Serba-serbi kehidupan di mata Malica

REKAM JEJAK SANG PENULIS TANGGUH INFINITY LOVINK

Kamis, 16 Agustus 2018
                    

Jika ada yang bertanya sejak kapan saya menulis dan kenapa saya harus menulis? 

Jangan harap akan mendapatkan sebuah jawaban yang manis seperti penulis kebanyakan. Di mana cita-cita mulia mereka adalah:

Menulis ingin berbagi kebaikan
Menulis ingin menginspirasi
Menulis ingin mengukir keabadian
Menulis ingin menjadi seorang penulis terkenal.  

Apakah saya juga begitu? TIDAK! 

Saya menulis sejak mengalami patah hati.  Di mana saat itu jiwa dan raga ini benar-benar sedang melemah. Lebih suka menyalahkan diri sendiri ketimbang intropeksi.  

Yup, begitulah saya yang dulu. Jauh dari kata baik dan sekarang pun masih terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.  

Mungkin sejarah saya dalam memulai menulis sedikit konyol. Menulis karena patah hati dan ingin membuktikan pada seseorang bahwa saya jauh lebih baik ketika tidak bersamanya lagi.  

Tepat. Awal 2017 saya terjun ke dunia literasi. Bermula ingin menulis sebagai sarana pendukung memajukan bisnis jaringan, lama kelamaan saya terbuai dengan asyiknya menulis.  

Dalam hati saya berkata,"Menulis itu asyik ya. Kok, rasanya beban dalam hati ini terangkat. Apa yang menjadi uneg-uneg dalam hati bisa dituangkan semua lewat tulisan." 

Nah, ternyata saya sudah terkena virus suka menulis.  Perlahan-lahan menulis membuat saya candu. Sehari saja tidak menulis, saya gelisah. Pikiran tidak tenang,  dan uneg-uneg yang menjadi beban itu tidak bisa tersampaikan.  Inilah yang saya sebut menulis menjadi terapi jiwa. 

Dengan menulis jiwa saya benar-benar tenang. 
Menulis membuat saya menjadi lebih sehat. 
Menulis membuat saya selalu berpikir positif. 
Menulis membuat saya mampu melupakan mantan. Hihi

Yang benar saja bagian terakhir itu. Hihi

Pelan tapi pasti saya mencoba menyelami dunia literasi lebih dalam. Yang awalnya menulis karena patah hati, sedikit terbesit suatu saat saya ingin menjadi seorang penulis.  Bisa?  

Ya, saya tidak bisa menjawab saat itu. Karena jujur, saya sendiri juga bingung.  Bisa atau enggak ya menjadi penulis nantinya.  

Hingga suatu hari saya dipertemukan dengan komunitas Infinity Lovink. Dulu, namanya bukan itu. #30dayswritingchallenge Penulis tangguh kalau saya nggak salah ingat.  

30 days writing challenge adalah kompetisi menulis yang diikuti oleh para Nyonyah. Ya, panggilan akrab dalam challenge tersebut adalah 'Nyah' . Di mana nanti tulisannya para nyonyah tersebut dianjurkan untuk diposting di facebook. Lalu, link facebook akan dishare pada grup whatsapp. Semua peserta wajib saling memberikan like dan komen pada status para nyonyah.  

Kemudian nanti tulisan kita itu akan dikoreksi oleh juri.  Kebetulan di Penulis Tangguh 2 saat itu jurinya hanya tiga orang, yaitu Capten Mentari Yusuf, Nyah Ruli dan Cekgu Risma. 

Saya memang suka dengan aura positif pada challenge penulis tangguh session 2 saat itu. Tetapi kegiatan di dunia nyata benar-benar sangat menguras pikiran dan tenaga. Jadi, saya pun gagal tidak bisa mengikuti challenge hingga akhir.  

Saya hanya berhasil menulis lima tulisan di day 1 sampai 5. Dan saya pun hanya bisa melongo di pojok kamar saat pengumuman 15 pemenang. Senang, haru,  sekaligus sedih bercampur menjadi satu.  

Senang karena berada di sekitar orang-orang positif.  

