SURAT UNTUK ORANG YANG MELUKAIKU

By Malica.com - July 24, 2018

                     


SIAL. Rasanya ingin kupanggil malaikat maut untuk mengambil nyawanya saja waktu itu. Kau tahu, kenapa? Dia itu wanita brengsek. Brengsek sekali! Bukan hanya kata-kata yang diucapkan, tetapi juga sikapnya brengsek.

Sekadar mengingat namanya saja, aku tak sudi. Oh, ya, jangan sebut namaku Bella jika aku bukan wanita yang egois dan keras kepala. Mungkin, inilah yang membuat hidupku selama ini tidak tenang. Bagaimana tidak, kenangan pahit di masa lalu belum bisa aku lupakan. Wajah orang-orang yang sudah melukaiku masih teringat jelas dibenakku.

Terkadang, aku juga marah dengan diriku sendiri. Entah mengapa penyakit yang namanya masa lalu dipenuhi dengan amarah dan kebencian tetap saja setia menemaniku. Aku sangat yakin, mereka pasti bersorak ria menertawakanku. Shit! malang benar hidupku.

****

Segalanya bermula saat ibuku terbaring lemas di rumah sakit. Wajah tirus tanpa bercak  yang biasanya merona, kini, terlihat sangat pucat. Sepasang mata coklat dengan bulu lentik pun mulai meredup. Anggota tubuh yang setiap harinya terlihat baik-baik saja, berubah sangat menyedihkan. Berbagai macam alat medis terpasang rapi pada tubuhnya.

Aku menatapnya lekat. Mencium tangannya berkali-kali, meskipun buliran bening ini tak mau berhenti menetes. Kulantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, berharap Tuhan memberikan keajaiban.

“Ibu, bangunlah. kau pasti akan baik-baik saja," bisikku lirih.

Tiba-tiba, tanpa aku sadari seseorang memperhatikanku di balik pintu. Dia menyeringai penuh kebahagiaan.

“Tante, kenapa tega berbuat seperti ini. Sebenarnya apa masalah kalian yang tidak aku ketahui?” tanyaku penasaran.

“Aku membenci Ibumu, sangat membencinya, Bella,” ucapnya penuh kemarahan.

“Kenapa, Tante? Kenapa?” tanyaku kembali.

“Kau tahu, sejak kecil nenekmu itu lebih sayang dengan Ibumu daripada aku. Padahal, aku juga tak kalah pintar. Aku cantik dan dikagumi banyak orang. Aku juga kaya. Tetapi kenapa aku selalu saja tersisih,” ujarnya dengan nada meninggi.

Sontak aku kaget dengan semua ucapan Tante. Banyak keganjalan dalam setiap perkataannya yang membuatku bingung.

“Tante, bisa katakan apa saja tentang Ibu dan Nenek padaku?"

“Ya, pasti akan kukatakan semuanya. Menutupi kenyataan hanya membuatku sakit hati,” jelasnya tanpa basa-basi.

“Bella, aku dan Ibumu memang saudara. Tapi kami berbeda Ayah. Mungkin Ibumu  tidak pernah menyadari jika selama ini ada kebencian dalam diriku. Karena aku terlihat sangat peduli dan sayang padanya, namun, kenyataannya tidak. Sejak kecil, wanita yang kau agung-agungkan itu selalu saja merampas hakku. Nenekmu tidak berlaku adil pada kami. Itulah kenapa saat Ibumu sekarat, aku enggan menolong dan membawanya ke rumah sakit," lanjutnya lagi.

Dadaku mendadak sesak. Rasanya langit hampir saja akan runtuh. Sulit dipercaya, Tante yang selama ini seperti malaikat penolong dalam keluargaku, ternyata menyimpan kebencian yang mendalam. Sejak saat itu, tak ada rasa iba dalam hidupku untuknya. Bahkan, aku berniat menghapus semua kenangan bersamanya.

****

“Bella, sudah tiga tahun ini Ibu belum berkunjung ke rumah tantemu. Ibu sangat merindukannya, Nak. Apa kau tak rindu juga padanya?” tanya Ibu dengan wajah penuh harap. Sedangkan aku, tak membalas sedikit pun ucapannya. Aku tetap saja mengabaikan Ibu yang duduk di pinggir kamar tidurku.

“Bella, kaudengar Ibu, kan?” ucapnya lagi sambil mengelus rambutku yang terjuntai indah.

“Untuk apa lagi kita ke sana, Bu? Bukankah dia orang jahat? Dia sangat membenci Ibu, Ingat?” tegasku.

“Ya, Ibu tahu itu. Tapi apa enaknya hidup dalam kebencian, Nak?”

“Mungkin Ibu bisa memaafkannya, tetapi aku tidak. Melihat wajahnya saja aku tak sudi," jawabku ketus.

“Bella, Anakku. Masih ingat kisah teladan Rasulullah yang Ibu ceritakan waktu kecil dulu?"

