novel bersampul cokelat tua ini tampak elegan. Desain cover sangat sesuai dengan penggambaran sosok Yorick sebagai tokoh utama. 

Bagi Anda yang sedang dilanda keputusasaan, ingin menyerah, ujian hidup bertubi-tubi, dan hati yang kering, bacalah novel Yorick ini. Kalimat filosofi-filosofi hidup di dalamnya mampu membakar semangat sekaligus penyejuk jiwa. 


KRITIK

Nobody's perfect!

Meskipun sempat terhanyut dengan diksi dan jalan cerita yang mengaduk-aduk perasaan, nyatanya saya masih menemukan kata salah ketik dan kata tidak baku yang mengharuskan saya menjeda membaca sejenak dan melihat KBBI sekadar cek kebenarannya. Seperti:

Setidakya (Hal.29)
Menakhlukannya (Hal.229)
Aktifitas (Hal. 298) 

Dan seperti buku pada umumnya, biasanya penerbit menyediakan pembatas buku sebagai penanda. Entah kenapa di novel Yorick ini tampak berbeda. Sehingga ketika saya ingin berhenti membaca, terpaksa harus menandainya dengan pensil atau melipat ujung lembaran sebagai pengingat. 

Selain itu, ada bagian layout buku yang berdempetan atau tanpa jeda seperti sebelumnya. pada halaman 20 ke 21, 30 ke 31, 36 ke 37, 56 ke 57, tampak tak ada barisan kosong halaman sebagai penanda pergantian pada sub-bab.

Terlepas dari kekurangan di atas, tim YORICK sudah sangat kreatif, cerdik, dan inovatif dalam menjajakan bukunya di jagad literasi Indonesia.


SARAN 

Novel ini nyaris sempurna. Tetapi rasanya saran sekadar untuk perbaikan juga dibutuhkan. Untuk cetakan selanjutnya, alangkah baiknya jika diberikan pembatas buku. Bertujuan agar memudahkan pembaca sebagai penanda bacaan. 

Tentang penulisan yang mungkin salah ketik dan tidak baku, juga tidak ada halaman kosong sebagai penjeda pada beberapa sub-bab cerita, alangkah baiknya diteliti ulang sebelum naik cetak. 

Namun untuk keseluruhan, hanya satu kata dari saya 'KECE' untuk novel, penulis, juga tim managemennya. Yorick, semoga sukses film di layar lebar kelak. 

Dan sedikit menanggapi kenapa Mbak Kirana menuliskan kalimat ini dibuku yang saya beli,

'Untuk Kejora Malica, belajarlah dari Yorick.'




Simpel dan jelas, namun bermakna luas. Setelah membaca lembar demi lembar, saya banyak belajar banyak dari sosok Yorick ini. Bahwa benar adanya jika ingin mengubah masa depan, kita harus memaafkan apa yang terjadi di masa lalu. 

Tidak ada manfaatnya menyimpan dendam, karena sejatinya hanya menghambat jalan untuk maju ke depan. 


Terima kasih, Yorick!  

SERENDIPITY, Drama Ramaja Inspiratif dan Bikin Nangis!

Selasa, 09 April 2019
                          www.gamezone.co.id

Halo, sahabat Malica ^_^

Lama absen dari ngeblog nih, kok aku jadi kangen sama kalian, ya? Hehehe

Sebagai pemanasan, supaya semangat ngeblog membara lagi, sahabat Malica hadir dengan review film Indonesia yang diadaptasi dari novel karya Erisca Febriani. 

Ada yang tahu nggak, kira-kira film apa yang bakal aku review?

Yang pasti ini novel membekas banget, bikin mewek pula. Semoga sahabat Malica setelah baca review ini, nggak dilanda baper berjamaaah ya. Bisa jadi lautan air mata dong, nantinya. Hehehe

Oke. Kuy, lanjut. 

Film ini berjudul SERENDIPITY, kata penulisnya beberapa hari yang lalu saat ketemu di acara BEKRAF di Surabaya sebagai narasumber, Erisca bercerita bahwa novel yang dijadikan film ini berasal dari ide yang sederhana banget. Yaitu soal perudungan di sekolah yang kerap terjadi di kehidupan nyata. Di mana kisah ini terinspirasi dari kisahnya saat masa-masa SMA dan kisah para remaja lainnya yang cukup umum terjadi.

Sementara kenapa dia mengambil judul Serendipity?

Ide cerita memang sederhana tapi bagaimanapun Erisca ingin menyelipkan sebuah pesan bahwa dalam hidup ini sebenarnya banyak keajaiban atau kejutan yang tak pernah bisa ditebak. Termasuk kejutan terhadap sesuatu menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita. Jadi, saat dilanda masalah sebaiknya jangan membuatmu patah semangat. Karena keajaiban itu ada. Kejutan baik sudah menanti di depan mata. 