Haru, karena semangat para nyonyah dengan aktivitas bejibun di rumah namun tetap bisa menyempatkan untuk menulis. 

Sedih karena saya gagal. 

Namun justru dari sinilah semangat menulis semakin bergelora. Saya memantapkan hati untuk menjadi penulis. Ekspektasi yang cukup tinggi bagi saya yang tidak memiliki bakat dalam menulis. Juga sangat di luar kemampuan.  

Sambil menunggu dibuka kembali pendaftaran challenge #30dayswritingchallenge selanjutnya, saya menimba ilmu kepenulisan di beberapa komunitas lain.  

Ambisi? Tentu saja. 

Salah satu sifat buruk saya adalah menjadi pribadi yang ambisius. Orang tua memang mengajarkan ketika ingin mencapai sesuatu memang harus memiliki ambisi yang kuat. Pantang menyerah dan terus berusaha hingga sesuatu yang diinginkan tercapai. 

Pertama kali ilmu kepenulisan yang saya pelajari di salah satu komunitas Joeragan Artikel adalah Artikel. Bagaimana menulis artikel yang baik, bagaimana cara mendapatkan ide dalam menulis artikel, dan bagaimana membuat artikel yang mudah dan disukai pembaca.  

Misi 1 sukses. Duh, senengnya nggak karuan itu. Secara saya yang mengawali niat menulis karena patah hati dan sekadar untuk terapi jiwa, kemudian bisa belajar membuat artikel yang lumayan menguras pikiran. Sungguh salah satu kebanggaan yang luar biasa.  

Berlanjut pada misi 2 saat menunggu pembukaan challenge berikutnya adalah saya mencoba peruntungan dalam pembuatan antologi atau bekennya "Membuat buku kroyokan". 

Di sini saya bisa mengenal sekaligus terhubung dengan banyak penulis dari berbagai komunitas dan juga saling mendukung serta berbagi ilmu. Senang rasanya saat diumumkan sebentar lagi buku tersebut akan terbit. Antara percaya dan tidak bahwa nama saya akan terpampang nyata dalam buku tersebut. 

Hingga tibalah waktunya pembukaan challenge #30dayswritingchallenge session 3. Saya pun dengan percaya diri mendaftar dan berharap bisa lolos di urutan 10 besar.  

Yang namanya harapan tentu bisa terpatahkan jika diri kita dipenuhi dengan ambisi dan keangkuhan. Benar,  itu yang saya rasakan.  Betapa terlalu percaya dirinya saya bakal lolos menjadi seorang pemenang.  Bahkan,  RULES yang dijabarkan panitia dalam challenge tersebut saja tidak saya perhatikan.  

Plagiat! 

Yup, itulah yang membuat saya gagal. Sebagai penulis pemula yang sedikit berambisi, saya lupa akan etika menulis. Bahwasanya menulis itu memang harus ada hal yang benar-benar diperhatikan.  

Jika memang mau mengutip atau mengambil sumber tulisan dari orang lain, sedikit banyak harus dimodifikasi atau dituliskan sumbernya dari mana.  Dan saya sebagai penulis pemula yang baru sekitar beberapa bulan nyemplung di dunia literasi, belum terlalu memahami hal tersebut. Sungguh sangat menyesali hal itu. Seiring berjalannya waktu, saya semakin paham akan undang-undang plagiasi untuk penulis.  

Memang piala penulis tangguh 3 tidak bisa saya dapatkan, namun ada ilmu yang bisa saya tampung guna menjalani proses seorang penulis yang lebih baik. Yaitu, jangan menjadi pribadi yang terlalu ambisius,  sombong,  dan over percaya diri. 

Bukankah apa yang kita inginkan tidak selalu tercapai? 

Walaupun sejujurnya kegagalan tersebut sempat membuat saya down dan ingin berhenti menulis. Tetap saja saya harus bisa belajar bijak untuk mengambil semua hikmah pada challenge penulis tangguh session 3 waktu itu.  

Saya tidak menyerah dan terus saja belajar. Dua kali kegagalan dalam challenge yang diadakan Capten Mentari Yusuf itu, benar-benar membuka mata saya lebar-lebar.  

