Menyesap Pesan Moral dari Dongeng “Bawang Merah dan Bawang Putih”

By Malica.com - November 01, 2017


Bagaimana tidak membekas dalam ingatan jika memang pesan moral dalam sebuah dongeng sangat berpengaruh dalam kehidupan nyata!
Walaupun terkadang sebuah dongeng terkesan muluk-muluk dalam mendiskripsikan cerita, namun, dongeng syarat akan makna.

Ya, memang tidak bisa dipungkiri ada beberapa dongeng yang sudah membuat kita nyaris berharap terjadi juga dalam kehidupan nyata, dongeng Cinderella misalnya. Saya yakin beberapa anak kecil setelah membaca dongeng Cinderella, sedikit banyak mereka berimajinasi ingin hidup seperti Cinderella di masa depan. Menikah dengan pangeran tampan di sebuah kerajaan yang penuh kemewahan. Akan tetapi dongeng hanyalah dongeng, kemungkinan terjadi dalam kehidupan nyata belum bisa dipastikan. Iya, gak?

Nah, berbicara tentang dongeng saya ingin mengulas sedikit cerita tentang kisah Bawang Merah dan Bawang Putih. Menurut saya dongeng ini sangat berkesan dalam kehidupan saya di masa kecil. Tidak cukup sekali saja nenek saya menceritakan kisah mereka, tetapi hampir tiap malam menjelang saya mau tidur. Jadi, beberapa pesan moral dari dongeng ini sangat saya rasakan. Asyik, ya? Pastinya. Apalagi dongeng bawang merah dan bawang putih ini ceritanya cukup sederhana dan banyak hal positif yang bisa dipetik. Hanya saja sisi negatif tentang ibu tiri yang jahat sangat membekas dalam ingatan. Sehingga mendoktrin alam bawah sadar bahwasanya yang namanya ibu tiri itu semua jahat. Padahal tidak semua ibu tiri kejam, bukan? Hehehe

Baiklah kembali lagi pada kisah bawang merah dan bawang putih, ya.

Alkisah, di sebuah desa hiduplah sebuah keluarga yang sangat bahagia. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan anak perempuannya yang sangat cantik, ia bernama bawang putih. Ayah bawang putih hanyalah seorang pedagang biasa, namun hidup mereka tidak merasa kekurangan. Bahkan mereka rukun dan damai.

Akan tetapi semuanya berubah sepeninggal sang ibu bawang putih. Duka yang mendalam sangat dirasakan bawang putih dan ayahnya. Hingga akhirnya, seorang janda di desa tersebut bersimpati kepada mereka. Setiap hari dia datang ke rumah membawa makanan, membantu bawang putih  membereskan rumah, dan menemani ayah bawang putih mengobrol. Janda tersebut juga mempunyai putri yang bernama bawang merah.

Kemudian karena beberapa pertimbangan, sang ayah menikah dengan si janda tersebut.  Tujuannya adalah memberikan sosok ibu pada anak gadisnya agar mendapatkan kasih sayang seorang ibu kembali. Awalnya kehidupan mereka baik-baik saja layaknya keluarga yang bahagia. Namun, lama-kelamaan wujud asli dari ibu dan saudara tirinya kelihatan. Apalagi ketika Ayah bawang putih pergi berdagang. Semua pekerjaan rumah harus dibereskan oleh bawang putih. Sedangkan sang ibu dan kakak tirinya duduk manis bersenang-senang. Sayangnya kelakuan buruk tersebut tidak pernah diketahui sang ayah, dan bawang putih juga enggan menceritakannya.

Hingga suatu hari ayah bawang putih sakit keras dan meninggal dunia. Sejak saat itu ibu dan kakak tirinya semakin berkuasa. Mereka tidak punya hati dan rasa kasihan sedikitpun. Bawang putih jadi  semakin tertindas. Semua pekerjaan rumah bawang putih semua yang membereskan.  Hebatnya, bawang putih tidak pernah mengeluh. Dia tetap gembira dan bersabar dengan harapan suatu saat nanti ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Namun sayang sungguh sayang, sepertinya harapan bawang putih tidak akan terkabul. Pagi ini, sang ibu menyuruh bawang putih mencuci pakaian di sungai. Untuk menuju ke sungai, bawang putih yang malang harus melewati hutan. Berjalan setapak demi setapak dengan penuh riang, tak sedikitpun merasa marah atau kesal dengan perintah ibunya. Saking asyiknya menikmati pemandangan sekitar, dia tidak sadar salah satu baju kesayangan ibu tirinya hanyut terbawa arus sungai. Dan ketika menyadari hal itu, bawang putih pun mencari baju tersebut tanpa berhenti. Tetapi tetap saja dia tidak bisa menemukannya. Sepertinya baju tersebut sudah terlalu jauh dibawa arus sungai. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakan kecerobohannya tadi pada sang ibu tiri.

Kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ibu tiri murka. Dia menyuruh bawang putih mencari baju tersebut sampai ketemu. Bawang putih tidak diizinkan pulang jika baju tersebut belum ditemukan. Karena merasa bersalah, bawang putih menuruti saja apa yang diperintahkan ibu tirinya. Matahari sudah hampir tenggelam tapi bawang putih tidak melihat baju berwarna merah di manapun. Sampai di perjalanan, dia bertemu dengan penggembala kerbau, tanpa pikir panjang bawang putih bertanya padanya.

“Wahai, paman, apakah kau melihat baju warna merah yang hanyut di sungai ini?”

“Iya, Nak. Tadi aku melihatnya. Kalau kau lebih cepat mengejarnya, mungkin saja kau bisa menemukannya,” ujar paman.

Mendengar ucapan paman tadi, bawang putih bergegas mempercepat langkahnya menelusuri sungai tersebut. Tetapi bawang putih tak kunjung menemukannya juga sedangkan hari sudah mulai gelap. Dengan rasa putus asa, bawang putih tetap saja berjalan mencari baju tersebut. Sampai akhirnya dia melihat sebuah gubuk di tepi sungai. Dalam hati dia merasa sudah sangat lelah dan ingin beristirahat. Tak lama kemudian, bawang putih berjalan menghampiri gubug tersebut dan mengetuknya.

Kalian tahu siapa yang ada di dalam gubuk tua itu? Seorang perempuan tua. Bawang putih pun segera meminta izin agar dia bisa menginap di sana. Tak disangka, ternyata perempuan tua itu yang menemukan baju berwarna merah milik ibu tiri bawang putih.

Singkat cerita, bawang putih kembali pulang dengan membawa baju merah milik ibu tirinya dan labu kuning pemberian perempuan tua tersebut. Sesampai di rumah, alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu kuning itu terbelah. Ternyata didalamnya berisi emas permata yang sangat banyak. Melihat hal tersebut, Ibu dan kakak tirinya terkejut. Mereka pun berniat melakukan hal yang sama yaitu singgah di rumah perempuan tua agar bisa mendapatkan emas berlimpah seperti bawang putih. Namun, bukan emas permata yang ada didalam labu kuning melainkan binatang-binatang buas seperti kalajengking, ular dan lain-lain. Dan binatang-binatang tersebut menyerang bawang merah dan ibu tirinya sampai tewas.

Demikianlah sepenggal cerita dongeng tentang “Bawang merah dan bawang putih” dan ada beberapa pesan moral yang bisa kita dapat. Diantaranya:

  1. Dilihat dari sudut pandang bawang merah dan ibu tirinya sebaiknya jangan menilai orang dari rupanya, terkadang penampilan seseorang tidak menunjukkan kebaikan.
  2. Dilihat dari sudut pandang bawang putih, walaupun hidup dengan ibu dan kakak tiri yang jahat dan serakah, bawang putih tetap berusaha menghadapinya dengan senang hati. Bawang putih juga tidak pernah berputus asa untuk terus melakukan kebaikan.
  3. Dongeng ini juga mengajarkan bahwa tak seharusnya kejahatan dibalas dengan kejahatan. Namun sebaliknya, biarkan nasib yang akan membalas kejahatan pada seseorang yang telah berbuat jahat pada kita
  4. Pesan moral lainnya yang bisa diambil dari dongeng ini adalah orang yang tabah, sabar dan jujur seperti bawang putih akan mendapatkan ganjaran dari Tuhan yang berlipat ganda.                                                                         

  • Share:

You Might Also Like

7 comments

  1. Betul mbak Dwi arum. Melegenda dan membekas. Hehehe

    ReplyDelete
  2. Cerita dongeng memang menginspirasi anak-anak yang mengetahui jalan ceritanya.Berharap bisa hidup seperti seorang putri, dan tetap beranggapan bahwa ibu tiri itu kejam dan galak pada anak tirinya. Namun ada pula anak yang bisa mengambil hikmah dari dongeng dan berperilaku bak ksatria.

    ReplyDelete
  3. Mbak, saya selalu suka cerita bawang merah-bawang putih..Sarat makna dan pesan moral. Yang utama dampingi anak sehingga tidak menyerap sisi negatif, bahwa ibu tiri selalu kejam dan jahat.

    ReplyDelete
  4. Kalau dongeng bawang merah bawang putih. Pertama kali aq denger pas SD. Suka ada juga ceritanya di buku paket SD dulu. Iya, kegiatan mendongeng harus ada buat pembentukan karakter jg sejak dini dari pesan moral yang disampaikan lewat dongeng 😃

    ReplyDelete
  5. Pesannya dapet banget, nggak bosen dengan bawang merah dan bawang putih

    ReplyDelete
  6. Saya juga suka dongeng bawang merah dan bawang putih ini, Mbak Malica. Tapi kalau soal berkhayal dulu, saya berkhayal punya rumah biskuit dan permen.

    Semua pesan moral di atas, bisa kita pakai dan kembangkan dalam cerita lainnya. Soalnya 1 pesan moral, 1 ide, bisa ditulis jadi banyak cerita.

    Salam semangat menulis, Mbak Malica.

    ReplyDelete