Itulah inspirasi dari judul SERENDIPITY yang kurang lebih memiliki makna sebuah kebetulan yang menyenangkan dalam hidup.

Gimana, menarik bukan?

Lebih menarik lagi kalau kamu baca review dari Malica, ya. Nih, sudah disiapin tisu yang banyak supaya nggak baper, lho. hehehe

SERENDIPITY, kata ini pernah popular di tahun 2001, yaitu tentang film drama romantis yang dibintangi oleh John Cusack dan Kate Beckinsale yang berkisah tentang takdir, apakah pasangan yang saling mencintai ini akan bertemu kembali atau justru kisah cintanya berakhir sedih. 

Berbeda dengan SERENDIPITY versi Indonesia yang telah tayang di bioskop pada 9 Agustus 2018 lalu. Film ini bercerita tentang seorang gadis remaja bernama Rani, yang sekejap saja hidupnya berubah setelah ayahnya wafat. Di mana sang ayah wafat dengan meninggalkan banyak utang. Mau tak mau, Rani dan Ibunya harus menanggung kepahitan itu. 

Tak ada pilihan saat rumah yang menjadi harta satu-satunya Rani dan Ibu sebagai tempat berlindung, ternyata harus tersita juga. Di sinilah bermula Rani  gadis remaja lugu- terpaksa menjadi Lady Escort untuk sebuah klub malam. 

Eits  tunggu dulu. Kisah ini tidak menjurus ke ena-ena seperti kalian pikirkan. Bukan sama sekali, lho. 

Rani tetaplah Rani. Dia tetap menjadi remaja seusianya. Meskipun sebagai Lady escort di klub malam, dia hanya bertugas untuk menemani si Om yang hobi banget berjudi. Kata si Om itu,  Rani adalah anak pembawa keberuntungan. Jadi setiap kali si Om bermain judi, dia selalu membawa Rani untuk menemaninya bermain. Sadisnya, si Om ini selalu menang judi, lho, berkat kepercayaan takhayul soal keberuntungan tersebut. 

Awalnya, hidup Rani baik-baik saja di sekolah meski dia berprofesi sebagai lady escort. Namun semuanya mendadak berubah, ketika kekasihnya yang bernama Arkaan tanpa sengaja memergokinya di klub malam. 

Nasib sial pun mulai menghampiri Rani. Saat itu juga Arkaan pun meminta Rani menemuinya di sebuah taman yang biasa mereka bertemu. Tanpa ba bi bu, tanpa banyak tanya , dan tanpa mendengarkan penjelasan Rani, Arkan marah besar. Dia merasa kecewa dan dibohongi oleh Rani. Dan mungkin karena pekerjaannya sebagai lady escort, Rani sama sekali tidak mengizinkan Arkan untuk mengantarkannya sampai ke rumah walaupun sudah hampir 6 bulan berpacaran. 

Malam itu memang Indah, tapi mendung bagi Rani dan Arkaan. Kisah asmara mereka putus begitu saja. Dua insan saling mencintai tapi bertekad untuk tidak saling menyapa. Dan hal yang paling menyakitkan, berita tentang lady escort ini menyebar dengan cepatnya di sekolah. Salah satu rival Rani bernama Lola mencuri video dari ponsel Arkaan dan mencuri kesempatan untuk menindasnya. Hingga Jean, sahabatnya pun ikut-ikutan menjauh. 

Hidup Rani semakin perih. Dia merasa sendiri. Andai saja ada pilihan yang bisa diambil, siapa sih yang ingin seperti Rani?

Di tengah kesendiriannya, ada murid baru gokil bernama Gibran. Bermula dari duduk sebangku, kemudian sifat Rani yang cuek dan tidak pernah senyum, lambat-laun membuat Gibran penasaran. Berbeda dengan Rani, Gibran yang selalu menguntitnya ke mana pun dia pergi. Justru Rani memilih menghindar. 

Namun siapa sangka, Gibran yang tadinya Rani hindari mati-matian, ternyata menjadi malaikat penyelamat hidupnya. Di lain sisi, Gibran memiliki perasaan pada Rani. Dia juga ingin membuktikan bahwa Rani adalah perempuan berharga dan istimewa. 

"Gue bisa membeli peralatan untuk studio musikku lagi di lain waktu, Ran. Tapi untuk menyelamatkan hidupmu, rasanya tidak bisa ditunda lagi," kata Gibran. 

Ah, so sweet banget deh. 

Perempuan mana yang nggak meleleh, sih, Gib? 

Sebegitu cintanya Gibran sama Rani, ya. Sampai dia rela berkorban apa saja. Ada nggak ya, remaja era milenial yang mau berjuang mati-matian untuk perempuan yang disayanginya? 