Menjadi penulis itu bukan hanya ilmu saja yang dibutuhkan. Pintar saja tidak menjadi jaminan. Penulis juga harus beretika. 

Saya pun belajar kembali merenungi perjalanan dalam menulis. Mengubah niat yang tadinya cuma sekadarnya saja menjadi lebih mulia lagi. 

Menulis untuk berbagi
Menulis untuk menginspirasi

Tak henti-hentinya belajar untuk menulis. Sambil menunggu pembukaan challenge session 4 yang diadakan INFINITY LOVINK, Saya mulai berani branding diri sebagai penulis di facebook.  

Yup. 

Akhirnya #30dayswritingchallenge sudah memiliki nama komunitas resmi.  INFINITY LOVINK dengan tagline "Connecting and Inspiring woman" yang maksudnya kurang lebih adalah menjaring para perempuan di seluruh seantaro dari Sabang sampai Merauke untuk menulis hal-hal positif dan menginspirasi.  No nyinyir di facebook,  No hujatan,  dan No sindir menyindir.  

Melihat logo cantik dengan gambar seorang wanita yang rambutnya tergerai serta tulisan INFINITY LOVINK itu membuat saya bangga dan menyesal. 

Saya bangga karena pernah 2 kali berturut-turut ikut andil di dalamnya.

Menyesal Karena pernah melakukan kesalahan yang tidak lain karena kecerobohan sendiri. Hingga tulisan selama 30 hari itu tak menghasilkan.

Tapi entah justru melihat perkembangan para member INFINITY LOVINK itu membuat tekad saya semakin kuat untuk menjebol pintu WnA (Writer and Author) 

WnA adalah singkatan dari Writer dan Author di mana pesertanya diambil dari peserta challenge pada #30dayswritingchallenge yang lolos menjadi
10 besar.  

Sekali lagi sambil menunggu challenge itu dibuka kembali,  saya melalang buana mencari apa yang seharusnya saya cari.  Bukan hanya ilmu kepenulisan saja,  tetapi juga dalam hal lain.  

Semua itu saya lakukan demi menghadapi challenge menulis dari founder Infinity Lovink. Semoga ketika nanti challenge ke-4 dibuka kembali, saya sudah menjadi pribadi yang lebih baik.  

Kalau nggak salah antara juli dan agustus 2017 challenge tersebut dibuka kembali.  Di mana saat itu saya kembali didera masalah. Saya harus terpaksa hijrah dari kota ke desa kembali demi sebuah misi yang harus diselesaikan.  

Misi hidup yang tidak mudah untuk dilalui karena menyangkut masa depan. Tapi dengan mantap saya memutuskan untuk mendaftar ke panitia untuk mengikuti challenge session 4. 

Tentunya tetap dengan semangat yang menggelora tetapi tidak lagi ambisius dan percaya diri lolos sebagai pemenang. Saya menyerahkan semua hasil pada Allah tanpa mengharapkan sesuatu yang lebih.  Niat hati hanya ingin belajar dan menambah kualitas diri dalam hal menulis tentunya.  

Benar. Setidaknya saya bisa belajar dari kegagalan sebelumnya dan belajar menjadi pribadi yang lebih rendah hati.  Karena pada dasarnya kesempurnaan hanyalah milikNya semata.  

Ditambah manusia hanya bisa berencana dan Allah penentu segalanya. Itulah yang perlu saya ingat. Sebagai muhasabah diri juga intropeksi supaya menjadi pribadi yang lebih legowo menerima kenyataan hidup yang lumayan sedikit kejam.  Hihi

Dan memang benar jika berbicara soal kenyataan hidup,  sungguh tidak bisa dinalar dengan logika. Terkadang sesuatu yang benar-benar kita harapkan sekaligus diyakini dengan sepenuh hati bisa saja tidak terwujud.  Kenapa? 

Bukan karena Allah ingin menghalangi harapan kita.  Bukan sama sekali. Allah hanya sedikit menguji kesabaran dan seberapa besar usaha yang akan kita lakukan seandainya rencana kita kembali gagal.  