Aku menggeleng. Dan Ibu, dengan senang hati menceritakannya lagi.

“Dulu, ada seorang wanita tua yang sangat membenci Rasulullah. Dia berpikir Rasulullah adalah orang yang sudah membuat hidupnya tidak damai. Dia juga berdalih pemikiran Rasulullah yang mengatakan ‘Tuhan itu satu’ sudah memecah belah orang-orang yang hidup di zamannya." Ibu mendongengkan cerita dengan wajah semringah. Aku yang tidur di pangkuannya merasa begitu nyaman melihat wajah yang tak lagi muda itu.

"Yang mengherankan lagi, Dia beranggapan bahwa Rasulullah adalah orang yang sudah menjerumuskan orang-orang miskin, orang lemah dan budak-budak dengan mengikuti semua ajarannya. Kira-kira apakah Rasulullah marah dan membenci wanita itu, Nak? Tidak. Rasulullah sama sekali tidak membencinya, Nak, walaupun wanita itu mengatakannya langsung di hadapannya tentang rasa bencinya terhadap Rasulullah. Malah, Rasulullah tersenyum manis dan membantu wanita tua yang sedang melakukan perjalanan di gurun pasir dengan membawa beban barang yang cukup berat tadi dengan senang hati. Dan kau tahu apa yang terjadi dengan wanita tua itu selanjutnya, Nak? Wanita tua itu mengucapkan kalimat syahadat dengan sangat fasih dan mencintai Rasulullah dalam waktu singkat.”

Seketika tubuhku gemetar. Lidahku kelu. Airmata menetes tanpa sadar. Ast“Dulu, ada seorang wanita tua yang sangat membenci Rasulullah. Dia berpikir Rasulullah adalah orang yang sudah membuat hidupnya tidak damai. Dia juga berdalih pemikiran Rasulullah yang mengatakan ‘Tuhan itu satu’ sudah memecah belah orang-orang yang hidup di zamannya. Yang mengherankan lagi, Dia beranggapan bahwa Rasulullah adalah orang yang sudah menjerumuskan orang-orang miskin, orang lemah dan budak-budak dengan mengikuti semua ajarannya. Kira-kira apakah Rasulullah marah dan membenci wanita itu, Nak? Tidak. Rasulullah sama sekali tidak membencinya, Nak, walaupun wanita itu mengatakannya langsung di hadapannya tentang rasa bencinya terhadap Rasulullah. Malah, Rasulullah tersenyum manis dan membantu wanita tua yang sedang melakukan perjalanan di gurun pasir dengan membawa beban barang yang cukup berat tadi dengan senang hati. Dan kau tahu apa yang terjadi dengan wanita tua itu selanjutnya, Nak? Wanita tua itu mengucapkan kalimat syahadat dengan sangat fasih dan mencintai Rasulullah dalam waktu singkat.”

Seketika tubuhku gemetar. Lidahku kelu. Airmata menetes tanpa sadar. Astaghfirullah … siapalah diriku ini. Sungguh, selama ini aku sudah menjadi orang yang merugi dengan memanjakan kebencian tetap ada dalam diriku. Pantas saja hidupku tidak pernah damai. Untuk Memaafkan saja, aku masih begitu sulit.

“Bella, maafkan semua kesalahan Tantemu, Nak.  Ibu yakin dia tidak seburuk itu. Buktinya, dia masih sering menanyakan keadaan kita di sini,”  ucapnya lirih. Aku tetap terdiam dan merenungi semua perkataan Ibu.

“Bella sayang, Jika terlalu sulit memaafkan seseorang yang melukaimu secara langsung, cobalah dengan menulis sebuah surat tentang semua kekesalanmu dalam sebuah kertas, kemudian tuliskan juga permohonan maaf yang tulus kepada dia yang membuatmu terluka. Setelah itu, jangan ingat-ingat lagi tentang luka itu. Ibu pastikan beban yang ada dalam dirimu yang bertahun-tahun terpendam akan terasa lebih ringan, Nak. Kau juga akan merasakan kedamaian yang selama ini sudah menjauh dari hidupmu. Karena Bella yang kuat ini, sudah bisa bersyukur menerima semua yang terjadi tanpa menyalahkan siapapun.”

Hening. Ternyata, efek memaafkan sangat dahsyat dalam kehidupan seseorang. Sayangnya, aku terlambat menyadarinya.

“Aku akan mencoba saran Ibu, Akan kuhilangkan semua kebencian ini dan meminta maaf padanya agar hidupku lebih indah dan terhindar dari penyakit hati,” jawabku sambil tersenyum manis.


#30DaysWritingChallenge
#InfinityLovink

Noted : Tulisan ini pernah saya ikutkan challenge 30 hari bersama Komunitas Infinity Lovink.  Sekitar satu tahun yang lalu saat saya masih belajar menulis fiksi.

  • Share:

You Might Also Like

1 comments