Serba-serbi kehidupan di mata Malica

BALADA EMAK REMPONG KETIKA ANAK LAHIR BERDEKATAN

Selasa, 24 Juli 2018
                 

Percayalah, menikah itu enak. Kamu bebas membayangkan apa saja tentang dirimu beserta pasangan saat menikah. Berimajinasi seperti Putri Cinderella atau Snow White pun tak masalah.
Sebab di hari H pernikahanmu itu, kamu memang orang Istimewa. Kamu, putri paling cantik di antara para tamu undangan.

Yang nggak enak dan penuh dengan ujian itu adalah menjalani hidup setelah pernikahan. Bisa dipastikan kehidupanmu tidak sama seperti dulu waktu masih single. Perempuan yang sudah menikah, secara tidak langsung kebebasannya terbatas. Begitu juga dengan lelaki, yang tidak bisa berhuru-hara di luar karena ada seorang isteri yang menanti di rumah.

Belum lagi nanti ketika malaikat kecil itu hadir menjadi pelita dalam pernikahanmu,  otomatis akan ada peraturan baru. Rumah tanggamu bukan lagi berbicara tentang suami dan istri tetapi juga anak. Yang mana kamu akan menjadi orang tua. Seseorang yang akan menjadi panutan anak-anaknya dalam hal apa pun.

Saya ada pengalaman sedikit saat menjadi ibu muda enam tahun yang lalu. Alhamdulilah, usia pernikahan belum mencapai satu tahun,  Tuhan sudah memberikan anugerah calon bidadari surga di rumah.

Sebagai ibu muda, tentunya saya sedikit kerepotan. Awal mula kehamilan anak pertama hampir tidak pernah makan nasi.  Bau nasi saja sudah mau muntah. Jadi sehari-hari, saya hanya makan sayur, buah, susu, dan sedikit nasi liwet kalau mau.

Bekerja saat hamil pun terasa sangat berat. Seringkali perut mual, kepala pusing, dan muntah. Sehingga fokus bekerja pun terabaikan. Yang ada justru rasa malas bergelayut manja.

Berbeda dengan anak kedua, hampir sama sekali tidak merasakan rewelnya ibu hamil. Saya menikmati masa kehamilan dengan suka cita. Tanpa ngidam, muntah, maupun susah makan. Bekerja tetap semangat walaupun saat itu sambil momong si sulung.

Ya, jarak antara anak pertama dan kedua memang hanya selisih 18 bulan. 2 tahun belum genap.
Saat itu si sulung baru saja bisa berjalan, kemudian saya hamil sekitar dua bulan. Jujur, saya sempat mengalami stres berat.  Selain tekanan dari pihak keluarga yang sempat bilang, "Kamu nggak KB ya? Kasihan, anakmu saja baru bisa jalan. Kok, hamil lagi."

Ada juga beberapa omongan dari tetangga yang ngejudge saya kurang bisa mengatur jarak kelahiran anak. Belum lagi omongan-omongan lain yang seolah-olah kehamilan anak kedua bukanlah berita membahagiakan.

Okelah, jika mereka bilang saya tidak bisa mengatur jarak kelahiran anak. Faktanya memang saya sudah mengikuti program keluarga berencana, namun tetap saja bisa kebobolan. Lantas, apakah saya yang salah?

Rasanya tidak ada yang harus dipersalahkan. Karena saya percaya jika seorang wanita sudah menikah,  kemudian dia hamil. Itu merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang tiada duanya.

Banyak di luar sana yang sudah menikah bertahun-tahun dan mereka begitu menginginkan anak, tetapi belum juga dikabulkan keinginannya. Bahkan, ada juga yang rela melakukan berbagai cara dengan mengeluarkan dana ratusan juta. Seperti: mulai dari program bayi tabung,  adopsi anak, serta terapi kehamilan.

Oleh karena itu, saya bersyukur Tuhan dengan murah hati mengirimkan dua bidadari dengan jarak berdekatan. Walaupun sejujurnya dalam hati, masih ada rasa khawatir akan ketidakmampuan seorang ibu muda dalam mendidik anak nantinya. Di mana pengalaman dan ilmu yang belum cukup banyak.

Namun jika dipikir kembali, bukankah itu sebuah pertanda jika memang Tuhan percaya saya mampu menjadi seorang ibu? Makanya Tuhan memberikan amanah anak untuk kedua kalinya.