Hanyalah tinggal 3 tema menulis yang harus saya taklukan. Sayangnya, saya kembali gagal dalam challenge menulis INFINITY LOVINK.  Sudah pasti sedih karena perjalanan sebentar lagi sampai di garis finish.  

Ibu saya sakit waktu itu. Kabar tak mengenakkan harus saya dengar.  Ibu harus menjalani operasi kanker otak.  Anak mana yang bisa mendengar berita seperti itu? 

Sementara dokter sudah menunjukkan tanda-tanda penyakit ibu cukup membahayakan dampaknya.  Saya yang tadinya begitu semangat menyelesaikan challenge hingga akhir, dengan terpaksa harus mengibarkan bendera warna putih. 

Maaf,  saya tidak bisa melanjutkan challenge sampai akhir.  Kalimat tersebut yang saya sampaikan kepada semua panitia challlenge. Saya juga meminta izin pribadi kepada Capten Mentari Yusuf.  

Tentu saja tidak ada pilihan. Para panitia dan Capten sendiri juga tidak bisa memberikan dispensasi. Sebab ini adalah kompetisi. Ibarat sebuah perlombaan,  jika seorang peserta sudah tak mampu mengejar ketertinggalan, itu artinya dia kalah.  

Itulah saya. Tanpa berpikir panjang saya memutuskan untuk berhenti mengikuti challlenge dan memilih fokus pada penyembuhan penyakit ibu. 

Saya menangis sebenarnya. Konsistensi menulis yang saya lakukan kembali gagal. Impian saya menjadi penulis kembali terpatahkan. Memang kapanpun dan di manapun saya bisa mengasah kemampuan menulis.  Bukan saja dari challenge INFINITY LOVINK ini saja.  

Saya bisa mengasah kemampuan lebih baik lagi dengan mengikuti lomba menulis atau lainnya. Tapi entahlah,  saya sudah terlalu setia dengan INFINITY LOVINK. Dari foundernya yang begitu mengayomi,  member-membernya yang rendah hati, dan virus positif dari komunitas tersebut selalu masuk ke hati.  

Alhamdulillah berkat doa semua teman, operasi ibu berjalan dengan lancar. Setidaknya keputusan saya untuk menunda mimpi itu tidaklah sia-sia.  

Yang menjadi pertanyaan adalah,

Apakah saya tetap menulis sejak kejadian itu? 

Apakah saya menyerah mengejar mimpi itu? 

Tidak. Jawabannya adalah tidak.  Sesuai dengan pesan Capten Mentari saat saya pamit mengundurkan diri,  saya tetap menulis. 

"Tetaplah menulis dalam keadaan apapun ya, Nyah. Siapa tahu dengan tetap menulis kamu tetap waras. Jiwamu tenang.  Jangan bilang mampet ide saat kamu merasa susah ya, Nyah. Justru terkadang ide bisa muncul dan akan menjadi tulisan yang "Wah" saat Nyonyah galau sekalipun. Capten percaya suatu saat Nyah Malica bakal menjadi penulis kok. InsyaAllah lain kesempatan Nyah Malica bisa bergabung di keluarga besar ILO."

Begitulah nasihat Capten untuk saya yang labil. Sejuk dan membuat tenang. Selain karena impian, saya menulis juga karena dia. Saya ingin seperti dia.  Menjadi wanita yang menginspirasi siapa saja. Pribadi rendah hati dan tidak mudah menyerah. 

"Kamu pasti bisa, Nyah. Aku sangat menyayangkan kamu berhenti di tengah jalan. Tapi apa pun itu semoga ibu cepat sehat dan Nyonyah bisa menulis di challenge berikutnya."

Ucapan salah satu panitia yang juga saya ingat. Dia salah satu sumber motivasi saya untuk tidak menyerah saat terpuruk. Dan dalam hati, saya bertekad untuk membuktikan ucapannya. Di challenge berikutnya, yaitu #30dayswritingchallenge session 5 saya akan ikut kembali. 

Alhamdulillah, challenge pun dibuka kembali. Sempat didera kebingungan apakah saya harus mengikuti challenge Kelima ini? 
Apakah saya kali ini akan gagal kembali? 
Apakah saya bisa konsisten dalam menulis? 

