Serba-serbi kehidupan di mata Malica

MAYA - Sebuah Ruang Rindu yang Tercipta dari Keresahan

Selasa, 13 Agustus 2019

Judul buku : MAYA
Penulis : Tim Literasi MediaBerkarya
Penerbit : Gorga Pituluik
Tahun terbit : 2018
Jumlah Halaman : 200 Hal
Nomor Edisi : ISBN 978-602-52627-4-6
Harga : -


Sebagaimana pengertian secara harfiah, puisi adalah karya tulis yang menuangkan perasaan maupun pikiran penyair dengan memakai kata-kata bermakna kiasan atau imajinatif. 

Menurut Herman  Waluyo, puisi merupakan karya sastra paling awal yang pernah ditulis manusia. Sementara James Reevas berpendapat bahwa puisi adalah bentuk dari ekspresi bahasa yang memiliki daya pikat. Dan tutur  Thimes Carlye,puisi adalah ungkapan dari pikiran dengan sifat musikal. 

Membaca puisi-puisi yang terhimpun dalam antologi puisi berjudul "Maya" membuat saya seolah berada dalam sebuah restoran mewah dengan berbagai hidangan lezat yang memiliki rasa berbeda. Ada sajian yang rasanya manis, teramat manis, sedikit pahit, asam, dan keasinan. 

Paduan rasa yang cukup unik jika disantap secara bergantian. Satu hidangan saling melengkapi hidangan lainnya. Perfecto! 

"Maya" sebuah ruang rindu yang tercipta dari keresahan, yang menurut saya multitafsir jika dihubungkan dengan puisi-puisi yang ditulis oleh 200 penulis tersebut. Ada ruang rindu tercipta dengan makna yang luas dan tidak terfokus pada satu hal saja. 

Para penulis mengartikan rindu dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Rindu akan damainya negeri, rindu kehilangan kekasih, rindu terhadap kenangan masa lalu yang tentunya mengharu biru dan mengaduk-mengaduk perasaan. Sebuah keresahan yang tak mampu diungkap dengan lisan begitu lihai disampaikan melalui tulisan. 

Meski sapa lewat kertas yang mengait aksara jatuh terkoyak
Paten namamu akan tetap bersemayam nyenyak
Maka duduklah tenang di pangkuannya
Biar kutemui lagi kamu pada keabadian yang telah dirida-Nya. 

Suasana pedih cukup kental terasa di bait-bait puisi yang ditulis oleh Mila sari. Ada sebuah kerinduan yang tidak tersampaikan pada seseorang yang dia sayangi. Penyesalan teramat dalam tergambar jelas pada puisi berjudul Rindu di Sepucuk Surat yang Kandas.  

Kandas karena sang pujaan hati tak lagi dapat dinikmati wajahnya yang teduh. Sebab Sang Illahi mengambilnya lebih dulu sebelum si penulis menepati janji.

Berbeda dengan puisi karya Citra Meilana Rina Jayanti yang berjudul Manusia Zaman Now yang mana tergambar jelas bahwa dia rindu suasana yang damai sebelum dunia mengenal smartphone cerdas. Benda pipih yang bisa mendatangkan keberuntungan, juga malapetaka. Mampu mendekatkan yang jauh. Sebaliknya, menjauhkan yang dekat. Parahnya, benda kecil berukuran 10 inch itu akan tampak kejam karena kita bisa abai dengan orang-orang di sekitar. 

Manusia saling acuh tak acuh
Hanya aku yang dipedulikan
Jangan sampai aku terluka apalagi hilang
Hei, manusia!
Aku itu alat bantumu bertegur sapa bukan benteng pemisah
Aku tidak kejam, dan jangan membuatku seakan kejam
Aku ada agar kalian tidak saling melupakan saat jauh, bukan pura-pura lupa saat berjumpa

Bukankah bait-bait puisi di atas adalah realita kehidupan saat ini? Sungguh tak terbantahkan. Era digital cukup kejam. 