Lalu, apa yang perlu saya takutkan? Apa yang dikhawatirkan?

Kenapa saya harus menghiraukan omongan orang soal anak yang lahir dengan jarak cukup dekat?

Pengalaman bisa dicari, begitupun dengan ilmu tentang mendidik anak bisa dipelajari sambil berjalan. Dengan hati mantap,  saya pun menikmati masa-masa menjadi ibu muda yang memiliki anak dengan jarak berdekatan. Saya tidak memikirkan lagi tentang omongan orang.

Saya pun bahagia walaupun ketika merawat si sulung dan bungsu,  ada drama manis dan gurih yang harus dilalui. Misal,  ketika saya sedang menyusui si adik,  kakaknya menangis.  Dia menarik-narik baju dan minta duduk di pangkuan saya juga.

Duh, masa rempong yang mungkin tidak bisa saya lupakan hingga mereka dewasa nanti. Kisah lucu mereka yang patut saya abadikan sepanjang sejarah menjadi seorang ibu.

Lalu, adakah tips untuk merawat anak yang lahir dengan jarak berdekatan? Di mana rasa cemburu pastilah ada di antara mereka. Entah itu dari si kakak ataupun adik. Bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak ulasan berikut.

1. Dilarang Keras Membandingkan Antara Kakak dan Adik

Namanya anak, walaupun terlahir dari orang tua yang sama tetap saja memiliki karakter berbeda. Tugas orang tua adalah harus mengenali perbedaan karakter tersebut. Jangan sampai keceplos untuk membandingkan salah satu dari keduanya.  Sebisa mungkin hargai mereka, baik kekurangan maupun kelebihannya.

Misal: Wah, kakak pinter menggambar nih. Adik juga pintar menggunting kertas warna.

Usahakan keduanya diberikan pujian tanpa harus membandingkan. Apresiasi yang mudah tetapi tidak mudah dilakukan.

2.  Disiplin Mengabaikan Aduan Anak

Sebagai orang tua yang memiliki anak dengan usia yang tidak terpaut jauh, aduan kerap sekali terjadi. Tak heran karena usia balita rentan akan kecemburuan satu sama lain. Keduanya juga memiliki psikologi persaingan yang cukup unik.

Misal : "Bunda, Kakak barusan main tanah. Itu kan kotor."

Aduan yang cukup menguji andrenalin, bukan? Mendengar kata tersebut, orang tua yang sempat melakukan larangan agar tidak bermain kotor, tentu akan marah. Oleh karena itu,  cobalah untuk abaikan aduan tersebut. Supaya salah satu dari mereka tidak merasa terintimidasi.

Jikapun kamu tidak ingin mengabaikan aduan tersebut,  sebaiknya jangan dilakukan di depan salah satu dari mereka.  Karena hal tersebut akan memicu kecemburuan dan anak akan manja dengan terus mengadu akan kesalahan yang dilakukan saudaranya. So,  bijaklah!

3. Hindari Menjadi Hakim yang Sembrono

Sesuatu yang paling menggemaskan dari memiliki anak usia berdekatan adalah seringnya bertengkar. Betul?

Nah, ketika Kakak Adik saling bertengkar, sebaiknya kamu sebagai orang tua jangan sembrono dalam memutuskan siapa benar dan salah.

Diamlah sejenak dan tenangkan mereka. Ketika kedua anak sudah tenang, ajaklah berdiskusi. Kira-kira apa yang menjadi penyebab pertengkaran terjadi. Ajaklah mengutarakan pendapat masing-masing. Setelah itu,  berilah kesempatan pada anak supaya menyelesaikan masalah mereka sendiri. Dengan begitu,  anak tidak merasa terhakimi.

Itulah sedikit tips yang bisa saya bagikan berdasarkan pengalaman. Balada ibu dengan anak yang berdekatan memang tidak akan ada habisnya. Tetapi jika melewatinya dengan senang dan tanpa beban,  pasti akan mengasyikkan kok.

Semoga bermanfaat,  ya.  


1 komentar on "BALADA EMAK REMPONG KETIKA ANAK LAHIR BERDEKATAN"
  1. Laaah to samaan lagi.

    Aku dulu sampai tebal telinganya denger begituan. Jarak Nana sama Naya 22 bulan.

    Sekarang bahagia kok lihat mereka berdua ����

    BalasHapus

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9