Kayaknya nggak banget deh. Hahaha 

Lantas, apakah Rani memilih Gibran setelah itu? sebab Gibranlah yang membayar utang ayahnya sekaligus menebus Rani supaya berhenti bekerja sebagai lady escort

Wah, nggak seru dong kalau Gibran dan Rani bersatu. Gimana Arkaan nantinya? Toh, kayaknya Rani masih suka tuh sama si mantan? Hahaha

Cerita Rani belum usai. 

Meskipun telah berhenti menjadi Lady escort dan bekerja di salah satu Kafe milik pamannya Gibran, ternyata tidak membuat hidup Rani baik-baik saja. Justru berita hoax yang tidak benar serta perudungan dari beberapa teman-temannya di sekolah semakin merajalela. 

Kepala sekolah mengeluarkan Rani tanpa mencari tahu kebenarannya. Tentu saja Rani kecewa. Dia merasa tersisih dan menjadi korban. Saat-saat mendebarkan inilah membuat Arkaan sadar. Bahwa dia masih sangat menyayangi Rani. Tapi karena Ego dan gengsi, dia memilih menjauhi Rani. 

Sedangkan di lain kesempatan, Gibran mati-matian memperjuangkan hak Rani sebagai siswa yang menjadi korban hoax, supaya nanti tidak ada korban lagi di sekolah. Dia mengajak demo semua siswa, bahkan juga beberapa guru. 

Siapa cewek nggak melting hatinya lihat perjuangan Gibran?

Tentu saja Rani. Dia kagum memiliki teman seperti Gibran, hanya teman. Karena hatinya tidak untuk Gibran. Arkaan lah lelaki yang sangat dia inginkan untuk mengambil hatinya kembali. 

Lantas, seperti apa kelanjutan hidup Rani setelah itu? Apakah Gibran atau Arkaan, yang akan dipilihnya untuk menempati ruang hatinya yang kosong? 

Silakan beli versi novelnya di toko-toko buku terdekat, ya. Semoga saja novel best sellernya masih nangkring cantik di sana. Di atas hanya sebagian cerita yang aku ulas. Masih ada cerita Ibu Rani dan Ayah Arkaan yang tak kalah seru untuk dinikmati kisahnya. 



Oh ya, ngomong-ngomong soal tokoh nih. Aku suka banget sama sosok Mawar Eva De Jongh di sini. Dia benar-benar memainkan perannya sebagai Rani, seorang anak remaja yang tetap kuat karena keadaan. Dia tidak mengeluh dengan keadaan pelik yang aslinya telah merenggut masa-masa indah saat remaja. Dia begitu tegar menghadapi takdir hidup. Tapi setelah Gibran, yang diperankan oleh Maxime Bouttier, memberikan ruang padanya untuk menumpahkan rasa sakit, perih, dan tersisih yang selama ini dia pendam sendiri. Saat itulah dia baru benar-benar mengeluarkan air mata.

Bisa menjadi contoh dan bahan renungan anak remaja sekarang, bahwa kehidupan itu selalu berputar. Tidak selamanya hidup kita akan berada level tertinggi. Tanpa diduga bisa juga hidup kita berada di level terendah. Dan mau tidak mau memang harus dihadapi.

Begitu pun dengan Maxime, aktingnya gokil, gila!

Dia cool abis di film serendipity ini. Meski dia tahu Rani menolak cintanya, dia tidak menyerah bahwa kapan saja Rani membutuhkan tempat bersandar. Dialah tempat ternyaman yang akan membuat Rani tersenyum kembali. Jarang ada cowok begini, kan? hahahaha

Two thumbs pokoknya buat Mawar dan Maxime. Hihi

Untuk Arkan yang diperankan oleh Kenny Austin. Aku nggak suka banget sama karakter dia yang suka cepat menyimpulkan sesuatu. Jadi kelihatan cemen banget. Hihi

Cowok gentle kan, nggak seharusnya begitu ya?

Kalau memang dia benar-benar sayang sama Rani, harusnya dia tanya dong alasannya kenapa dia menjadi lady escort? Bukannya malah diputusin gitu aja, Bang. Sakit tahu! Hahaha

But overall, film remaja ini cakep banget. Sedikit romantisme dan lebih menyelipkan pesan moral positif bagi penikmat film dan novelnya. Proud of Erisca Febriani, yang sudah menghadirkan novel bergizi untuk kalangan remaja.

Oke, sahabat Malica.

Semoga review receh ini bermanfaat ya. Ambil positifnya, buang negatifnya. Sedikit quote ya dari saya :

'Kamu tidak bisa memilih akan hidup seperti apa. Tapi selama kamu bisa menerima takdir dari Sang Maha Esa.  Menjalaninya dengan penuh rasa syukur, keajaiban yang tak terduga akan menghampirimu, meski tanpa kamu memintanya.' (Malica Ahmad)

Salam Cinta Malica. See you ^_^