Dan ada lagi yang menggelitik. Ketika saya membaca puisi yang berjudul Elegi Tanah Ini karya Jee Muhammad, ungkapan satire terhadap negeri ini cukup bikin dada sesak. Saya seolah merasakan ada emosi marah yang berapi-api saat penulis mencoba merangkai sajaknya menjadi karya sastra indah. Di sini makna rindu tentang "Negeri yang Makmur Tanpa Janji-Janji" sangat tampak nyata menjadi harapan penulis. Namun faktanya, harapan itu telah kandas terlebih dahulu sebelum terwujud. 

Aku memang bukan petinggi
Bukan pencetus kebijakan atau petisi
Namun kutatap saudariku kini
Diberondong kemiskinan di sana-sini
Hati kecil untuk peduli
Dengan kata-kata yang semoga sadarkan hati
Bila hanya menduduki kangkang
Nenek jompo pengidap asma pun mampu melakukannya
Bila Cuma mendengar celoteh camar
Anak sekolah dasar pun selalu mendengarkannya

Ada banyak cara penulis menuangkan ide di kepala melalui tulisan yang berbentuk karya sastra. Rindu akan masa kanak-kanak yang indah tanpa beban masalah pun menjadi harapan ketika seseorang telah tumbuh dewasa. Masa kecil yang terlintas hanyalah kebahagiaan, keceriaan, dan hal-hal menarik yang sejatinya remeh, namun bisa tetap indah jika diceritakan. 

Dan Cicik Rosida mampu menyajikan sajak yang indah dengan judul Membaca Harapan khas kehidupan anak kecil tanpa beban kehidupan. Salam hormat buat penulis satu ini,  karena sajaknya yang ringan membuat saya tersadar bahwa rindu-rindu masa kecil ini tak akan pernah terulang. Maka, manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menikmati hidup agar lebih bermakna.  

Lalu, sore hari yang menyenangkan dengan berbagi celotehan
Bersama buku-buku berisikan kisah pangeran dan raksasa-raksasa yang menakutkan
Pertanyaan-pertanyaan yang penuh keingintahuan
Tentang para puteri dan penyihir yang kadang sama cantiknya
Atau sapu-sapu yang bisa berterbangan dengan mantra-mantrayang mengundang penasaran. 

Akan tetapi ada yang perlu diketahui, sebagaimana makna puisi yang memiliki makna multitafsir, bisa saja satu pembaca dengan pembaca lainnya memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mengartikan makna sebuah puisi. Tsah saja. Dan tidak menjadi masalah. Karya sastra itu indah. Dan semua berhak menikmatinya. 

KELEBIHAN 


Banyak kelebihan yang saya temukan dari buku kumpulan puisi yang ditulis oleh tim literasi mediaberkarya. Dari susunan bait per bait terlihat sangat runut dan rapi. Sajak berima yang enak sekali dibaca, dan setiap goresan aksara sarat makna. 

Dari layout buku juga terlihat eye-cathing. Cover buku yang ditampilkan cukup menjual sekaligus menggambarkan sebuah rindu yang tak selamanya berakhir menyenangkan. 

Dari sudut pandang saya pribadi menyimpulkan ada sebuah filosofi teramat dalam dari simbol wajah antara laki-laki dan perempuan.

KEKURANGAN 


No bodys perfect! 

Begitu juga dengan buku kumpulan puisi berjudul Maya ini. Sebenarnya tidak cukup banyak kekurangan. 

Hanya saja, saya sebagai penulis yang tidak begitu paham akan karya sastra, sajak-sajak yang terkumpul dalam antologi tersebut cukuplah berat dari segi makna. Saya harus membaca 200 puisi sebanyak tiga kali secara berulang-ulang demi mendapatkan arti yang Pas. 

But overall, saya sangat menyukai kumpulan puisi ini. Karena dengan membacanya, saya bisa memahami sastra yang terangkai dengan indah. 

Baca juga: 

Be First to Post Comment !
Posting Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9