Ditambah dengan sesuatu hal yang sempat mematahkan kepercayaan saya akan ILO,  saya pun maju mundur untuk mendaftar kembali. 

Beruntung, Allah masih menjodohkan saya dengan komunitas INFINITY LOVINK ini.  Di challenge session 5 ini,  akhirnya saya lolos menjadi pemenang 10 besar yang bisa masuk ke WnA.  

Walaupun berada di urutan kelima,  saya sangat bersyukur.  Setidaknya perjuangan kali ini membuahkan hasil. Tentu tidak berjalan mulus begitu saja,  di challenge kelima tetap ada halangan yang mendera.  Tapi, saya berusaha untuk melewatinya.  

Sebagai ibu rumah tangga dengan berbagai kesibukan di rumah dan tempat mengajar, benar-benar saya bersyukur bisa menaklukan challenge menulis selama 30 hari. Setelah perjuangan panjang itu, saya pun bisa berkumpul dengan keluarga WnA lainnya.  

Keluarga yang hangat dan menyenangkan. Di dalamnya tidak sekadar berbicara tentang menulis.  Sesi curhat mencurhat juga ada.  Sesi guyonan hampir setiap hari kami lakukan.  

Tidak pernah bersaing antar anggota. Justru mereka saling menyemangati jika ada yang sedang mengalami masalah.  Memberikan apresiasi untuk member yang berhasil mewujudkan impian,  dan saling merangkul siapapun yang membutuhkan bantuan. 

Mungkin, inilah yang menjadi jawaban perjalanan saya bersama Infinity Lovink sejak dulu.  

Mungkin, Allah tidak menyatukanku dengan WnA sejak awal challenge karena Allah ingin saya belajar, belajar,  dan terus belajar.  

Mungkin, saat itu juga keangkuhan, ambisius, kesombongan masih melekat dalam diri sehingga saya belum pantas bersanding dengan para WnA yang selalu rendah hati. 

Dan masih banyak kemungkinan lainnya yang harus saya kaji ulang kenapa diri ini belum pantas untuk masuk ke WnA saat itu. 

Jadi inti dari tulisan saya dari awal hingga akhir adalah jadilah bunga yang indah dan harum tanpa harus menunjukkan harum dan indahnya bunga pada khalayak umum.  

Bunga adalah makhluk cantik yang tumbuh dari sebuah pohon.  Dia mengeluarkan bau harum dan memiliki tangkai,  kelopak,  benang sari serta putik.  Tempat lebah dan kupu-kupu menghisap madunya. Tak kalah, manusia juga mengagguminya.  

Namun bunga tetap menjadi bunga.  Walaupun kecantikannya tak terbantahkan. Wanginya tak diragukan lagi, dia tetap menunjukkan dirinya apa adanya.  

Tak jarang ada bunga yang baunya tidak harum, terlebih baunya busuk atau pahit. Tetapi bunga-bunga tidak harum dan busuk itu tetap berani menampakkan diri.  Mereka berani tampil apa adanya tanpa harus malu,  minder,  ataupun layu.

Dalam kehidupan ini kita bisa belajar dari bunga. Dari bunga kita bisa belajar untuk tidak menjadi pribadi yang suka berpura-pura.
Dari bunga kita bisa belajar untuk tetap rendah hati. Tidak perlu menunjukkan ke orang lain bahwa diri kita 'Wah' dan 'Hebat'. Jikalau memang harum, pastilah aroma itu tercium juga,  bukan? 

Saya pun mencoba mempelajari filosofi bunga itu dalam perjalanan karir menulis saya. Perlahan-lahan menghilangkan sifat yang kurang baik dan berusaha mengubahnya.  

Semuanya berproses. Tidaklah ada sesuatu yang instan. Satu hal yang perlu diingat seorang penulis adalah ketika suatu saat nanti penulis sudah melambung tinggi, hendaklah tetap menerapkan ilmu padi.  Dan penulis harus tetap beretika supaya tetap abadi. 

Salam sayang, ...